Pada Selasa pekan keenam proyek, Athar menerima kabar bahwa bahan untuk perlengkapan ruang penyimpanan belum dikirim. Ia berdiri di dekat pintu cabang dengan daftar kedatangan barang di tangan. Tim pemasangan sudah menanyakan kapan mereka dapat mulai mengerjakan bagian tersebut.
'Kemarin disebut hari ini sampai,' katanya kepada wakil pemasok melalui telepon. 'Sekarang posisinya di mana?'
Jawaban pertama hanya menyebut ada kendala. Athar meminta orang itu memeriksa waktu yang dapat dipastikan, lalu menunggu. Di seberang pintu, beberapa pekerja menurunkan barang lain yang memang sudah datang. Ia bergeser agar jalan mereka tidak tertutup.
Kabar berikutnya lebih buruk. Bagian yang ditunggu baru akan tersedia pekan depan. Athar membuka catatan persetujuan pengiriman dan menemukan tanggal yang sebelumnya telah dikonfirmasi. Ia mengirim salinannya, meminta penjelasan tertulis, lalu menghubungi penanggung jawab tim di lokasi.
Mereka duduk di meja yang belum mempunyai semua kursinya. Athar membentangkan jadwal delapan pekan dan menandai pekerjaan yang langsung terkena akibat. Ada pekerjaan yang dapat dilanjutkan di ruang lain, tetapi pemasangan tertentu tidak dapat dimulai hanya karena orangnya sudah berada di sana.
'Kalau pindah urutan, tim harus datang lagi,' kata penanggung jawab pemasangan.
'Berapa tambahan perjalanan dan waktunya? Saya perlu menyampaikan angka yang benar sebelum diputuskan.'
Mereka menghitung pilihan berdasarkan pekerjaan yang masih tersedia. Athar tidak langsung menyuruh semua orang menunggu tanpa kepastian. Ia meminta kegiatan yang tidak bergantung pada bahan tersebut tetap berjalan, sementara bagian lain ditahan sampai perubahan urutan disetujui.
Menjelang siang, ia melaporkan masalah kepada pusat. Satria menanyakan apakah tanggal yang baru sudah dipastikan atau masih perkiraan. Athar menjawab bahwa pemasok baru memberi batas waktu sementara dan akan mengonfirmasi lagi sore itu.
'Jangan kirim jadwal pengganti seolah semuanya sudah pasti,' kata Satria. 'Tunjukkan yang masih bergantung pada jawaban mereka.'
Athar kembali memeriksa catatan. Ia menyisihkan bagian yang masih berupa perkiraan, kemudian menuliskan pilihan serta biaya tambahan. Sisa pekan itu harus diatur ulang. Ia sudah berjanji menemui Syifa untuk makan pada Jumat malam, tetapi sekarang belum tahu apakah pada hari tersebut masih perlu bertemu pemasok.
Ia mengirim pesan sebelum rapat berikutnya dimulai. Syifa baru membacanya ketika toko lebih lengang. Ia telah membayangkan pulang cepat pada Jumat, bahkan menyisihkan pekerjaan supaya tidak harus membuka map setelah makan. Melihat pesan itu, ia meletakkan ponsel dan menatap daftar di depannya.
Ketika Athar menelepon malamnya, Syifa menjawab dari dapur.
'Jumatnya pasti batal?' tanyanya.
'Belum pasti. Tapi aku tidak mau kamu menyiapkan semuanya lalu baru kukabari sore itu. Kamis aku harus sudah punya jawaban.'
'Aku kecewa. Minggu kemarin kita juga cuma sempat bertemu sebentar.'
'Aku tahu.'
Athar mendengar suara alat makan. Ia masih berada di ruang kecil cabang, merapikan berkas sebelum pulang ke rumah Bagas. Di depannya terdapat dua versi jadwal yang tidak dapat dijadikan janji untuk Syifa.
'Aku ingin bilang bisa. Tapi sekarang aku belum tahu,' katanya.
'Kalau akhirnya tidak bisa, aku perlu mengatur malamku sendiri.'
'Iya. Kamis sebelum kamu pulang kerja aku beri kepastian.'
Syifa menurunkan gelas. Ia ingin mendengar bahwa Athar akan datang, tetapi jawaban yang dipaksakan malam ini tidak akan membuat barang tiba lebih cepat. Ia bertanya apakah pria itu sudah makan. Athar mengatakan belum sempat, lalu tertawa pendek ketika Syifa menyuruhnya mencari makanan sebelum ia mulai menjawab semua pertanyaan dengan suara marah.
'Tadi hampir,' akunya. 'Orang menanyakan kabel, aku malah membuka daftar bahan.'
'Aku tadi salah menaruh buku pesanan. Pak Hadi sampai ikut mencari. Ternyata kubawa ke meja depan sendiri.'
Mereka tertawa pelan. Setelah beberapa menit, Syifa meminta Athar berhenti membereskan berkas sambil menelepon. Ia dapat mendengar bunyi halaman terus dibalik dari tadi. Pria itu meletakkan kertas dan menjauh dari meja.
'Sekarang aku dengar,' katanya.
Syifa menceritakan satu pelanggan yang mengubah pilihan warna setelah barang siap. Ia tidak meminta Athar menyelesaikannya. Ia hanya ingin menyampaikan mengapa sore itu ia juga pulang dengan kepala penuh. Athar mendengarkan sampai selesai, lalu menceritakan bagaimana Bagas pagi tadi mengira ia belum berangkat karena melihat satu sepatu tertinggal.
Percakapan berakhir setelah Athar mengatakan akan pulang dan makan. Ia mengirim laporan terakhir untuk hari itu, memastikan orang yang bertugas menerima salinannya, lalu menutup ruang kerja. Bagas masih menunggu di rumah dengan sebagian lauk yang disisihkan. Athar meminta maaf karena belum sempat memberi perkiraan pulang lebih awal.
Pada Kamis siang, pemasok akhirnya mengonfirmasi waktu pengiriman pekan berikutnya. Mereka juga menyetujui menanggung tambahan perjalanan yang timbul dari keterlambatan bagiannya. Pusat menerima perubahan urutan pekerjaan setelah memeriksa biaya yang masih harus ditanggung perusahaan. Athar memperoleh jadwal rapat Jumat yang tidak dapat dipindahkan.
Ia menelepon Syifa sebelum wanita itu meninggalkan toko.
'Jumat aku belum bisa. Rapatnya tetap malam. Aku minta maaf.'
Syifa diam sebentar, lalu menjawab bahwa ia akan makan bersama Bu Murni. Ia belum menjanjikan hari pengganti. Mereka sepakat melihat kesempatan setelah bahan datang dan pekerjaan yang tertahan dapat dilanjutkan.
Jumat malam, Syifa benar-benar datang ke rumah tetangganya. Bu Murni menyediakan ikan goreng dan meminta bantuannya membuka wadah sambal yang tutupnya terlalu rapat. Setelah berhasil, Syifa mendengar cerita tentang tanaman yang rusak dimakan ayam tetangga. Ia tertawa, ikut kesal, lalu menemani perempuan itu menyiram halaman sebelum pulang dengan sebagian lauk untuk sarapan.
Pada Selasa pekan ketujuh, kiriman tersebut akhirnya tiba. Athar berada di lokasi ketika jumlah dan kondisinya diperiksa. Satu bagian kemasan dibuka untuk mencocokkan barang dengan pesanan sebelum tim menerima seluruhnya. Sesudah pemeriksaan selesai, ia mengirim konfirmasi kepada pusat dan meneruskan urutan kerja yang sudah disepakati.
Ia sempat ingin mengabari Syifa dengan tulisan besar bahwa masalah selesai. Tangannya berhenti ketika melihat tim baru membawa barang ke ruang yang akan dikerjakan. Athar menulis bahwa kiriman sudah diterima dan pemasangan akan dimulai. Setelah mengirimnya, ia kembali bergabung dengan orang-orang yang masih mempunyai pekerjaan hingga akhir pekan kedelapan.