Pada Jumat pagi, Satria menggeser satu berkas ke hadapan Athar. Di halaman pertama terdapat jadwal delapan pekan untuk menyiapkan operasional cabang. Athar membacanya perlahan, berhenti pada pembagian antara pekerjaan di kantor pusat dan pekerjaan di lokasi.
'Tiga pekan pertama di sini,' kata Satria. 'Sesudahnya Anda lebih banyak di cabang. Tetap ada koordinasi dengan pusat, tetapi jangan semua keputusan menunggu orang pergi dan pulang.'
Athar memeriksa daftar perlengkapan serta orang yang akan bekerja bersamanya. Ia diminta mengoordinasikan jadwal, memeriksa kecocokan kebutuhan dengan pengadaan, dan memastikan masalah yang memerlukan persetujuan tidak terlambat dilaporkan. Ia tidak akan menyetujui seluruh pengeluaran sendirian.
'Bagian pemasangan ditangani tim yang memang bertugas di sana, Pak?'
'Betul. Anda memastikan urutannya bisa dijalankan. Kalau barang belum datang, jangan menulis pemasangan selesai hanya karena tanggalnya sudah lewat.'
Athar mencatat pertanyaan mengenai pekerjaan yang sekarang dipegangnya. Beberapa masih perlu diteruskan kepada rekan di pusat. Satria meminta serah terimanya diselesaikan sebelum proyek dimulai pada Senin. Waktu yang tersedia singkat, tetapi Athar sudah menyiapkan daftarnya sejak pembicaraan Selasa.
Ia membuka catatan, menunjukkan bagian yang dapat dialihkan dan bagian yang perlu diselesaikannya dahulu. Satria membaca sambil menanyakan satu jadwal yang berbenturan. Athar mengubah rencana pertemuan setelah memastikan orang yang akan menerima tugas dapat hadir.
'Soal penempatan sesudah delapan pekan itu?' tanyanya kemudian.
'Kita bicarakan setelah kebutuhan cabang dan hasil kerjanya jelas. Ini penugasan proyek. Jangan dianggap surat pindah tetap.'
'Baik, Pak.'
Athar meminta waktu membaca rincian sebelum memberi jawaban pada sore hari. Satria menyetujuinya. Ia kembali ke meja dan menghubungi bagian yang mengurus perjalanan kerja, memastikan kebutuhan ketika nanti harus berada di lokasi. Jarak dari cabang ke kampung lebih memungkinkan daripada perjalanan dari kantor pusat, tetapi ia tetap mencatat jam kerja serta hari ketika harus kembali ke kota.
Menjelang istirahat, ia mengirim pesan kepada Syifa. Ia menyebut lama proyek dan perubahan tempat kerja sementara, lalu menanyakan kapan mereka dapat berbicara sebentar. Balasan datang setelah Syifa selesai menerima pelanggan. Ia bisa menelepon dari ruang belakang toko sebelum pesanan berikutnya datang.
'Aku tertarik mengambilnya,' kata Athar setelah menjelaskan tugas. 'Pekerjaannya lebih besar daripada bagian yang sekarang. Tapi delapan pekan ini akan padat.'
'Minggu depan langsung mulai?'
'Senin. Masih ada serah terima yang harus kuselesaikan sore ini kalau menerima.'
Syifa menanyakan kapan Athar akan berada dekat kampung. Ia menjelaskan tiga pekan awal di kota, kemudian lebih sering datang ke cabang. Tempat bermalam dan perjalanan tertentu akan diatur sesuai tugas. Ia belum merencanakan tinggal di rumah Syifa.
'Kalau ada waktu bertemu saat kamu pulang, kabari setelah tahu jadwal,' kata Syifa. 'Aku juga mulai menerima pesanan untuk musim berikut. Ada beberapa yang harus kuputuskan minggu ini.'
'Kita belum bisa menentukan pertemuan berikut sekarang.'
'Belum. Tapi kita bisa melihat setelah tahap kerjamu selesai. Jangan setiap ada perubahan langsung memindahkan acara yang belum jadi dibuat.'
Athar tertawa pendek. Ia mengatakan akan memberi kabar saat mendapat jadwal kerja yang lebih tetap. Syifa menanyakan apakah ada bagian tawaran yang masih membuatnya ragu. Pria itu menyebut beban koordinasi dan kekhawatiran menerima tanggung jawab yang ternyata bergantung pada keterlambatan orang lain.
'Kalau terlambat, kamu yang harus menjelaskan?' tanya Syifa.
'Aku yang harus mengetahui sebelum semuanya menumpuk. Bukan berarti aku bisa membuat setiap barang datang sendiri.'
'Kalau kamu masih perlu bertanya ke Satria, tanyakan sekarang. Jangan menunggu sampai harus menjanjikan hal yang tidak kamu pegang.'
Athar melihat catatan di mejanya. Satu bagian mengenai perubahan jadwal memang belum cukup jelas. Ia menandainya untuk dibicarakan sebelum menjawab. Dari seberang, Syifa mendengar Hadi mengetuk pintu dan memanggil namanya.
'Aku harus kembali. Setelah kamu memutuskan, kabari. Nanti malam kita bisa bicara lebih lama.'
Athar mengiyakan. Mereka menutup panggilan dan Syifa keluar menerima seorang pelanggan yang membawa daftar kebutuhan untuk beberapa ruang. Hadi sudah menunjukkan contoh produk yang tersedia, tetapi pelanggan ingin waktu penyelesaian lebih cepat daripada yang biasanya diberikan.
Syifa memeriksa daftar. Ada barang yang dapat disediakan dari stok, ada yang perlu dibuat. Ia meminta pelanggan tidak menyamakan tanggal semua pengiriman sebelum pengrajin menjawab. Hadi membantu mencatat pilihan yang benar-benar diinginkan, memisahkan ukuran pasti dari bagian yang masih perlu diukur.
Pembicaraan itu memakan waktu sampai menjelang sore. Syifa tidak menerima seluruh pesanan dengan syarat yang sama. Pelanggan membawa pulang penawaran untuk diperiksa lebih dahulu, sementara toko menghubungi pengrajin guna memastikan kemampuan pengerjaan. Ketika pintu kembali lengang, ia duduk bersama Hadi dan membagi panggilan yang harus dilakukan.
Di kota, Athar kembali menemui Satria setelah memperoleh jawaban atas urusan perjalanan. Ia menanyakan siapa yang berwenang menyetujui perubahan pengadaan dan bagaimana melaporkan keterlambatan yang mengubah urutan pekerjaan. Satria menyebut jalurnya, lalu meminta setiap perubahan penting disertai alasan dan akibatnya.
Athar membaca rincian sekali lagi dan menerima penugasan itu. Sesudahnya ia menghubungi rekan yang akan meneruskan pekerjaan lama, menyerahkan berkas, serta duduk cukup lama untuk menjelaskan bagian yang belum selesai. Ia baru menutup laptop setelah penerima tugas dapat menemukan dokumen yang diperlukan.
Malam itu, Syifa membaca kabar penerimaan proyek sambil menunggu jawaban pengrajin. Ia membalas ucapan selamat, kemudian mengangkat panggilan Athar setelah menyimpan pekerjaan.
'Sudah makan?' tanyanya.
'Sudah. Kamu?'
'Baru mau. Tadi masih memastikan pesanan.'
Athar meminta ia mengambil makanan dahulu. Syifa membawa piring ke meja dan menceritakan pelanggan yang belum menerima semua waktu pengiriman. Ia mendengar pria itu tertawa ketika mereka menyadari hari ini keduanya sama-sama diminta membuat jadwal yang lebih cepat daripada kenyataannya.
'Jadi kita tidak bisa saling menjanjikan akan selalu pulang awal,' ujar Athar.
'Kita bisa berusaha memberi tahu sebelum orang di rumah menunggu.'
Mereka menyepakati satu waktu menelepon pada akhir pekan untuk melihat jadwal berikutnya. Setelah panggilan ditutup, Athar memasukkan catatan proyek ke tas kerja. Syifa menyelesaikan makan dan memeriksa balasan pengrajin. Delapan pekan di hadapan mereka sudah mempunyai pekerjaan yang nyata, dan keduanya masih perlu menyiapkan hari pertama dengan baik.