Genap setahun sejak akad di rumah itu, Syifa membuka lemari dapur untuk mengambil wadah bekal. Athar sudah menyiapkan minuman dan memeriksa isi tas kecil yang akan dibawa. Rencana pergi ke sungai telah dibicarakan sejak beberapa bulan sebelumnya. Hari ini ia mengambil cuti, sementara Syifa mengatur pekerjaan toko bersama Hadi agar dapat meninggalkannya tanpa menyembunyikan keperluan sendiri.
'Kamu yakin ini cukup?' tanya Athar sambil melihat dua kotak makanan.
'Untuk kita berdua. Jangan seperti waktu menyiapkan makan satu keluarga.'
'Aku hanya bertanya.'
Syifa tersenyum dan memasukkan lauk terakhir. Mereka tetap sarapan sedikit sebelum berangkat. Ia tidak ingin duduk di sungai dengan perut kosong lalu menghabiskan semua bekal sebelum menemukan tempat yang nyaman.
Athar membawa tas ketika keduanya keluar. Syifa memeriksa pintu dan menyimpan kunci pada kantong yang mudah dijangkau. Jalan menuju sungai masih dapat ditempuh dengan berjalan kaki, melewati rumah-rumah serta warung yang mulai melayani pembeli. Beberapa orang menyapa dan bertanya apakah mereka hendak pergi jauh.
'Ke sungai,' jawab Syifa.
'Piknik?'
Ia mengangguk. Athar mengangkat tas kecilnya ketika orang itu bercanda menanyakan bagian untuk tetangga. Syifa tertawa dan meneruskan langkah. Ia tidak merasa perlu menjelaskan seluruh alasan memilih tempat yang dekat untuk merayakan hari tersebut.
Di tepi sungai, mereka mencari bagian yang cukup kering untuk duduk. Athar membentangkan alas, memindahkan satu ranting yang mengganggu, lalu meletakkan tas agar tidak berada di dekat air. Syifa duduk dan memandang aliran yang dahulu sering dilihatnya bersama sahabat kecilnya.
Ada kenangan yang datang tanpa diminta: batu yang dilempar ketika hati sedang penuh, uang untuk membeli makanan, serta percakapan mengenai seseorang yang telah mengkhianati kepercayaannya. Athar pernah duduk di dekatnya pada masa itu. Kini lelaki yang sama sedang kesulitan membuka tutup botol karena tangannya licin.
'Sini,' kata Syifa sambil mengulurkan tangan.
Athar menyerahkannya. Syifa mengeringkan bagian tutup dengan kain, membukanya, kemudian mengembalikan dengan senyum yang sulit disembunyikan.
'Aku baru merapikan alas,' pembelaannya.
'Aku belum bilang apa-apa.'
Athar tertawa dan mengambil gelas. Mereka makan ketika merasa lapar, berbagi lauk dari kotak yang sama. Sesekali suara orang yang melintas membuat mereka menoleh, tetapi tidak ada rombongan besar atau acara lain yang perlu diikuti. Syifa menikmati dapat duduk cukup lama tanpa memeriksa jam untuk mengejar pelanggan berikutnya.
'Setahun lalu kamu datang ke rumah untuk akad,' katanya setelah minum. 'Aku ingat kamu beberapa kali mencari arah kamera.'
'Karena semua orang memanggil. Aku takut salah melihat terus dianggap tidak dengar.'
'Aku yang menyentuh lenganmu supaya melihat ponsel yang benar.'
'Aku ingat.' Athar tersenyum. 'Besok paginya aku belum tahu letak sakelar.'
'Sekarang sudah?'
'Sudah. Tinggal kamu kadang memindahkan gunting.'
'Karena kamu kadang meninggalkannya di tempat yang berbeda.'
Mereka saling menatap, lalu tertawa. Selama setahun ada banyak hal yang memang harus dibicarakan lebih dari satu kali. Kotak tanda terima pernah kembali berantakan. Satu rencana makan terpaksa berubah karena pekerjaan. Ada hari ketika Syifa ingin sendiri dahulu sebelum dapat menjelaskan kekecewaan, dan ada malam ketika Athar perlu mengakui ia terlalu cepat menjawab.
Syifa tidak menganggap semua itu sebagai alasan untuk menyesali pilihannya. Ia dapat menyebut hal yang tidak disukai tanpa harus menerima hinaan tentang asal-usul atau tubuhnya. Ketika keputusan menyangkut toko, ia tetap menjadi orang yang menentukan. Ketika kebutuhan rumah berubah, mereka duduk untuk membicarakannya.
'Kamu senang kita memilih tinggal di rumah?' tanya Athar.
'Senang. Aku bisa dekat dengan toko. Kamu juga masih bisa menemui Ayah.'
'Aku senang bisa pulang tanpa perjalanan dari pusat setiap hari.'
Syifa mengangguk. Pekerjaan Athar tetap memerlukan perjalanan tertentu, tetapi penempatan yang sudah dijalankannya tidak berubah menjadi janji baru setiap kali keluarga bertanya. Tokonya pun berjalan dengan pegawai dan pengrajin yang dapat diajak memeriksa persoalan, bukan seluruhnya diserahkan kepada seseorang yang tidak boleh ditanya.
Ia mengambil kotak yang sudah kosong dan menumpuknya. Athar menahan gerakannya, meminta beberapa menit lagi sebelum semuanya dikemas. Syifa meletakkan kembali tas dan duduk lebih santai.
'Aku senang kamu memilihku setelah punya waktu memikirkan,' katanya.
'Aku juga senang aku mengambil waktu itu. Tapi hari ini aku ingin membicarakan setahun yang sudah kita jalani, bukan kembali menunggu jawabanku.'
Athar mengangguk, kemudian menyebut satu hal yang paling diingatnya: Syifa tertawa pada pagi ketika telur buatannya hampir terlalu matang. Wanita itu membalas dengan cerita kuitansi pompa yang ikut masuk tas kerja. Mereka mengingat kesalahan kecil yang kini dapat disebut tanpa harus menghidupkan pertengkarannya kembali.
Menjelang sore, keduanya mengemas sisa makanan serta sampah untuk dibawa pulang. Athar melipat alas, Syifa memeriksa tidak ada tutup wadah tertinggal. Mereka berjalan kembali melalui jalan yang sama. Di dekat rumah, Bu Murni melambaikan tangan dan menanyakan apakah bekalnya habis.
'Hampir, Bu,' jawab Syifa. 'Ternyata cukup untuk dua orang.'
Tetangganya tertawa dan membiarkan keduanya masuk tanpa menambahkan acara. Syifa membuka pintu, menaruh tas di dapur, lalu mengganti pakaian. Setelah menunaikan salat, mereka menyelesaikan barang bawaan. Athar mencuci wadah dan menyiapkan teh, sementara Syifa menyimpan alas yang telah dibersihkan.
Di ruang tengah, mereka duduk dengan dua cangkir. Rumah sudah kembali pada suara yang dikenal: kendaraan lewat di depan, gelas diletakkan di meja, dan halaman buku yang dibuka Athar untuk memeriksa jadwal esok. Syifa mengambil buku itu sebentar, melihat catatan hari ini yang telah benar-benar dijalani, lalu mengembalikannya.
Ia tidak perlu menyerahkan rumah serta usahanya untuk memastikan seseorang tetap tinggal. Perjanjian lama dengan Ryan telah berakhir melalui proses yang dituntaskan; kewajiban yang menyangkut tokonya sudah diselesaikan. Kini ia merawat kehidupan yang dipilihnya sendiri bersama orang yang duduk di sampingnya.
Athar meletakkan buku dan menggenggam tangannya. Syifa menyambut, menyandarkan kepala, lalu menanyakan apakah sisa lauk dapat dipakai untuk sarapan. Suaminya tersenyum dan menjawab bisa. Mereka membicarakan pagi berikutnya dengan tenang, di rumah yang akan kembali mereka buka bersama ketika hari datang.
TAMAT