Pada bulan keenam perkawinan, Athar sudah mengenali jalan menuju cabang tanpa terus memeriksa peta. Penempatan yang diterima sebelum akad telah menjadi pekerjaannya sehari-hari. Ia masih harus ke pusat pada waktu tertentu, dan Selasa itu merupakan salah satunya.
Ia berangkat sebelum subuh setelah menyiapkan barang sejak malam. Syifa terbangun ketika ia memeriksa pintu kamar. Pria itu mengatakan akan mengirim kabar setelah tiba dan mengingatkan rencana kembali pada Rabu sore dari kota.
'Aku tidak menunggu untuk makan malam kalau kamu belum sampai,' jawab Syifa masih mengantuk.
'Iya. Makan dahulu. Perjalanannya lama.'
Syifa mengangguk dan kembali berbaring setelah suaminya berpamitan. Ketika bangun untuk menjalani pagi sendiri, ia menemukan cangkir yang sudah dicuci serta kunci cadangan berada di tempat yang disepakati. Ia menyiapkan sarapan secukupnya, lalu pergi ke toko.
Athar tiba di kantor pusat menjelang siang. Perjalanan dari kampung tetap memerlukan waktu, berbeda dengan jarak menuju cabang yang biasa ditempuhnya. Ia mengirim kabar kepada Syifa sebelum masuk untuk pembahasan mengenai penanganan pengiriman.
Dua pesanan di cabang sempat tertukar tujuan. Tim berhasil menarik serta mengantarkan kembali barang kepada penerima yang benar, tetapi perjalanan tambahan membuat biaya naik dan pelanggan menunggu. Athar membawa catatan kejadian serta perubahan yang telah dicoba selama dua pekan terakhir.
Satria membaca bagian yang menunjukkan penyelesaian, kemudian bertanya mengapa pemeriksaan awal tidak menemukan kesalahan. Athar menjelaskan bahwa orang yang mencocokkan barang melihat daftar berbeda dari yang dipakai bagian pengiriman. Mereka telah menyamakan rujukan dan menambahkan pemeriksaan sebelum kendaraan berangkat.
'Selama dua pekan dicoba, masih ada yang keliru?' tanya atasannya.
'Ada satu yang ditemukan sebelum dimuat. Barangnya dipisahkan dan diperiksa lagi. Tidak sampai dibawa ke alamat lain.'
Satria meminta hasil pemantauan berikut tetap dikirim. Ia tidak mengatakan seluruh cabang kini berjalan sempurna. Pembicaraan berlanjut pada pembagian tanggung jawab ketika orang yang biasa menangani pengiriman harus tidak masuk. Athar mencatat keputusan yang harus diteruskan kepada tim setelah kembali.
Di kampung, Syifa sedang menghadapi perubahan harga bahan dari salah satu pemasok. Ada penawaran yang belum disetujui pelanggan. Ia tidak ingin mempertahankan harga lama dengan diam-diam mengganti kualitas barang, tetapi menaikkan seluruhnya tanpa penjelasan juga akan mengecewakan.
Hadi membawa catatan jumlah bahan yang masih tersedia. Mereka membandingkannya dengan pesanan yang telah dibayar dan bagian yang baru berupa penawaran. Syifa menghubungi pengrajin untuk memastikan pilihan yang dapat dikerjakan, kemudian menelepon pelanggan yang perlu mendapatkan rincian baru.
Pembicaraan tidak semuanya berakhir dengan persetujuan. Seorang pelanggan meminta waktu memikirkan penawaran dan memilih tidak melanjutkan pemesanan saat itu. Syifa menutup telepon dengan kecewa, tetapi tidak menyuruh Hadi mencatatnya sebagai penjualan yang tinggal menunggu pembayaran.
Sore hari ia pulang lebih lambat setelah memperbarui daftar untuk pegawai. Ada pesan Athar bahwa pembahasan pertama telah selesai dan ia akan menginap sesuai pengaturan perjalanan tugas. Syifa membalas sudah di rumah, lalu menyiapkan makanan sendiri sambil membiarkan suara televisi menemani dapur.
Mereka menelepon setelah makan. Athar berada di tempat menginap dan baru selesai memeriksa catatan untuk pertemuan Rabu pagi. Syifa menceritakan penawaran yang batal. Ia terdengar masih kesal ketika mengatakan pekerjaan beberapa hari tidak menjadi pesanan.
'Kamu ingin aku dengarkan atau bantu memikirkan pilihan?' tanya Athar.
'Dengar dulu. Pilihannya sudah kubicarakan dengan Pak Hadi. Aku cuma masih kecewa.'
Athar mengiyakan. Ia mendengarkan tanpa menawarkan kenalan yang pasti membeli banyak barang. Sesudah Syifa selesai, ia menceritakan pertanyaan Satria tentang pengiriman yang tertukar. Wanita itu tertawa pelan ketika keduanya sama-sama mengaku sempat ingin menunjukkan hanya bagian pekerjaan yang berhasil.
'Tapi kalau yang salah disembunyikan, besok ketemu lagi,' kata Syifa.
'Iya. Dan biasanya ketemunya saat orang sudah terlanjur menunggu.'
Mereka mengakhiri percakapan agar bisa beristirahat. Syifa memeriksa pintu, mengambil air, lalu masuk kamar. Sisi Athar kosong untuk satu malam yang telah diketahui sejak awal. Ia masih merindukannya tanpa harus mengubah rasa rindu menjadi alasan meminta perjalanan dipercepat.
Pada Rabu, Athar menyelesaikan pembahasan lanjutan dan berangkat dari kota setelah urusan yang perlu diserahkan tuntas. Ia memberi kabar sebelum perjalanan, lalu kembali menghubungi Syifa ketika berhenti di tempat yang aman. Pria itu memastikan ia tidak menyiapkan makan untuk menunggu jam yang belum pasti.
Athar sampai pada malam hari. Syifa sudah makan dan sedang merapikan satu sudut ruang tengah. Ia mendekati pintu ketika suara kendaraan terdengar, kemudian menunggu suaminya membawa tas masuk.
'Mau makan sekarang atau mandi dulu?'
'Mandi. Setelah itu makan yang masih ada.'
Syifa mengangguk dan menyiapkan lauk secukupnya. Ia tidak membuka daftar persoalan rumah ketika Athar masih melepas sepatu. Sesudah pria itu selesai mandi serta mulai makan, ia duduk di seberang membawa minuman dan menanyakan apakah kepalanya masih dipenuhi pengiriman.
'Masih sedikit. Tapi sekarang aku ingin tahu tanaman di depan kenapa dipindah.'
'Kena panas terus. Bu Murni membantu menggeser tadi siang.'
Athar menoleh ke arah jendela, lalu tersenyum. Ia menceritakan kabar bahwa hasil perubahan di cabang diterima untuk dilanjutkan, dengan pemeriksaan yang masih harus dijalankan. Syifa mengucapkan selamat dan mengangkat gelasnya sedikit.
'Tidak ada kue?' godanya.
'Ada lauk hangat. Itu juga bagus.'
Mereka tertawa. Sesudah makan, Athar mencuci piring dan menyimpan tas. Ia kembali dengan buku kecil yang biasa dipakai mencatat jadwal pribadi. Tanggal ulang tahun pernikahan pertama masih beberapa bulan lagi, tetapi ia bertanya apakah Syifa ingin pergi ke sungai pada hari itu.
Syifa memandangnya. 'Bawa makan dari rumah?'
'Kalau kamu mau.'
'Mau. Nanti kita atur tokonya. Jangan baru bilang ketika pintu sudah dibuka untuk pelanggan.'
Athar menuliskan rencana itu, lalu menyodorkan buku agar Syifa dapat melihat. Wanita itu menambahkan satu kata tentang bekal dan mengembalikan pulpen. Mereka menutup buku sebelum kembali duduk, menikmati malam ketika perjalanan panjang akhirnya berakhir di rumah dan pembicaraan untuk hari berikutnya tidak perlu diselesaikan seluruhnya sekarang.