Syifa sedang membetulkan ujung lengan pakaiannya ketika Bu Murni masuk membawa segelas air. Di ruang depan, beberapa orang mulai datang. Suara kursi bergeser terdengar bersama sapaan yang membuat rumah terasa lebih ramai daripada pagi biasa.
'Minum dahulu,' kata Bu Murni. 'Dari tadi kamu hanya membasahi bibir.'
Syifa menerima gelas. Pakaiannya kini dapat ditekuk dengan nyaman setelah penyesuaian yang diminta. Ia mengembalikan gelas, lalu melihat sekali lagi ke arah cermin. Wajahnya tampak gugup, tetapi ia mengenali dirinya di balik riasan yang tidak terlalu tebal.
Hari Minggu yang dipilih bersama telah tiba. Athar sudah menjalankan pekerjaan di cabang selama beberapa pekan dari rumah Bagas. Urusan toko untuk pagi itu telah dibagi, dan Syifa tidak membawa buku pesanan ke dalam kamar. Ia ingin mendengar apa yang sedang berlangsung di rumahnya tanpa setiap beberapa menit memeriksa telepon.
Bu Murni mengatakan petugas telah datang. Kelengkapan serta pengaturan wali yang diperiksa sebelumnya dikonfirmasi lagi sebelum acara dimulai. Syifa menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya, memastikan persetujuannya sendiri, kemudian menunggu ketika orang yang mendampinginya kembali ke ruang depan.
Tidak lama kemudian terdengar kendaraan berhenti. Athar datang bersama Bagas, Ros, dan keluarga dekat. Hadi menyambut mereka di depan pintu. Syifa mendengar suara yang dikenalnya, disusul tawa pendek karena seseorang hampir menaruh bingkisan di kursi yang akan dipakai duduk.
Ia ikut tersenyum. Tangannya yang tadi dingin mulai lebih tenang setelah Bu Murni menyentuh bahunya dan mengatakan semua sudah berada di tempatnya. Syifa mengangguk, lalu menyisihkan tisu agar tidak terus diremas.
Athar duduk di hadapan wali hakim yang telah ditentukan melalui persiapan sebelumnya. Bagas mengambil tempat bersama keluarga, sementara saksi dan petugas menjalankan perannya masing-masing. Ketika ijab diucapkan, Athar mendengarkan sampai selesai sebelum menjawab.
Suara kabulnya terdengar mantap. Syifa menahan napas di kamar yang pintunya dibiarkan terbuka secukupnya. Sesaat kemudian, pernyataan bahwa akad telah sah sampai kepadanya bersama ucapan syukur dari ruang depan.
Air matanya jatuh sebelum ia sempat mengambil tisu. Bu Murni meraih lembar baru, menyerahkannya tanpa menyuruh Syifa berhenti menangis. Wanita itu menunggu sampai ia dapat berdiri dengan nyaman, lalu mendampinginya menuju ruang yang telah disiapkan.
Athar mengangkat wajah ketika melihatnya. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling memandang. Syifa merasakan kegugupan yang berbeda ketika duduk di samping lelaki yang kini menjadi suaminya. Ia baru saja mendengar pilihan mereka diucapkan sebagai tanggung jawab yang akan dijalani bersama.
Setelah prosesi yang diperlukan selesai, Athar menoleh dan berkata pelan, 'Terima kasih sudah memilihku.'
'Terima kasih sudah datang dengan niat yang jelas.'
Athar tersenyum. Ia tidak menambahkan janji bahwa Syifa tidak akan pernah sedih lagi. Ketika wanita itu mengusap sudut mata, ia menggeser kotak tisu mendekat dan menunggu sebelum mengulurkan tangan. Syifa menyambutnya dengan genggaman yang masih sedikit gemetar.
Bagas menghampiri mereka lebih dahulu, lalu Ros. Ayah Athar menepuk bahu putranya dan mengucapkan selamat kepada Syifa. Ros memeluk Syifa singkat setelah wanita itu berdiri. Ia mengatakan makanan sudah hampir siap dan mereka sebaiknya tidak terlalu lama menahan tamu untuk berfoto.
Bu Murni tertawa mendengarnya. Hadi memberi isyarat kepada pegawai yang datang bergantian, memastikan mereka sempat mengucapkan selamat tanpa meninggalkan seluruh pekerjaan toko pada orang yang sama. Syifa melihat wajah-wajah yang telah membantunya menjalani masa sulit dan membangun kembali usaha.
Mereka mengambil beberapa foto keluarga. Athar sempat salah menghadap ponsel ketika orang lain memanggil dari sisi berbeda. Syifa menyentuh lengannya, menunjukkan kamera yang sedang dipakai. Pria itu tertawa malu, lalu mengikuti arah yang benar.
Sesudahnya mereka duduk untuk makan. Syifa hendak berdiri mengambil piring, tetapi Bu Murni sudah membawa dua buah dan meminta mereka menikmati hidangan sebelum dingin. Athar menggeser tempat agar Syifa dapat meletakkan gelas tanpa khawatir tersenggol lengan orang yang lewat.
'Kamu sudah sarapan?' tanyanya.
'Sedikit. Kamu?'
'Ayah menyuruhku makan dua kali karena takut aku lupa.'
Syifa tertawa, kemudian menyuap makanan. Ia tidak mengingat kapan terakhir kali rumahnya dipenuhi percakapan sebanyak itu tanpa dirinya sibuk memikirkan siapa yang akan marah. Ketika seseorang memanggil untuk memberi selamat, ia dapat menjawab sambil tetap duduk.
Menjelang sore, para tamu berpamitan. Bagas dan Ros menunggu sebagian pekerjaan selesai sebelum pulang. Athar mengambil barang yang akan dipindahkannya ke rumah Syifa dari kendaraan, lalu menaruhnya di tempat yang sebelumnya telah dibicarakan. Ia tidak membongkar seluruh lemari pada hari pertama.
Bu Murni membantu menyimpan makanan yang masih dapat digunakan. Syifa mengganti pakaian setelah memastikan tidak ada tamu yang menunggu, lalu kembali ke dapur dengan rambut yang telah dirapikan. Athar sedang menutup wadah ketika ia datang.
'Yang ini untuk besok?' tanyanya.
'Iya. Jangan dimasukkan ke tempat yang membuatmu harus mengeluarkan semua barang untuk mengambilnya.'
Athar mengangguk dan mengubah letaknya. Bu Murni mengamati sebentar, tersenyum, lalu mengatakan ia akan pulang setelah membawa wadah miliknya. Keduanya mengantar sampai pintu dan mengucapkan terima kasih.
Rumah akhirnya lebih sunyi. Syifa berdiri di ruang depan, melihat kursi yang masih perlu dikembalikan ke tempat biasa. Athar menanyakan mana yang boleh dipindahkan dahulu. Mereka membereskan sebagian saja sebelum memutuskan sisanya dapat menunggu esok.
Malam itu, keduanya makan dengan hidangan yang tersisa. Athar bertanya apakah Syifa ingin mengambil libur dari toko pada pagi berikutnya. Ia menjawab akan masuk sebentar karena ada pesanan yang perlu dipastikan, lalu pulang setelah urusannya selesai. Athar juga sudah mengatur pekerjaannya agar dapat berangkat sedikit lebih lambat.
Sesudah pintu diperiksa dan lampu ruang depan dimatikan, Syifa berhenti di dekat foto Wardi dan Salimah. Athar menunggu di sampingnya tanpa mengatakan apa-apa. Ia menyentuh ujung bingkai, menarik napas, kemudian mengajak suaminya masuk. Hari akad mereka berakhir di rumah yang sama, dengan barang yang belum seluruhnya rapi dan dua orang yang kini akan membicarakan cara merawatnya bersama.