Ros membuka pintu ketika Syifa dan Bu Murni baru sampai di halaman pada Minggu menjelang siang. Athar muncul dari belakangnya, mengambil wadah makanan yang dibawa tetangga Syifa sebelum mempersilakan keduanya masuk.
'Bagas masih memindahkan kursi,' kata Ros. 'Dari tadi tempat duduknya diganti terus.'
Dari ruang tengah terdengar suara ayah Athar membantah. Ia hanya ingin kipas angin tidak langsung mengarah kepada tamu. Athar mengangkat alis kepada Syifa, lalu membawa wadah ke meja makan. Keduanya sempat bertukar senyum sebelum Bagas menyambut dengan tangan yang masih memegang sandaran kursi.
Syifa sudah pernah datang ke rumah itu. Ia mengenali foto dan lemari di sisi ruangan, tetapi hari ini ia duduk dengan cara yang lebih hati-hati. Tasnya sempat diletakkan di pangkuan sebelum Ros menunjukkan tempat yang tidak akan menghalangi jalan.
Bu Murni menjelaskan makanan yang dibawanya. Ros mengucapkan terima kasih, lalu mengajak Syifa membantu menaruhnya bersama lauk yang telah disiapkan. Tidak perlu banyak pekerjaan lagi. Athar membawa gelas, sementara Bagas akhirnya berhenti mengubah posisi kursi.
Mereka makan lebih dahulu. Bagas bertanya tentang toko dan Syifa menceritakan penukaran lemari sehari sebelumnya. Ia tertawa kecil ketika Bu Murni menambahkan bahwa belanja sempat terhenti karena telepon.
'Tapi selesai juga, kan?' tanya Athar.
'Selesai. Tambahannya sudah masuk. Pak Hadi mencocokkan semuanya sebelum barang dibawa.'
Athar mengangguk. Ros meminta mangkuk sayur yang berada di dekatnya, lalu menceritakan bagaimana ia hampir menambahkan satu hidangan karena mengira akan ada tamu lain. Bagas mengangkat tangannya, mengakui rencana itulah yang sempat disampaikannya lewat telepon.
'Ayah sudah menurut. Lima orang,' katanya.
Syifa tertawa. Kegugupannya belum hilang, tetapi ia tidak lagi menghabiskan seluruh perhatian untuk memikirkan bagaimana tangannya diletakkan. Ketika piring mulai kosong, ia membantu Ros membawa sebagian ke dapur. Athar membawakan air minum baru dan mereka kembali duduk di ruang tengah.
Bagas membuka pembicaraan dengan menanyakan bagian yang sudah disepakati oleh putranya dan Syifa. Ia tidak meminta keduanya mengulang cerita sejak kecil. Athar menyampaikan bahwa mereka hendak melanjutkan hubungan menuju pernikahan, tetapi pengaturan pekerjaan dan tempat tinggal masih perlu dipastikan.
'Syifa tetap mengurus tokonya. Aku juga masih bekerja di kota. Ada kemungkinan tugas yang lebih dekat, tetapi aku belum menerima kepastian penempatan.'
Bagas menatap putranya. 'Kalau belum pasti, kalian tinggal di mana?'
Athar melirik Syifa. Mereka sudah membicarakan pilihannya berdua, dan ia menunggu wanita itu menjelaskan bagian yang menyangkut rumahnya.
'Saya ingin tetap tinggal di rumah saya kalau keadaan pekerjaan memungkinkan,' kata Syifa. 'Tokonya dekat, juga ada yang perlu saya urus setiap hari. Kalau akhirnya harus sering pergi, saya belum yakin pembagian waktunya bisa berjalan.'
'Rumah yang di kota disewa lagi?' tanya Ros.
'Tempat Athar sekarang masih diperlukan untuk pekerjaannya. Kami belum memutuskan mempertahankannya setelah menikah,' jawab Syifa.
Bagas menarik kakinya sedikit agar tidak menyenggol meja. Ia menyarankan mereka memeriksa pekerjaan lebih dahulu sebelum menambah pengeluaran untuk dua tempat sekaligus. Athar mengiyakan. Ia mengatakan akan menanyakan pilihan yang benar-benar tersedia kepada Satria pada pekan berikutnya.
'Ayah tidak keberatan kalau aku nanti tinggal di rumah Syifa?'
Bagas menoleh kepada wanita yang duduk di seberangnya. 'Rumah itu milik Syifa. Kalau dia mau dan kalian sudah memikirkannya, kenapa Ayah harus keberatan? Yang penting jangan datang lalu merasa semua boleh diatur sendiri.'
Syifa memandang gelasnya beberapa saat. Ia tidak menjelaskan kembali bagaimana kepercayaan pernah digunakan untuk mengambil lebih banyak darinya. Athar sudah mendengar kekhawatirannya dalam percakapan mereka sebelumnya. Hari ini ia ingin mendengar apakah keluarganya memahami pilihan yang mereka sampaikan.
'Saya ingin rumah dan usaha tetap diurus dengan jelas, Pak. Kalau ada kebutuhan bersama, kami membicarakannya. Saya tidak ingin semuanya bercampur lalu sulit dijelaskan.'
Bagas mengangguk. Ros menyebut bahwa ia juga kadang kesulitan mencari belanja rumah ketika kuitansi terselip bersama kertas lain. Bu Murni tertawa dan berkata itu sebabnya ia membawa daftar yang tidak boleh hilang sebelum seluruh barang dibeli.
Athar ikut tersenyum, lalu menanyakan urusan ayahnya. Ia tidak ingin rencana tinggal lebih dekat dianggap janji bahwa ia akan selalu berada di kampung pada setiap jam.
'Kalau ada keperluan, kabari aku sebelumnya kalau bisa, Yah. Aku akan lihat jadwal. Jangan menunggu sampai harus diselesaikan sore yang sama.'
'Ayah masih bisa mengurus banyak hal sendiri,' jawab Bagas. 'Kalau perlu ditemani, Ayah bilang. Kalau tidak bisa, kita cari hari lain.'
Ros menyetujui. Ia tidak menyisipkan permintaan agar Syifa mengambil alih urusan yang selama ini dikerjakannya. Sebaliknya, ia menanyakan jam toko yang paling sibuk supaya kunjungan keluarga tidak selalu muncul ketika pemilik harus menerima pelanggan.
Syifa menjawab dan mendapati percakapan mereka mulai lebih mudah. Ada hal yang sudah jelas, ada yang harus ditanyakan kepada orang di luar ruangan. Ia meminta Athar tidak menetapkan acara berikut sebelum jawaban mengenai pekerjaan diperoleh. Pria itu setuju dan membuka catatan pendek di ponselnya.
'Jadi minggu ini aku periksa pilihan tugas. Kamu lihat pengaturan toko dan tempat tinggal. Setelah itu kita bicara lagi, ya?'
'Iya. Yang tentang rumah tidak perlu kamu putuskan sendirian sebelum bertanya kepadaku.'
'Aku tahu.'
Bagas menutup pembicaraan dengan doa singkat. Ia memberikan restu atas niat mereka, lalu meminta Athar membantu membawa buah. Bu Murni menggeser gelas agar meja dapat dipakai. Tidak ada cincin yang dikeluarkan atau hari akad yang diumumkan. Mereka masih berada pada makan siang yang disiapkan untuk lima orang.
Menjelang pulang, Syifa membantu mencuci wadah makanan. Ros mengeringkannya sebelum dikembalikan, menambahkan bahwa lain kali mereka tidak perlu membawa terlalu banyak. Athar mengantar Syifa dan Bu Murni sampai gerbang.
'Selasa malam aku bisa telepon lebih lama,' katanya kepada Syifa. 'Sesudah bicara dengan kantor.'
Syifa mengangguk. 'Aku tunggu kabarnya.'
Bu Murni sudah melangkah lebih dahulu ketika Syifa menoleh sekali lagi. Bagas berdiri di ambang pintu, mengangkat tangan. Ia membalas lambaian itu, lalu berjalan pulang bersama tetangganya sambil membawa wadah yang sekarang ringan. Sesampainya di rumah, ia menaruhnya di rak dan memeriksa jadwal toko untuk esok. Ada jawaban yang masih ditunggu, tetapi ia sudah tahu pertanyaan mana yang perlu dibawa ke percakapan Selasa.