Pada Kamis pekan ketiga proyek, Athar baru meninggalkan kantor pusat ketika lampu di beberapa lantai lain sudah dipadamkan. Tiga malam terakhir ia pulang lebih lambat daripada rencananya. Ada daftar perlengkapan yang berubah setelah tim di cabang memeriksa ruang, dan setiap perubahan membuat bagian lain harus diperiksa kembali.
Ia berhenti di dekat lift untuk menelepon Syifa. Sebelum suara sambungan terdengar, ia baru ingat wanita itu telah mengirim pesan akan menemui pengrajin sore tadi. Athar membatalkan panggilan dan menulis bahwa ia sudah berangkat pulang, kemudian memasukkan ponsel ke saku.
Di toko, Syifa berdiri di depan beberapa kursi yang baru diturunkan dari kendaraan. Pesanan besar yang ditanyakan pelanggan beberapa pekan sebelumnya akhirnya diterima dengan pengiriman bertahap. Malam ini mereka memeriksa bagian pertama sebelum diserahkan esok.
Hadi menarik satu kursi sedikit menjauh dari yang lain. Ketika diletakkan di lantai rata, salah satu kakinya tidak menapak sempurna. Syifa mencobanya, lalu meminta kursi itu dipisahkan. Mereka tidak ingin pelanggan baru menemukan masalah ketika seluruh pesanan telah dibawa.
'Pengrajin masih bisa dihubungi?' tanyanya.
'Bisa, Bu. Tadi baru meninggalkan toko.'
Syifa menelepon, menjelaskan bagian yang ditemukan, lalu mengirim foto serta video pendek. Setelah memeriksa dengan orang yang mengerjakannya, pengrajin mengatakan kursi perlu dibawa kembali. Ia dapat menukar dengan satu yang telah selesai, tetapi perlu perjalanan tambahan malam itu.
Hadi melihat jam. Pegawai yang membantu memuat barang belum makan. Syifa meminta mereka beristirahat bergantian, sementara ia membicarakan waktu penggantian yang benar-benar dapat dipenuhi. Ia juga menghubungi pelanggan dan menjelaskan satu bagian masih diperiksa. Jadwal esok belum berubah, tetapi ia tidak ingin menunggu pagi untuk mengatakan mungkin ada kendala.
Ketika pesannya kepada Athar dibuka, pria itu baru sampai di apartemen. Ia membalas bahwa ia bisa mendengarkan setelah Syifa selesai, lalu menyiapkan makan. Ada dorongan untuk langsung menyarankan sesuatu. Ia menahannya karena belum mengetahui apa yang sebenarnya diperlukan.
Kursi pengganti tiba setelah toko tutup untuk pelanggan lain. Hadi membantu menurunkan dan memeriksanya di tempat yang sama. Syifa mencoba duduk, menggeser beban tubuh, kemudian memastikan sambungan serta bagian permukaan tidak rusak selama dibawa.
Mereka menandai barang yang telah diperiksa dan menyimpannya bersama pesanan lain. Kursi yang harus diperbaiki dibawa pulang pengrajin dengan catatan yang disepakati. Syifa menanyakan apakah tambahan perjalanan akan mengubah biaya, lalu menyelesaikan bagian yang menjadi tanggung jawab masing-masing sebelum orang itu berangkat.
'Besok saya datang lebih pagi,' kata Hadi ketika mereka menutup pintu.
'Jam seperti rencana saja, Pak. Mobilnya juga belum akan datang lebih awal.'
Hadi tersenyum lelah dan berpamitan. Syifa berjalan pulang membawa kantong makan yang dibeli pegawai sebelum warung tutup. Di rumah ia langsung mencuci tangan, memindahkan makanan ke piring, lalu mengirim pesan bahwa ia sudah dapat menelepon.
Athar mengangkat pada nada kedua. Ia sudah berganti pakaian, rambutnya masih basah. Syifa menanyakan apakah ia baru selesai mandi atau baru sampai.
'Sudah sampai dari tadi. Aku makan dahulu,' jawabnya. 'Kursinya bagaimana?'
Syifa menceritakan penggantian yang baru selesai. Ia tidak ingin seluruh percakapan dihabiskan untuk menjelaskan kaki kursi, tetapi kelelahan membuatnya terus mengingat bagian yang hampir luput. Athar mendengarkan sampai ia berhenti sendiri.
'Besok pagi kamu ikut mengantar?' tanyanya.
'Aku menunggu di toko. Pak Hadi ikut mobil dan menghubungi kalau sudah sampai. Aku ingin ada yang bisa menerima pelanggan lain.'
'Kalau sudah selesai, kabari. Aku ikut senang kalau akhirnya terkirim.'
Syifa mengangguk. Ia lalu bertanya tentang persiapan Athar menuju lokasi cabang pekan depan. Pria itu menjelaskan bahwa sebagian pekerjaan pusat telah diserahkan, sementara jadwal di lokasi akan lebih banyak mempertemukannya dengan tim pemasangan dan pengadaan.
'Kamu mulai tinggal dekat sini?' tanyanya.
'Untuk tugas proyek, iya. Sebagian malam mungkin di rumah Ayah kalau jadwal memungkinkan. Itu sudah kubicarakan dengannya. Aku masih harus kembali ke pusat pada waktu tertentu.'
Syifa menatap layar. Ada rasa senang mendengar jarak mereka akan berkurang, disusul keinginan menyusun terlalu banyak rencana. Ia baru saja menyelesaikan malam yang menunjukkan betapa mudah jadwal berubah karena satu barang yang tidak cocok.
'Kalau ada malam kosong, kita makan bersama. Tapi biarkan aku memeriksa toko dahulu,' katanya.
'Aku juga perlu melihat pekerjaan di lokasi. Kita pilih satu setelah tahu.'
Mereka berbicara tentang hal lain sebelum menutup panggilan. Athar menceritakan rekan yang salah membawa bekal, sedangkan Syifa mengakui ia hampir menaruh kunci toko ke dalam kantong makanan. Ia tertawa ketika pria itu mengatakan kesalahan mencari kunci rupanya dapat menular lewat telepon.
Esok siang, Hadi mengirim foto pesanan yang sudah diterima pelanggan. Kursi pengganti dapat digunakan dan jumlah barang sesuai. Syifa memeriksa konfirmasi pembayaran tahap itu sebelum mengabari Athar. Pesannya baru dibaca menjelang sore.
Pada Sabtu, Athar pulang ke kampung membawa barang yang diperlukan selama tugas di cabang. Ia menaruh tas di rumah Bagas, membantu ayahnya memindahkan sesuatu di halaman, lalu menemui Syifa di toko setelah keduanya memastikan waktu. Wanita itu baru selesai menutup satu pembicaraan dengan pelanggan.
'Aku tidak punya cerita kursi lagi hari ini,' katanya ketika Athar masuk.
'Bagus. Aku juga belum ingin membahas daftar perlengkapan.'
Syifa tertawa dan mengambil tas. Mereka makan di warung yang tidak jauh dari toko, memesan lauk yang masih tersedia. Athar hendak menceritakan satu pekerjaan ketika Syifa menunjukkan sendoknya, meminta ia makan dulu sebelum lauk dingin. Pria itu menurut.
'Sambalnya jangan langsung semuanya,' Syifa mengingatkan.
Athar terlanjur menyuap. Beberapa detik kemudian ia meraih gelas, membuat Syifa tertawa lebih keras. Ia menggeser wadah sambal menjauh dan meminta tambahan air kepada penjual.
Sesudah beberapa suapan, Syifa bertanya bagaimana Bagas menyambut kepulangannya. Athar menjawab ayahnya sudah menyiapkan tempat untuk barang, bahkan mengingatkan jam ketika rumah biasanya dikunci. Cerita tersebut membuat Syifa tersenyum. Malam itu mereka mempunyai waktu bertemu tanpa harus mengisi setiap jedanya dengan rencana acara. Untuk sementara, ia ingin menikmati lauk hangat dan orang yang duduk di depannya.