Sabtu pekan berikutnya, Syifa meletakkan telepon di atas meja belakang toko. Bu Murni sudah mengabarkan akan menunggu di depan rumah setelah sarapan. Mereka hendak berbelanja pelengkap untuk makan siang esok di rumah Bagas.
Pak Hadi masuk membawa salinan dua pesanan. Syifa memintanya duduk sebentar sebelum ia berangkat. Sepanjang pekan mereka telah membagi pekerjaan untuk hari ini, tetapi masih ada satu pembayaran yang hanya boleh diteruskan setelah pemilik memeriksa perubahan jumlahnya.
'Yang ini saya jawab setelah kembali,' kata Syifa sambil menunjukkan halaman. 'Kalau ada perubahan ukuran pesanan, jangan dijanjikan bisa selesai hari yang sama sebelum pengrajin memastikan.'
Hadi mengangguk. Ia mengulangi bagian yang menjadi tanggung jawabnya: menerima pelanggan, mencocokkan pesanan, serta mencatat pembayaran dengan bukti. Syifa menutup map setelah keduanya memastikan letak nomor yang dapat dihubungi.
'Saya tidak jauh. Kalau perlu keputusan saya, telepon.'
'Baik, Bu. Semoga belanjanya tidak terlalu ramai.'
Syifa tertawa kecil. Ia mengambil tas dan berjalan keluar. Di depan toko ia berhenti menyapa pegawai yang sedang membersihkan pegangan pintu, lalu meneruskan langkah menuju rumah Bu Murni. Ada sedikit rasa janggal meninggalkan toko ketika seluruh lampunya baru menyala.
Bu Murni membawa daftar belanja dalam kantong kain. Mereka berjalan ke deretan penjual yang dapat dicapai dari kampung, membeli sayuran, buah, dan bahan pelengkap yang sudah dibicarakan dengan Ros. Ketika Syifa hampir memilih jumlah lebih banyak, Bu Murni menyentuh pergelangan tangannya.
'Orangnya lima, bukan satu kampung.'
'Saya takut kurang.'
'Kalau kurang nasi, masih bisa dimasak. Kalau terlalu banyak makanan, besok kamu pulang membawa semuanya lagi.'
Syifa mengembalikan sebagian pilihannya. Ia membaca daftar dan mencoret barang yang sudah masuk kantong. Mereka beralih ke penjual berikutnya ketika telepon berbunyi.
Hadi menjelaskan bahwa seorang pelanggan datang mengambil lemari kecil. Ukuran barang sesuai dengan catatan pesanan, tetapi pelanggan membawa foto ruang yang ternyata lebih sempit daripada perkiraan semula. Lemari itu tidak akan muat melewati bagian dekat pintu.
'Beliau meminta diganti model yang ada di depan. Harganya berbeda, Bu.'
'Barang yang dipesan sudah dibawa keluar?'
'Belum. Kami periksa ukurannya sebelum dimuat.'
Syifa bergeser dari jalan orang berbelanja. Ia meminta Hadi mengirim nomor pesanan serta foto model pengganti. Bu Murni mengangkat kantong dari tangannya dan mengatakan akan menunggu di dekat penjual buah.
Di layar, Syifa melihat lemari pilihan pelanggan. Lebih pendek dan sempit, tetapi mempunyai tambahan laci. Selisih harganya enam ratus ribu. Hadi sudah menulis perhitungan tanpa menghapus uang yang sebelumnya dibayar untuk barang pertama.
'Pelanggan bersedia menambah sesuai harga?' tanya Syifa.
'Beliau menanyakan apakah boleh memakai harga barang lama.'
'Untuk harga itu saya tidak setuju. Tapi kalau ukuran model baru cocok, pembayaran lama bisa dihitung dan sisanya dibayarkan. Pastikan beliau mengukur pintunya dengan orang di rumah, bukan hanya melihat foto.'
Hadi mengiyakan. Ia belum menjanjikan harga kepada pelanggan, sehingga tidak perlu menarik kembali janji yang dibuat atas nama Syifa. Ia mengatakan akan meneruskan pilihan tersebut, lalu mengabari hasilnya.
Syifa menutup telepon. Ada keinginan untuk segera kembali dan menyaksikan pembicaraan itu sendiri. Bu Murni datang dengan buah yang sudah dibeli, menanyakan apakah terjadi masalah besar.
'Ukuran ruang pelanggan tidak cocok. Pak Hadi sedang membicarakan penukaran.'
'Perlu pulang sekarang?'
Syifa memeriksa daftar. Masih ada dua barang yang harus dibeli. Orang di toko sudah mempunyai pilihan yang boleh ditawarkan, dan ia telah menjawab pertanyaan yang memerlukan persetujuan.
'Kita selesaikan dulu, Bu. Kalau perlu saya datang, Pak Hadi akan bilang.'
Mereka melanjutkan belanja. Syifa menahan ponselnya agar suara panggilan tetap terdengar, tetapi kembali memperhatikan barang di hadapan mereka. Ia hampir salah mengambil bumbu karena membaca pesan yang tidak berkaitan dengan toko. Bu Murni menunjuk pilihan yang benar dan menyuruhnya memeriksa nama pada kemasan sebelum membayar.
Menjelang mereka pulang, Hadi mengirim kabar. Orang di rumah pelanggan sudah mengukur bagian pintu dan tempat yang akan dipakai. Model pengganti dapat masuk. Pelanggan menyetujui tambahan enam ratus ribu dan ingin menyelesaikan pembayaran sebelum barang dimuat.
Syifa meminta bukti disertakan pada catatan pesanan yang diperbarui. Ia tidak menyebut urusan selesai sebelum uang dan penggantian barang benar-benar dicatat. Setelah membalas, ia membantu Bu Murni membagi barang bawaan agar tidak ada satu kantong yang terlalu berat.
Di rumah tetangganya, mereka menyimpan bahan yang perlu didinginkan. Bu Murni menyisihkan sebagian untuk disiapkan esok pagi. Syifa pamit kembali ke toko setelah memastikan tidak ada belanja yang tertinggal.
Hadi sedang memeriksa lemari pengganti bersama pelanggan ketika ia tiba. Syifa menunggu sampai pemeriksaan selesai, kemudian menyapa. Pelanggan menjelaskan kesalahan perkiraan ruangnya sambil menunjukkan ukuran yang dikirim dari rumah.
'Beruntung belum kami paksa masuk kendaraan,' katanya.
Syifa mengangguk. Mereka memeriksa pegangan dan laci sebelum barang dibungkus. Pembayaran tambahan sudah diterima dan tercatat bersama pembayaran terdahulu. Pelanggan membaca keterangan penggantian, menandatangani penerimaan, lalu membawa salinannya.
Dua pegawai memuat lemari setelah pintu kendaraan dibuka. Hadi memastikan barang pertama kembali ke tempat yang sesuai, dengan catatan bahwa pesanan itu telah diganti. Syifa melihat pelanggan berangkat sebelum mengajak pegawai seniornya ke meja belakang.
'Bagian mana yang paling sulit tadi, Pak?'
'Menjelaskan kenapa harga tidak bisa disamakan. Saya takut beliau merasa kami mencari tambahan setelah datang.'
'Tadi Bapak menunjukkan kedua harga sebelum beliau memilih. Itu membantu.'
Mereka mencocokkan bukti pembayaran, nomor barang, dan keterangan penukaran. Syifa menemukan satu lembar lama masih berada di atas tumpukan yang siap dikerjakan. Ia menyerahkannya kepada Hadi agar diberi tanda telah diganti. Setelah itu keduanya memeriksa bahwa pegawai tidak akan menyiapkan lemari pertama lagi.
Syifa menyimpan salinan terakhir di map. Ponselnya menyala membawa kabar Athar sudah tiba di rumah Bagas. Ia membalas akan bertemu esok, lalu beralih kepada pembayaran yang ditundanya sejak pagi. Toko tetap mempunyai pekerjaan, tetapi beberapa jam kepergiannya hari ini telah berakhir tanpa membuat semua orang berhenti menunggu di depan meja kosong.