Jumat pada akhir pekan kedelapan proyek, Athar berjalan bersama tim melewati ruang penyimpanan yang sempat tertunda. Perlengkapan sudah dipasang dan diperiksa. Ia mencocokkan hasil pekerjaan dengan daftar yang dibawa, berhenti ketika satu catatan belum mempunyai konfirmasi penyelesaian.
Penanggung jawab pemasangan menunjukkan bagian yang dimaksud. Mereka memeriksanya kembali sebelum Athar memberi tanda pada halaman terakhir. Ia masih harus menyerahkan laporan ke pusat, tetapi pekerjaan tahap persiapan yang menjadi tugasnya telah selesai sesuai penyesuaian yang disetujui.
Satria menerima penjelasannya melalui pertemuan yang dijadwalkan sore itu. Ia menanyakan keterlambatan pemasok dan biaya tambahan. Athar menunjukkan persetujuan serta bukti penerimaan yang telah dicocokkan. Untuk penempatan tetap, atasannya masih perlu menyelesaikan pengaturan kebutuhan pegawai.
'Saya akan memberi kabar setelah rinciannya siap,' kata Satria. 'Sementara jalankan serah terima sesuai jadwal.'
Athar mengiyakan. Malam itu ia menghubungi Syifa dengan suara yang lebih ringan. Wanita tersebut sudah mengetahui pekerjaan mendekati selesai, tetapi menunggu kabar setelah pemeriksaan benar-benar berakhir.
'Jadi sekarang kita bisa memastikan pertemuan keluarga berikutnya?' tanyanya.
'Bisa. Kalau kamu masih menginginkannya.'
Syifa tersenyum. Mereka membicarakan hari Minggu dua pekan sesudahnya, di rumah Syifa. Musim pesanan toko masih berjalan, sehingga ia perlu memastikan pembagian tugas sebelum mengundang orang. Athar akan bertanya kepada Bagas serta dua kerabat yang hendak ikut. Keduanya baru mengirim undangan setelah jawaban keluarga dan urusan toko sesuai.
Pada Minggu yang telah disepakati, Syifa terbangun sebelum alarmnya. Rumah masih sunyi. Ia berjalan ke dapur, memeriksa makanan yang perlu disiapkan, lalu menyentuh sandaran kursi yang semalam dipindahkan bersama Hadi. Ruang depan tidak dipenuhi dekorasi. Ada tempat duduk cukup untuk orang yang diundang dan meja yang tidak menghalangi jalan.
Bu Murni datang membawa sebagian hidangan. Ia mengetuk sebelum masuk, lalu tertawa ketika melihat Syifa sudah berpakaian tetapi belum menyelesaikan sarapan.
'Kalau perut kosong, nanti tanganmu dingin terus,' katanya.
Syifa mengambil makanan sedikit. Ia mencoba menyuap sambil memeriksa pintu, membuat Bu Murni menyuruhnya duduk sampai selesai. Kunci rumah belum perlu dipegang sepanjang pagi.
Hadi tiba sesudah menyelesaikan urusan pembukaan toko dengan pegawai yang bertugas. Beberapa orang lain akan bergantian datang sesuai pembagian yang sudah dibicarakan. Ia menanyakan apakah ada barang yang masih perlu dipindahkan, kemudian membantu meletakkan gelas sebelum duduk.
Keluarga Athar datang menjelang siang. Bagas berjalan bersama Ros dan dua kerabat yang sebelumnya telah disebutkan kepada Syifa. Athar berada di belakang membawa buah serta bingkisan. Ia sempat kesulitan membuka pintu pagar dengan tangan penuh sampai Hadi keluar membantu.
Syifa menunggu di dekat pintu. Ketika Athar mengangkat wajah, ia melihat lelaki itu sama gugupnya. Senyumnya muncul sebentar, lalu hilang ketika Bagas meminta ia menaruh bawaan sebelum menyalami tuan rumah.
Mereka duduk setelah makanan ringan dihidangkan. Salah seorang kerabat menanyakan perjalanan dan Bagas menjawab bahwa kali ini jaraknya tidak sejauh perjalanan Athar dari kantor pusat. Percakapan ringan itu memberi Syifa kesempatan menghangatkan tangannya pada gelas.
Bagas kemudian menyampaikan maksud kedatangan. Ia berbicara tentang niat putranya untuk menikah dengan Syifa, setelah keduanya saling mengenal dan membicarakan kehidupan yang hendak dijalani. Ia tidak menceritakan pengkhianatan Ryan atau menjadikan kesedihan lama sebagai alasan Syifa harus menerima.
Ketika diminta berbicara, Athar meletakkan gelasnya. Ia menatap Syifa, bukan hanya orang-orang yang duduk di sekeliling mereka.
'Syifa, aku datang bersama keluargaku untuk melamarmu. Aku ingin menikah denganmu dan menjalani hidup bersama. Apakah kamu bersedia?'
Syifa mendengar pertanyaan itu sampai selesai. Ia sudah membayangkan jawabannya sejak mereka memilih hari, tetapi kata-kata yang diucapkan di ruang tamunya tetap membuat matanya panas.
'Saya bersedia,' jawabnya. Ia menarik napas sebelum melanjutkan. 'Saya menerima lamaran Athar dan ingin melanjutkan persiapan pernikahan bersama.'
Bagas mengucap syukur. Bu Murni meraih tisu dari meja, kali ini benar-benar mengusap matanya. Hadi tersenyum di tempat duduknya. Athar baru terlihat bernapas lebih panjang setelah Syifa tersenyum kepadanya.
Seorang kerabat menanyakan perkiraan waktu pelaksanaan. Syifa menjelaskan musim pesanan yang harus diselesaikan dan kebutuhan mengurus dokumen. Athar menambahkan bahwa rincian penempatan kerjanya juga masih menunggu jawaban resmi. Mereka telah memilih arah yang sama, tetapi belum akan mengumumkan tanggal akad pada siang itu.
Bagas menyarankan memberi waktu untuk persiapan tersebut, lalu mengajak semua berdoa. Sesudahnya mereka makan bersama. Ros membantu Bu Murni membawa hidangan, sementara Athar menggeser meja kecil agar tamu yang lebih tua dapat meletakkan piring dengan nyaman.
Syifa sempat berdiri untuk mengambilkan minum. Bu Murni menahannya agar menyelesaikan makan lebih dahulu. Ia tertawa dan kembali duduk. Untuk sekali ini, orang-orang di rumahnya dapat mengurus gelas tanpa menunggu ia berdiri setiap beberapa menit.
Setelah makan, Ros meminta berfoto. Mereka berkumpul di ruang depan, mencoba menempatkan semua orang tanpa menutupi bingkisan. Hadi membantu mengambil gambar, lalu bergantian ikut ketika salah seorang kerabat memegang ponsel. Syifa memilih satu foto yang wajahnya tidak tertutup tangan dan mengirimkannya kepada Athar.
Menjelang sore, tamu mulai berpamitan. Bagas memegang bahu putranya sebentar sebelum keluar. Athar menunggu sampai sebagian bawaan sudah masuk kendaraan, lalu kembali untuk menanyakan apakah Syifa masih membutuhkan bantuan membereskan rumah.
'Yang berat sudah dipindahkan. Aku ingin duduk sebentar,' katanya.
Mereka duduk di teras selama Bu Murni dan Ros menyelesaikan percakapan dekat gerbang. Athar memandang ruang tamu yang kembali lebih lengang.
'Tadi aku hampir lupa pertanyaannya,' akunya.
'Jangan bilang kamu datang hanya membawa buah.'
Athar tertawa. Syifa ikut tertawa, lalu mengusap sudut matanya yang kembali basah. Ketika keluarga benar-benar berangkat, ia berdiri melambaikan tangan. Sesudah gerbang ditutup, ia kembali ke dalam bersama Bu Murni, membawa kabar yang kali ini dapat disebut dengan jelas: lamaran itu telah diterimanya.
Di dekat lemari, foto Wardi dan Salimah masih berada pada tempatnya. Syifa meluruskan bingkai yang sedikit miring setelah kursi dipindahkan. Ia memandang wajah keduanya sebentar, membiarkan rasa rindu datang bersama kegembiraan, lalu berbalik membantu Bu Murni mengumpulkan gelas yang kosong.