Bagas mengangkat telepon ketika Athar sedang menutup pintu apartemennya pada Jumat malam. Suara televisi terdengar dari rumah di kampung, disusul bunyi benda diletakkan di meja.
'Sudah makan?' tanya ayahnya.
'Baru mau. Ayah sedang bisa bicara?'
'Bisa. Ros lagi membereskan piring.'
Athar meletakkan tas di dekat kursi. Sejak pembicaraan terakhir dengan Syifa, ia sudah membayangkan akan menelepon dengan tenang. Namun ketika ayahnya benar-benar menunggu, ia justru memeriksa sakunya untuk mencari kunci yang baru saja diletakkan di meja.
'Soal pertemuan dengan Syifa yang pernah kita bicarakan, Yah. Kalau Minggu pekan depan, Ayah ada rencana?'
Bagas meminta waktu melihat kalender. Athar mendengar langkah menjauh, lalu suara Ros menanyakan apa yang dicari. Beberapa saat kemudian, ayahnya kembali dengan napas sedikit lebih berat.
'Pagi Ayah di rumah. Siangnya juga tidak ada acara. Syifa sudah setuju?'
'Dia yang mengusulkan hari Minggu. Tapi kami ingin memastikan Ayah dan Bu Murni bisa.'
'Kalau kalian mau ke sini, Ayah senang.'
Athar bersandar pada ujung meja. Bagas sudah mengetahui niat mereka sejak sebelumnya. Yang masih perlu diputuskan malam ini adalah waktu, tempat duduk, dan orang-orang yang benar-benar akan hadir. Ayahnya mulai menyebut nama dua kerabat yang biasa membantu bila ada urusan keluarga.
'Untuk pertemuan awal ini sedikit dulu, Yah,' kata Athar. 'Kami masih harus membicarakan pekerjaan dan tempat tinggal. Syifa datang bersama Bu Murni.'
Bagas terdiam sebentar. 'Ayah pikir boleh sekalian panggil yang lain.'
'Nanti ada waktunya. Aku belum ingin Syifa sampai di rumah lalu mendapati orang yang tidak diketahuinya akan datang.'
'Baik. Ayah, Ros, kalian berdua, sama Bu Murni. Begitu?'
'Iya. Makan siang bersama kalau tidak merepotkan.'
Bagas menyetujui. Ia kemudian bertanya apakah Athar perlu dijemput di stasiun. Putranya menjelaskan ia akan memakai mobil dan pulang sejak Sabtu, sehingga bisa membantu menyiapkan rumah. Percakapan berakhir setelah Bagas mengingatkan agar ia makan sebelum lauk yang dibeli menjadi dingin.
Athar membuka bungkus makanannya. Nasinya masih hangat, tetapi ia baru mengambil suapan pertama ketika Syifa mengirim pesan bahwa Bu Murni belum selesai menerima tamu. Mereka sepakat saling mengabari setelah pembicaraan masing-masing selesai. Athar menaruh ponsel dan makan sampai habis.
Di kampung, Syifa baru menyeberang ke rumah Bu Murni setelah dua perempuan yang bertamu pamit. Ia membawa wadah kosong yang sebelumnya dipakai mengantar makanan. Bu Murni menerimanya sambil menyuruh Syifa duduk di dapur.
'Minum dulu. Kamu baru tutup toko?'
'Sudah dari tadi, Bu. Saya menunggu tamunya pulang.'
Bu Murni menuangkan air. Di dekat kompor ada sayuran yang belum dipotong. Syifa menggeser talenan mendekat, lalu bertanya apakah ia boleh membantu sambil berbicara.
'Boleh. Tapi jangan bilang masalah penting pas Ibu sedang pegang cabai. Nanti air mata Ibu disangka terharu.'
Syifa tertawa. Ia mengambil beberapa batang kacang panjang dan memotongnya menjadi bagian yang kira-kira sama. Setelah bunyi pisau mulai teratur, ia menyampaikan rencana Minggu pekan depan di rumah Bagas.
Bu Murni menurunkan mangkuk. 'Kamu ingin Ibu ikut?'
'Iya. Kalau Ibu bersedia.'
'Ibu bersedia. Tapi bilang dulu apa yang perlu Ibu bantu. Jangan sampai Ibu kebanyakan bicara.'
Syifa memandang potongan sayur di tangannya. Selama ini perempuan itu sering hadir ketika ia perlu ditemani mengurus hal yang melelahkan. Permintaan kali ini berbeda. Ia ingin datang untuk membicarakan sesuatu yang dipilihnya dengan senang, dan mendapati dirinya tetap gugup.
'Saya ingin ada yang menemani. Kalau nanti pembicaraan melebar sampai ke tamu atau pesta, tolong bantu saya mengingat yang sebenarnya hendak kami bahas.'
'Pekerjaan kalian itu?'
'Pekerjaan, tempat tinggal, juga urusan Ayah Bagas. Athar tidak bisa selalu pulang mendadak. Saya juga tidak bisa setiap hari meninggalkan toko.'
Bu Murni mengangguk. Ia menanyakan apakah pertemuan itu sudah menjadi acara lamaran. Syifa menjawab belum. Mereka hendak menyelesaikan pembicaraan keluarga lebih dahulu sebelum mengatur kedatangan dengan tujuan tersebut.
'Berarti Ibu tidak perlu membawa jawaban tentang tanggal nikah,' ujar Bu Murni.
'Tidak perlu, Bu. Saya sendiri belum punya.'
Mereka kembali memotong sayur. Bu Murni menanyakan jam, lalu memeriksa catatan keperluannya untuk akhir pekan berikut. Ia bisa datang menjelang makan siang. Ketika ia mengusulkan membawa makanan, Syifa meminta menunggu kabar dari Bagas agar hidangan yang disiapkan tidak bertumpuk.
'Saya tanyakan dulu. Kalau perlu belanja, Sabtu saya bisa menemani Ibu.'
'Toko bagaimana?'
'Saya atur dengan Pak Hadi. Saya perlu melihat apakah pembagian tugas yang sudah dibicarakan benar-benar bisa dipakai saat saya keluar beberapa jam.'
Bu Murni mengambil talenan yang telah penuh dan menuangkan isinya ke mangkuk. Syifa membilas pisau, mengeringkan tangannya, kemudian menelepon Athar. Ia memberi tahu bahwa Bu Murni bersedia. Mereka memastikan lagi tanggal dan jam yang sama sebelum Athar meneruskannya kepada Bagas.
'Ayah tadi hampir mengundang kerabat,' kata Athar.
'Kamu bilang apa?'
'Aku sebut jumlah orang yang sudah kita bicarakan. Ayah mengerti.'
Syifa mengembuskan napas lega. Ia tidak perlu membayangkan masuk ke sebuah ruang dan menjawab pertanyaan dari setiap kursi. Mereka masih bisa makan, saling mendengar, lalu pulang membawa keputusan yang cukup jelas untuk dikerjakan.
'Aku mungkin tetap gugup nanti,' katanya.
'Aku juga. Tadi sebelum menelepon Ayah, kunci sudah di meja masih kucari di saku.'
Syifa tertawa sampai Bu Murni menoleh. Ia mengulang cerita itu setelah panggilan berakhir. Perempuan tersebut menggeleng, kemudian menyuruhnya menuliskan tanggal pertemuan pada kertas yang menempel di dekat lemari.
Syifa menulis hari, tanggal, serta jamnya. Bu Murni membacanya keras-keras, memastikan ia tidak salah mencatat. Setelah itu mereka membicarakan belanja Sabtu dan hidangan yang masih menunggu jawaban tuan rumah.
Ketika pulang, Syifa membawa wadah yang kini berisi sebagian sayuran matang. Di halaman rumahnya ia berhenti untuk membuka gerbang. Ponsel bergetar membawa pesan Athar: ayahnya sudah mengonfirmasi semuanya dan akan menyiapkan hidangan utama.
Syifa membalas bahwa Bu Murni akan membawa pelengkap setelah mereka menyepakati pilihannya. Ia masuk, meletakkan makanan di dapur, lalu membuka kalender kecil di meja. Minggu pekan depan kini mempunyai satu catatan yang pasti. Ia membacanya sekali lagi sebelum menutup buku dan mengambil piring untuk makan malam.