Tiga bulan setelah lamaran, Syifa menandatangani penerimaan pembayaran terakhir untuk pesanan besar yang dikirim bertahap. Hadi telah mencocokkan barang, tanda terima, serta bagian yang sempat diganti. Mereka akhirnya dapat menutup satu map yang beberapa kali berpindah antara meja dan kendaraan pengiriman.
Syifa mengembuskan napas. Musim pesanan itu tidak selalu berjalan sesuai perkiraan. Ada pengiriman yang perlu dijadwalkan ulang dan satu pelanggan yang menanyakan barang ketika truk belum berangkat. Kini ia bisa melihat mana yang telah selesai sebelum menyanggupi pekerjaan berikutnya.
Ponselnya bergetar. Athar mengirim pesan meminta waktu bicara tentang penempatan. Sesudah penugasan delapan pekan dahulu, ia kembali mengurus bagian pekerjaannya di kota sambil menunggu pengaturan pegawai cabang. Syifa sudah mendengar beberapa kabar perkembangan, tetapi belum pernah menerima kalimat bahwa semuanya diputuskan.
Kali ini Athar membuka percakapan dengan jawaban yang berbeda.
'Rinciannya sudah kuterima. Mulai Senin depan aku ditempatkan di cabang. Tetap ada perjalanan ke pusat, tetapi tidak setiap hari.'
Syifa duduk lebih tegak. Ia menanyakan tugas, jam kerja, dan bagian yang sebelumnya masih membuat mereka ragu. Athar menjelaskan bahwa ia telah membaca serta menerima pengaturannya. Ini penempatan kerja yang baru, bukan perpanjangan tugas persiapan yang telah selesai.
'Akhir pekan aku pulang untuk mulai menata barang di rumah Ayah,' katanya. 'Kita juga perlu membicarakan tanggal yang kemarin masih menunggu.'
Mereka bertemu pada Sabtu sore. Athar telah mencoba perjalanan dari kampung menuju cabang pada hari kerja sebelumnya, lalu mencatat waktu yang benar-benar ditempuh. Ia menunjukkan jalan yang dipilih tanpa menyamakan kelancaran siang hari dengan jam orang berangkat bekerja.
'Aku akan berangkat lebih awal selama penyesuaian,' katanya. 'Kalau harus ke pusat, kabarnya akan kuberikan sesuai jadwal.'
Syifa membuka buku rencana mereka. Pilihan tinggal di rumahnya kini dapat diperiksa dengan informasi yang lebih lengkap. Athar akan berangkat kerja dari rumah Bagas terlebih dahulu. Sesudah menikah, keduanya sepakat tinggal di rumah Syifa dan mengatur pengeluaran bersama seperti yang telah dibicarakan.
'Aku perlu satu sudut untuk membaca pekerjaan kalau ada yang dibawa pulang,' kata Athar.
'Bisa pakai meja di ruang belakang. Tapi kalau ada barang toko, jangan langsung dibuang karena terlihat berantakan.'
Athar tertawa. 'Kita pisahkan dahulu.'
Mereka memilih hari Minggu pada pekan keempat sejak Athar mulai menjalankan penempatan barunya untuk akad. Tanggal itu baru diteruskan kepada keluarga setelah urusan pencatatan dan petugas yang diperlukan dapat dikonfirmasi. Syifa tidak ingin memesan semua perlengkapan sebelum mengetahui apa yang masih kurang.
Pada hari yang disepakati untuk mengurus berkas, keduanya datang membawa dokumen masing-masing. Syifa menyertakan dokumen perceraian yang telah diterimanya melalui proses sebelumnya. Ketika petugas menanyakan wali, ia menjelaskan keadaan orang tua angkatnya dan informasi yang dimilikinya tentang keluarga asal.
Wardi dan Salimah telah membesarkannya dengan kasih sayang. Keduanya sudah meninggal, dan nama mereka tidak membuat Bagas atau Hadi serta-merta dapat mengambil peran wali untuknya. Pada pernikahan sebelumnya pun keadaan tersebut telah diperiksa. Sekarang ia menyampaikannya kembali kepada petugas yang mengurus akad baru.
Ada berkas yang perlu dilengkapi. Syifa mencatatnya, memperoleh penjelasan tentang pemeriksaan serta pengaturan wali hakim, lalu pulang untuk menyiapkan bagian yang diminta. Ia tidak menyerahkan seluruh urusan kepada Athar karena merasa terlalu malu menyebut asal-usulnya.
Bu Murni menemaninya mencari satu dokumen yang tersimpan bersama berkas lama. Ketika ditemukan, Syifa duduk beberapa saat memegang map. Di dalamnya masih ada salinan yang pernah dibaca menjelang pernikahannya dahulu.
'Sudah ketemu?' tanya Bu Murni dari dekat pintu.
'Sudah, Bu. Saya cuma ingin memeriksa sekali lagi.'
Perempuan itu duduk dan menunggu. Syifa merapikan lembar yang diperlukan, memisahkannya dari kertas yang tidak diminta, kemudian menutup map. Kali ini ia membawa penjelasan yang diketahuinya sendiri, bukan pertanyaan yang disembunyikan karena takut dianggap tidak pantas menikah.
Sesudah kelengkapan diperiksa dan pengaturan wali dikonfirmasi oleh pihak yang berwenang, persiapan lain dilanjutkan. Syifa memilih pakaian yang nyaman, lalu memastikan ukuran serta waktu pengambilannya. Athar mengurus bagiannya dan membantu menyampaikan jumlah tamu yang sudah disetujui kepada keluarga.
Ketika mencoba pakaian, Syifa mendapati bagian lengannya terlalu sempit saat ditekuk. Ia meminta penjahit menyesuaikannya sebelum dibawa pulang. Bu Murni menunggu sambil memegang tas, kemudian menyuruhnya mencoba duduk dan berdiri sekali lagi. Syifa menurut, baru mengangguk setelah dapat bergerak dengan nyaman.
Di toko, Hadi menata jadwal agar pekerjaan tidak kehilangan orang pada hari yang sama. Syifa memberi tahu pelanggan yang akan datang mengenai waktu pelayanan. Mereka tidak menerima janji pengiriman yang memerlukan kehadiran pemilik tepat pada pagi akad.
Athar mulai menjalankan penempatan cabang pada Senin yang dijadwalkan. Sepanjang pekan-pekan berikutnya ia tinggal di rumah Bagas, berangkat sesuai jam kerja dan kembali dengan cerita tentang penyesuaian tugas. Syifa melihat sendiri bahwa jarak yang dibicarakan bukan sekadar garis pada peta. Ada hari ketika Athar masih harus bekerja lebih lama dan mengabari rencananya berubah.
Menjelang akhir persiapan, Ryan mengirim ucapan selamat setelah mendengar kabar pernikahan dari Dina. Syifa membalas terima kasih. Ia tidak menambah nama mereka ke daftar tamu karena merasa wajib menunjukkan dirinya sudah bahagia. Urusan lama telah diselesaikan pada batas yang jelas, dan ia ingin hari tersebut diisi orang-orang yang dipilihnya.
Sabtu malam sebelum akad, Bu Murni membantu memeriksa pakaian dan barang yang perlu diletakkan di kamar. Athar menelepon dari rumah Bagas setelah keluarganya selesai menyiapkan keperluan esok. Ia terdengar lebih gugup daripada ketika menjelaskan proyek kepada Satria.
'Aku sudah memeriksa semuanya dua kali,' katanya.
'Kalau terus diperiksa, nanti kamu tidak tidur.'
'Kamu sendiri sudah selesai?'
'Sudah. Tinggal mencoba tidur.'
Mereka tertawa pelan, kemudian saling mengingatkan untuk beristirahat. Syifa menutup telepon setelah mengucapkan selamat malam. Ia meletakkan ponsel dekat jam, melihat pakaian yang sudah siap, lalu mematikan lampu. Esok adalah hari yang telah dipilih setelah satu per satu keperluan diperiksa. Malam ini ia ingin menyambutnya dengan tubuh yang cukup beristirahat.