Dua bulan setelah akad Syifa dan Athar, sebuah pesan dari Sherly masuk pada Jumat sore. Syifa membacanya setelah selesai berbicara dengan pengrajin. Perempuan itu ingin datang ke toko esok untuk melihat rak penyimpanan bagi perlengkapan anaknya.
Syifa menjawab waktu toko buka dan mengatakan pegawai dapat membantu jika ia sedang melayani orang lain. Ia tidak menyiapkan pertemuan pribadi atau makanan untuk menerima tamu. Setelah mengirim balasan, ia meneruskan catatan pekerjaan yang sempat terhenti.
Pada Sabtu menjelang siang, Sherly datang membawa anak perempuannya. Anak itu meraih ujung tas ketika ibunya mencoba membuka pintu. Seorang pegawai membantu menahannya dari dalam, lalu menunjukkan tempat duduk yang tidak menghalangi pelanggan lewat.
Syifa mendekat setelah memastikan pembicaraan di meja sebelumnya selesai.
'Rak seperti apa yang dicari?' tanyanya.
Sherly mengeluarkan ponsel. Ia menunjukkan ukuran tempat yang sudah dicatat dan mengatakan ingin menyimpan pakaian serta beberapa barang yang sekarang tersebar di sudut kamar. Anggarannya tidak cukup untuk model yang besar, dan ia tidak ingin memesan sesuatu yang akhirnya tidak muat.
Syifa memperlihatkan dua pilihan yang tersedia. Hadi membantu menunjukkan ukuran dan bagian pintunya. Sherly menggeser anaknya agar duduk lebih nyaman di pangkuan, kemudian meminta mencoba membuka laci model yang lebih kecil.
Anak itu mengulurkan tangan ke arah benda yang bergerak. Sherly menahan jemarinya perlahan, mengalihkan perhatian kepada mainan yang dibawa dari rumah. Syifa menunggu sampai keduanya siap sebelum menerangkan perbedaan ruang simpan.
'Yang ini cukup, sepertinya,' kata Sherly. 'Bisa dilihat bagian dalamnya lagi?'
Hadi membuka pintu rak dan menunjukkan susunannya. Syifa melihat noda kecil pada permukaan luar, meminta kain, lalu memastikan itu hanya debu yang dapat dibersihkan. Ia tidak ingin Sherly baru melihatnya setelah barang dibawa.
Ketika Hadi mencatat pilihan, anak di pangkuan Sherly mulai gelisah. Perempuan itu berdiri dan mengayunnya sebentar sambil meminta waktu. Syifa mempersilakan duduk pada kursi yang lebih dekat kipas, kemudian kembali ke meja untuk menyiapkan rincian pembayaran.
Sherly mendekat ke meja dengan anak yang kini lebih tenang di gendongannya. Ia mengeluarkan uang dari dompet, menghitung, lalu menyerahkannya sesuai harga yang telah dibicarakan. Syifa mencocokkan jumlah, menyiapkan tanda terima, dan menjelaskan bahwa rak akan dibungkus setelah pemeriksaan terakhir selesai.
'Ryan yang menjemput,' kata Sherly. 'Aku akan kabari kalau sudah bisa dibawa.'
Syifa mengangguk. Ia menunjuk bagian depan yang dapat dipakai berhenti sebentar untuk memuat barang, lalu meminta pegawai menjaga jalur itu agar tidak tertutup kiriman lain. Sherly mengirim pesan sebelum kembali duduk bersama anaknya.
Athar tiba tidak lama kemudian. Ia sudah mengabari akan menemui Syifa untuk makan setelah mengurus keperluan di rumah Bagas. Melihat ada pelanggan yang masih dilayani, ia menaruh barang bawaannya pada sisi meja dan menyapa Hadi lebih dahulu.
Syifa memperkenalkan keadaannya secara singkat: Sherly membeli rak dan sedang menunggu jemputan. Athar mengangguk, menyapa perempuan itu dengan sopan, kemudian bertanya kepada istrinya apakah masih ada pesanan lain yang harus diselesaikan sebelum mereka keluar.
'Tinggal memastikan barang ini dibawa. Sesudah itu aku bisa pergi sebentar,' jawab Syifa.
Athar duduk menunggu. Anak Sherly memandangnya dari pangkuan ibunya, lalu menyembunyikan wajah ketika ia tersenyum. Syifa ikut tersenyum melihat gerakan tersebut. Ia tidak mengulurkan tangan untuk mengambil anak itu tanpa mengetahui apakah ibunya memerlukan bantuan.
Mainan kecil yang dipegang anak itu terlepas ke lantai. Syifa mengambilnya, membersihkan bagian yang berdebu, lalu menyerahkan kepada Sherly. Perempuan itu mengucapkan terima kasih dan mengembalikannya kepada putrinya. Anak itu kembali sibuk menekan bagian yang berbunyi, membuat percakapan mereka berhenti sebentar karena suaranya terlalu nyaring.
Sherly memandang sekeliling toko. Ruang pajang telah berubah sejak masa ketika ia mengira semua yang dikelola Ryan akan menjadi milik mereka. Ia sempat membuka mulut seperti hendak memulai pembicaraan lama, lalu menunduk kepada tanda terima di tangannya.
'Tokonya semakin tertata,' katanya.
'Kami masih menyesuaikan banyak hal. Ada bagian yang dikerjakan bersama pengrajin,' jawab Syifa.
'Dulu aku mengira...' Sherly berhenti. 'Sudahlah. Aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu dengan cerita yang sama.'
Syifa menatapnya tanpa tersenyum lebar atau memalingkan wajah. 'Hari ini kamu datang membeli rak. Kalau barangnya sesuai, kita selesaikan yang itu.'
Sherly mengangguk. Ia menyimpan tanda terima dan kembali memeriksa pesan. Ryan mengatakan sudah dekat. Beberapa menit kemudian kendaraan berhenti di depan, dan lelaki itu masuk setelah memastikan tidak menghalangi jalan.
Ryan menyapa Syifa serta Athar, kemudian mengambil anak yang disodorkan Sherly. Perempuan itu dapat berdiri lebih mudah dan memeriksa barang yang sudah dibungkus. Hadi menunjukkan bagian yang perlu dilindungi ketika dimuat sebelum meminta pegawai membantu membawa ke kendaraan.
Athar bergeser dari kursinya agar jalan mereka lebih lebar. Ia tidak perlu mengangkat sendiri setiap barang yang melewati toko istrinya. Ryan menggendong anak sambil membuka tempat yang akan dipakai, lalu menunggu Sherly memastikan barang telah masuk dengan baik.
'Terima kasih,' katanya kepada pegawai. Ia kemudian menoleh kepada Syifa. 'Kami berangkat dulu.'
'Hati-hati.'
Sherly melambaikan tangan singkat sebelum masuk kendaraan. Syifa berdiri di dekat pintu sampai mobil bergerak dan jalur depan kembali kosong. Ia baru berbalik ketika Hadi menanyakan apakah salinan penerimaan sudah diletakkan bersama pesanan selesai.
Syifa mengambilnya dari meja, memasukkan pada map yang tepat, lalu mengatakan ia akan keluar makan bersama Athar. Hadi mengangguk dan menyebut urusan yang dapat menunggu setelah ia kembali. Wanita itu memeriksa jam, mengambil tas, kemudian berjalan ke samping suaminya.
'Kamu masih nyaman makan di luar?' tanya Athar ketika mereka meninggalkan pintu toko.
'Iya. Aku lapar.'
Athar menunggu, seolah bersedia mendengar jika ada hal lain. Syifa merapikan tali tas dan menatapnya.
'Tadi biasa saja. Ada kenangan yang muncul, tapi aku tidak ingin menghabiskan siang membicarakannya lagi.'
'Baik. Kita pilih makan apa?'
Syifa menyebut satu warung yang ingin dicobanya sejak beberapa hari sebelumnya. Mereka berjalan menuju kendaraan, menyepakati jalan yang akan dilewati. Di dalam toko, pegawai telah melayani orang berikutnya. Syifa menoleh sebentar, melihat pekerjaan terus bergerak, kemudian memusatkan perhatian pada pertanyaan suaminya tentang lauk yang ingin dipesan.