Syifa membuka mata pada Senin pagi ketika mendengar seseorang mencari sakelar. Ia sempat hendak bangun, lalu melihat Athar berdiri di dekat pintu dengan langkah yang masih canggung. Pria itu menoleh dan berbisik bahwa ia tidak bermaksud membangunkannya.
'Sakelarnya di sisi satunya,' kata Syifa pelan.
Athar mengulurkan tangan ke arah yang ditunjuk. Cahaya lorong menyala, cukup membuatnya menemukan jalan tanpa harus menyalakan lampu kamar. Ia mengucapkan terima kasih dengan wajah yang membuat Syifa menahan tawa.
Sesudah menunaikan salat, keduanya kembali ke dapur. Athar masih bertanya di mana sendok dan wajan diletakkan. Syifa menunjukkan tempatnya sambil mengambil bahan yang tersedia. Mereka mempunyai sisa makanan dari kemarin, tetapi ingin menyiapkan telur hangat untuk sarapan.
'Aku yang buat,' kata Athar. 'Kamu bisa menyiapkan minum.'
Syifa mengangguk. Ia mengambil dua cangkir, mengisi air, lalu berhenti ketika mendengar suaminya membuka satu lemari yang tidak berisi bumbu. Ia menyebut rak yang benar tanpa berpindah dari tempatnya. Athar akhirnya menemukan garam dan mengangkatnya seperti baru menyelesaikan pekerjaan sulit.
'Ternyata rumah ini perlu kupelajari.'
'Iya. Tapi hari pertama tidak ada ujian.'
Athar tertawa dan kembali memperhatikan wajan. Syifa menyiapkan piring serta menghangatkan lauk secukupnya. Dapur yang biasa dikerjakannya sendiri terasa lebih sempit dengan orang lain berdiri di dekat kompor. Sekali ia hampir berbalik sambil membawa gelas ketika Athar hendak mengambil tutup, lalu keduanya berhenti bersamaan.
'Kamu dulu,' kata Syifa.
'Tidak, kamu bawa air panas.'
Ia melewati suaminya dengan hati-hati, kemudian meletakkan gelas di meja. Sesudah itu ia duduk dan melihat Athar memindahkan telur. Pinggirnya sedikit lebih gelap daripada yang direncanakan, tetapi tidak sampai gosong. Pria itu menyerahkan piring dengan ekspresi yang meminta penilaian.
Syifa mencicipi dan mengangguk. 'Bisa dimakan. Besok kamu boleh mencoba lagi.'
'Berarti belum lulus?'
'Katanya hari ini tidak ada ujian.'
Mereka tertawa. Untuk beberapa menit, keduanya makan tanpa membicarakan acara yang baru selesai. Suara orang lewat di depan rumah mulai terdengar. Syifa baru menyadari ia terus mendengarkan langkah lain di dalam dapur, seolah perlu memastikan bahwa suaminya benar-benar telah tinggal di sana.
Athar menanyakan rencananya masuk toko. Syifa menjawab akan datang sebentar menjelang siang, memeriksa pesanan yang harus dipastikan, lalu pulang. Ia sudah membicarakan pembagian tugas dengan Hadi. Hari ini ia tidak ingin seluruh orang menunda pertanyaan karena mengira pemilik belum boleh diganggu.
'Aku masuk agak siang sesuai izin yang sudah kuatur,' kata Athar. 'Tetap ke cabang, bukan ke pusat. Kalau pulangnya berubah, aku kabari.'
'Kuncinya sudah kamu simpan?'
Athar menepuk saku, kemudian sadar ia masih memakai pakaian rumah. Syifa menunjuk meja di ruang tengah. Kunci yang disiapkan semalam berada di sana, bersama tas kecilnya.
'Aku belum kehilangan,' katanya cepat.
'Aku juga belum bilang.'
Sesudah makan, Athar mencuci peralatan yang digunakannya. Syifa mengeringkan meja dan menyisihkan lauk untuk siang. Mereka sepakat urusan dapur tidak harus menunggu satu orang selesai bekerja. Jika pulang lebih awal, yang sudah berada di rumah bisa memulai dari pekerjaan yang dapat dilakukan.
Athar berangkat lebih dahulu setelah berpakaian kerja. Syifa mengantar sampai pintu, menunggu ia memasukkan tas ke mobil. Pria itu sempat kembali mengambil satu barang yang tertinggal, lalu tersenyum malu ketika Syifa menunjukkan letaknya tanpa bertanya.
Sebelum ia berbalik lagi, Syifa membetulkan kerah kemejanya yang terlipat. Athar menunduk sedikit agar tangannya mudah menjangkau. Gerakan yang sederhana itu membuat keduanya terdiam, lalu saling tersenyum.
'Sekarang rapi,' katanya.
'Terima kasih, Bu Syifa.'
'Jangan seperti pelanggan toko.'
Athar tertawa. Ia menyentuh tangan yang baru dilepas dari kerahnya dan mengecup punggung jarinya singkat. Syifa menatapnya dengan pipi menghangat, kemudian mengingatkan bahwa izin datang lebih lambat bukan berarti boleh terus berdiri di depan pintu. Pria itu akhirnya mengangguk dan meraih kunci.
'Hati-hati,' katanya sebelum Athar masuk kendaraan.
Syifa menutup gerbang setelah mobil pergi. Ia membereskan sebagian kursi yang tersisa dari acara, lalu mengambil tas untuk menuju toko. Jalan yang dilaluinya sama seperti hari-hari sebelumnya. Beberapa tetangga menyapa dan mengucapkan selamat, membuatnya beberapa kali berhenti sebelum tiba.
Di toko, Hadi menyerahkan bunga kecil yang disiapkan bersama pegawai. Syifa tertawa ketika mereka mengatakan bunga itu sebaiknya tidak diletakkan di dekat barang yang akan dimuat. Ia mengucapkan terima kasih dan menaruhnya pada sisi meja yang aman.
Mereka memeriksa satu pesanan yang masih menunggu jawaban pemilik. Syifa memilih ukuran yang sudah disetujui pelanggan, memastikan perubahan tidak masuk ke salinan yang keliru, lalu memberi tahu kapan ia dapat dihubungi bila ada hal lain. Ia tidak membuka seluruh pekerjaan bulan depan pada pagi itu.
Menjelang siang ia pulang membawa bunga. Rumah masih tenang ketika pintu dibuka. Syifa menaruh bunga dalam wadah berair, menghangatkan makanan, dan duduk di kursi yang sama dengan tadi pagi. Cangkir Athar sudah berada di rak setelah dicuci. Ia tersenyum melihatnya, lalu mulai makan.
Sore hari, Athar mengirim kabar bahwa ia akan berangkat dari cabang sesuai rencana. Syifa sedang menjemur kain yang digunakan saat acara. Ia membalas, menyelesaikan bagian terakhir, lalu masuk mencuci tangan. Ketika suara kendaraan berhenti, ia baru mengambil bahan untuk makan malam.
Athar menyapa dari pintu, menaruh tas, dan menanyakan apa yang bisa dibantu. Syifa menyerahkan sayuran untuk dicuci. Pria itu membaca daftar pendek yang ditempel di dekat lemari, menemukan bagian yang dimaksud, lalu mulai bekerja di sebelahnya.
'Sakelar sudah hafal?' goda Syifa.
'Yang lorong sudah. Yang lain besok.'
Syifa tertawa sambil menyalakan kompor. Mereka makan setelah semuanya siap, menceritakan hari yang berlangsung di tempat berbeda. Athar mendengar tentang bunga dan pesanan toko, sedangkan Syifa mendengar satu urusan cabang yang perlu diteruskan esok. Tidak ada yang menuntut seluruh cerita selesai sekaligus. Ketika piring mulai kosong, ia menyandarkan punggung dan mengatakan lelah. Athar mengambil piring mereka, memberi Syifa waktu duduk sebelum malam ditutup dengan pekerjaan kecil yang kini dapat dibagi.