Tiga pekan setelah akad, Syifa membuka laci dekat dapur dan tidak menemukan kuitansi yang dicarinya. Pompa air yang diperbaiki sehari sebelumnya kembali berhenti sebentar pada pagi itu. Tukang yang menanganinya meminta nomor pada tanda terima sebelum mengatur waktu datang lagi.
Athar yang menerima kuitansi setelah membayar perbaikan. Syifa ingat melihat kertas itu di tangannya ketika ia sendiri sedang membereskan barang yang dipindahkan dari dekat tempat kerja tukang. Ia mengira suaminya telah menaruhnya pada laci yang biasa dipakai untuk keperluan rumah.
Ia memeriksa sekali lagi sebelum menelepon. Athar sudah berada di cabang dan sedang menunggu pembahasan dimulai. Ia menjawab dengan suara pelan, kemudian mengatakan dapat berbicara beberapa menit.
'Kuitansi pompa kemarin kamu taruh di mana?'
'Sepertinya di meja ruang belakang.'
'Sudah kulihat. Tidak ada. Tukangnya meminta nomornya supaya bisa datang memeriksa lagi.'
Athar mencoba mengingat. Ia menyebut sebuah map, lalu berhenti karena ingat map itu telah masuk tas kerja. Ia meminta Syifa menunggu sampai dapat memeriksa setelah pembahasan selesai.
'Jam berapa kira-kira?'
'Sebelum setengah satu aku bisa kirim foto kalau memang di tas.'
Syifa melihat jam. Masih ada waktu untuk memberi jawaban kepada tukang sebelum siang, tetapi ia sudah menghabiskan pagi membuka laci yang salah. Ia menjawab setuju dengan nada yang lebih tajam daripada pertanyaan semula.
'Kalau tidak ketemu, bilang juga. Aku tidak ingin menunggu karena kamu merasa pasti ada.'
'Iya. Aku kabari hasilnya.'
Sesudah panggilan berakhir, Syifa menulis pesan kepada tukang bahwa nomor tanda terima sedang dicari. Ia menanyakan apakah pemeriksaan bisa dilakukan setelah siang jika rincian sudah dikirim. Balasan datang beberapa menit kemudian, menyebut waktu yang masih tersedia.
Syifa kemudian berangkat ke toko. Hadi sedang menerima barang yang dikembalikan pelanggan untuk diperiksa engselnya. Ia menanyakan apakah Syifa ingin melihat langsung. Wanita itu hampir menjawab dengan kesal sebelum menyadari pertanyaan tersebut tidak ada hubungannya dengan kertas yang sedang dicari.
'Saya lihat sebentar. Setelah itu siang saya perlu pulang menerima tukang,' katanya.
Mereka memeriksa lemari pelanggan, menandai bagian yang harus ditangani, dan menentukan siapa yang menghubungi pengrajin. Syifa menuliskan waktu ia keluar agar pegawai mengetahui kapan perlu menunggu jawabannya. Ketika kembali ke meja, foto kuitansi dari Athar sudah masuk.
Pria itu menelepon tidak lama kemudian.
'Ada di bagian depan tas. Aku menyelipkannya ketika membereskan meja kemarin. Maaf, kamu jadi mencari.'
'Tadi kamu bilang mungkin di meja ruang belakang.'
'Aku salah ingat. Mestinya aku bilang belum yakin sebelum menyuruhmu melihat ke sana.'
Syifa membuka foto sampai nomor dan tanggalnya terlihat. Ia meneruskan bagian yang diperlukan kepada tukang, lalu memeriksa konfirmasi kedatangan sebelum menjawab suaminya lagi.
'Fotonya sudah cukup untuk menjadwalkan. Kertas aslinya jangan tertinggal di kantor.'
'Masih kusimpan di kantong yang sama. Nanti malam kubawa pulang.'
Syifa mengiyakan. Ia hendak menutup percakapan, tetapi Athar menanyakan apakah ia sangat kesal. Pertanyaan itu membuatnya berhenti merapikan pensil di meja.
'Aku kesal karena harus mencari di banyak tempat sementara ada orang menunggu jawaban. Aku tidak mau setiap kertas rumah ikut pergi bersama berkas pekerjaan.'
'Kita tentukan tempatnya setelah aku pulang. Aku juga perlu tahu mana yang tidak boleh kupindahkan.'
Syifa mengatakan ia dapat mengambil kotak arsip yang masih kosong dari lemari. Athar menyetujui dan menanyakan apakah ada hal lain yang perlu ia ketahui tentang pompa. Setelah mendengar rencana kedatangan tukang, ia mengucapkan terima kasih karena Syifa bersedia menunggu di rumah.
Siang itu, Syifa pulang sesuai jadwal. Tukang datang, membaca nomor yang telah dikirim, lalu memeriksa bagian yang bermasalah. Ia menyelesaikan penyesuaian dan meminta Syifa mencoba aliran air sebelum berpamitan. Wanita itu menunggu beberapa saat, mengulangi pemeriksaan yang diminta, kemudian menyimpan kabar hasilnya untuk Athar.
Ia tidak perlu membayar kunjungan baru untuk bagian perbaikan yang sama sesuai keterangan tukang. Namun ia tetap meminta catatan mengenai pekerjaan tambahan hari itu. Kali ini kertasnya langsung dimasukkan ke tempat yang dapat ditemukan, sebelum ia kembali ke toko untuk menyelesaikan urusan sore.
Athar tiba pada malam hari dengan tas yang sengaja belum dibuka di ruang kerja. Ia mengeluarkan kuitansi asli di depan Syifa, menaruhnya di meja, lalu menunjukkan kantong tempat kertas itu terselip.
'Kamu tidak perlu membuktikan letak kantongnya,' kata Syifa, kali ini dengan senyum kecil. 'Yang penting kertasnya sampai.'
Athar tertawa dan meletakkan tas. Sesudah makan, mereka mengambil kotak kosong yang dimaksud. Syifa mengeluarkan beberapa kertas rumah dari laci, memilih yang memang berkaitan dengan tagihan dan perawatan. Athar membaca tanggal sambil memasukkannya ke bagian yang disepakati.
'Berkas toko jangan ikut di sini,' ujar Syifa. 'Kalau aku membawa pulang pesanan, nanti kukembalikan ke mapnya sendiri.'
Athar mengangguk. Ia menyisihkan satu lembar yang ternyata catatan pengiriman toko dan menyerahkannya kepada Syifa. Mereka menemukan beberapa kertas yang tidak lagi diperlukan, tetapi tidak langsung membuangnya sebelum memeriksa apa isinya. Ketika tutup kotak akhirnya dipasang, keduanya sudah tahu tempat yang harus dicari jika urusan yang sama muncul lagi.
Bu Murni mengetuk pintu tidak lama kemudian. Ia membawa sayuran dari rumah dan terkejut melihat meja penuh kertas. Syifa menjelaskan mereka baru selesai merapikan tanda terima. Tetangganya menyerahkan bawaan, menanyakan apakah air sudah kembali lancar, lalu berbicara sebentar tentang tanaman di halaman.
Setelah Bu Murni pulang, Athar membawa kotak ke rak yang telah dipilih. Ia tidak menaruhnya di tempat paling tinggi hanya karena tampak lebih rapi. Syifa mencoba mengambil dan mengembalikannya, memastikan bisa menjangkau tanpa mencari bangku.
'Besok aku pasti membuka tas sebelum menyimpan kertas,' kata Athar.
'Kita lihat besok.'
Ia menoleh dengan wajah pura-pura tersinggung. Syifa tertawa, lalu menarik lengannya untuk duduk setelah meja dibersihkan. Urusan satu kuitansi telah memakan hampir sehari, tetapi sekarang mereka dapat membicarakannya tanpa berpura-pura sejak pagi sama-sama tidak kesal. Ia menyandarkan bahu pada Athar sambil mendengar suaminya menceritakan makan siang yang terlambat. Kali ini tidak ada kertas yang harus dicari sebelum cerita dapat diteruskan.