Sherly menurunkan ponsel yang layarnya sudah gelap. Dina masih berdiri di ambang pintu, menunggu jawaban atas pertanyaan yang baru dilontarkannya. Udara kamar terasa semakin panas ketika keduanya saling menatap.
'Teman dari tempat kerja dulu, Mah,' jawab Sherly akhirnya.
'Kenapa langsung dimatikan waktu Mama masuk?'
'Karena Mama bikin kaget.'
Dina tidak segera percaya. Ia memang tidak mendengar suara orang di seberang telepon, tetapi cukup mendengar nada kesal Sherly sebelum pintu dibukanya. Menantunya itu terdengar sedang mengeluhkan sesuatu, bukan sekadar bertanya kabar teman lama.
'Kamu menceritakan keadaan rumah ini kepada siapa?'
Sherly merapikan ujung bantal, mengulur waktu sebelum mengatakan bahwa temannya hanya ingin mengetahui kabar setelah ia berhenti bekerja di restoran. Ia sengaja tidak menyebut bagaimana lelaki itu memanggilnya. Dina mengulurkan tangan, meminta melihat ponsel.
'Untuk apa, Mah?'
'Kalau memang cuma teman, kenapa takut?'
Sherly menarik benda itu ke pangkuannya. Ia mengatakan ada percakapan pribadi yang tidak ingin dibaca orang lain. Jawaban tersebut membuat Dina tersinggung. Ia sudah membiarkan Sherly menempati kamar anaknya, tetapi kini merasa diperlakukan seperti orang asing yang tidak boleh mengetahui apa pun.
'Jangan sampai Mama malu karena sudah membela kamu.'
Sherly menatapnya. 'Aku juga tidak senang harus terus menjelaskan kenapa Mas Ryan tidak bisa dihubungi.'
Dina membuka mulut, hendak membalas, lalu melihat menantunya memegangi perut. Ia tidak mengetahui apakah gerakan itu muncul karena tidak nyaman atau hanya kebiasaan. Ia akhirnya menurunkan tangan dan menyuruh Sherly makan jika belum cukup makan malam.
'Tidak ada yang mengusirmu malam ini. Tapi jangan bawa masalah lain ke rumah Mama.'
Sesudah Dina keluar, Sherly menutup pintu. Ia melihat riwayat panggilan terakhir dan mempertimbangkan menghubungi lelaki itu kembali. Keinginan tersebut ditahannya ketika mendengar langkah mertuanya masih berada di dekat dapur. Ia hanya mengirim pesan pendek agar lelaki itu tidak menelepon lagi malam itu.
Balasannya datang ketika ia baru meletakkan ponsel di kasur.
*Kamu yang terus mengeluh. Sekarang malah menyuruhku diam.*
Sherly menghapus tampilan pemberitahuan dari layar, tetapi tidak menjawab. Ia berbaring menghadap dinding. Kamar yang dijanjikan Ryan akan dipasangi pendingin udara masih sama panasnya, dan ia belum tahu berapa malam lagi harus tidur di sana.
Dina meneguk air di dapur. Ia masih memikirkan telepon tersebut ketika menyadari dirinya sendiri belum memperoleh jawaban dari Ryan. Berkali-kali ia menatap nomor anaknya, lalu mencoba menelepon lagi meskipun sudah tahu panggilannya tidak akan tersambung seperti biasa.
Ia akhirnya mengenakan sandal dan keluar sebentar ke rumah tetangga yang lampunya masih menyala. Dengan alasan ponselnya bermasalah, ia meminta meminjam telepon untuk menghubungi Ryan. Tetangganya memperbolehkan, menunggu di dekat meja sementara Dina menekan nomor yang diingatnya.
Ryan mengangkat pada percobaan kedua.
'Ryan, ini Mama. Kamu pergi ke mana sampai malam belum pulang?'
Di vila, Ryan duduk lebih tegak. Ia baru selesai membereskan sisa makanan bersama Syifa dan menerima panggilan karena tidak mengenali nomor tersebut. Syifa yang hendak membawa gelas ke dapur berhenti ketika mendengar sapaan itu.
'Kami sedang pergi beberapa hari, Mah.'
'Pergi ke mana? Mama menunggu dari sore. Sherly juga mencari kamu.'
Ryan melirik Syifa. Ia tidak ingin pertengkaran muncul pada malam pertama perjalanan yang harus dijalani demi kesepakatan. Ia mengatakan mereka akan pulang pada hari ketiga dan tidak meminta Dina menunggu lagi di depan rumah.
'Kalau Sherly butuh sesuatu bagaimana?'
'Bilang lewat pesan. Aku lihat kalau ada yang masuk dari nomor ini.'
Dina ingin menyuruh anaknya pulang saat itu juga, tetapi teringat toko yang masih mereka harapkan. Ia menahan kalimatnya dan meminta uang mingguan yang belum sempat diterimanya dibicarakan setelah Ryan kembali. Ryan menjawab singkat, kemudian menutup telepon.
Dina mengembalikan telepon kepada tetangganya dan mengucapkan terima kasih. Ia tidak menjelaskan mengapa nomornya sendiri tak dapat dipakai. Dalam perjalanan kembali, ia menahan diri agar tidak mengetuk pintu Sherly dengan marah lagi. Ia hanya mengatakan dari luar bahwa Ryan akan pulang pada hari ketiga. Sherly menjawab singkat, lalu kembali diam. Mereka akhirnya memperoleh satu kabar, tetapi kabar itu tidak membuat kamar lebih sejuk atau uang yang ditunggu lebih cepat datang.
Syifa meletakkan gelas di meja.
'Kamu mau pulang sekarang?'
'Tidak. Kita sudah sepakat tiga hari.'
Ryan menunggu pujian yang tidak datang. Syifa hanya mengambil kembali gelas dan meneruskan pekerjaan. Ia tahu lelaki itu bisa menahan keberatan ibunya selama masih melihat keuntungan di ujung perjalanan. Ia belum tahu apakah Ryan pernah mau melakukan hal yang sama hanya demi melindunginya.
Malam itu, di rumah Bagas, Athar sedang menghitung sisa cutinya. Hari kelima akan segera berakhir. Ia masih ingin memastikan Syifa dapat menemui orang yang tepat untuk mengurus masalahnya, tetapi tidak bisa begitu saja menghilang dari pekerjaan setelah izin seminggu habis.
Ia membuka percakapan dengan Satria dan menulis permohonan tambahan dua hari. Ia menjelaskan ada urusan pribadi di kampung yang belum selesai, menyebut kapan akan kembali, lalu melampirkan catatan pekerjaan yang dapat diserahkan sebelum masuk lagi.
Satria membalas beberapa waktu kemudian. Ia menanyakan apakah tugas yang harus diteruskan kepada rekan sudah lengkap. Athar memeriksa satu berkas, memperbaiki bagian yang belum jelas, dan mengirimkan kembali.
*Baik, tambahan dua hari disetujui. Pastikan masuk sesuai waktu yang baru.*
Athar membaca jawaban itu, lalu mengucapkan terima kasih. Ia menandai hari kesembilan sebagai hari terakhir di kampung dan menyiapkan kepulangan sore, sehingga dapat kembali bekerja sesudahnya. Ia menyimpan pesan persetujuan itu agar tanggal yang baru dapat diperiksanya lagi sebelum menyiapkan berkas serta barang untuk perjalanan pulangnya ke kota.
Bagas lewat di depan kamar dan menanyakan apakah ia masih sibuk. Athar mengatakan pekerjaannya sudah selesai untuk malam itu, lalu meletakkan ponsel. Ia belum mengirim pesan kepada Syifa. Sahabatnya sedang berada jauh bersama Ryan, dan ia tidak ingin menjadikan setiap malam sebuah pertanyaan tentang apa yang terjadi di antara mereka.