Pada Jumat pekan berikutnya, Athar masih berada di kota ketika Syifa mengirim pesan setelah urusan toko mulai berkurang. Ia ingin berbicara sebentar sebelum keduanya menyibukkan diri dengan akhir pekan. Athar membalas bahwa ia dapat menelepon setelah keluar dari ruang kerja.
Mereka belum menyebarkan undangan atau menentukan tanggal pertemuan keluarga. Bagas dan Murni sudah mengetahui niat mereka, tetapi percakapan tentang pekerjaan serta tempat tinggal masih memerlukan jawaban yang lebih jelas. Syifa ingin memilih waktu untuk duduk bersama, bukan menunggu sampai semua pertanyaan terjawab berdua baru melibatkan orang yang perlu tahu.
'Aku memikirkan Minggu pekan depan,' katanya setelah telepon tersambung. 'Bukan Minggu yang dua hari lagi. Yang sembilan hari dari sekarang, kalau Ayahmu dan Bu Murni bisa.'
Athar melihat kalender. Ia ingin pulang sejak Sabtu agar tidak tiba tepat ketika orang mulai menyiapkan makan. Jadwal kerja pada akhir pekan tersebut tampak memungkinkan, tetapi ia tetap perlu menanyakan kesediaan Bagas sebelum mengatakan waktu itu sudah pasti.
'Aku hubungi Ayah malam ini,' jawabnya. 'Kamu bisa tanyakan Bu Murni?'
'Bisa. Nanti setelah tamu di rumahnya pulang. Tadi aku sempat melihat ada yang datang.'
Athar mengangguk. Mereka sepakat pertemuan awal cukup melibatkan Bagas, Ros, Syifa, Athar, dan Murni bila semuanya bersedia. Syifa tidak ingin seseorang mengira undangan tersebut sudah menjadi lamaran, lalu membawa harapan atau orang tambahan yang belum pernah mereka bicarakan.
'Aku akan bilang kepada Ayah kita masih perlu membahas beberapa hal,' kata Athar. 'Terutama soal pekerjaan dan tempat tinggal.'
'Iya. Aku juga ingin Bu Murni tahu apa yang bisa dibantu. Jangan sampai dia merasa harus menjawab semua pertanyaan untukku.'
Pembicaraan beralih pada hal yang hendak mereka bawa. Syifa ingin dapat menjelaskan seberapa jauh toko sudah bisa berjalan ketika ia keluar beberapa jam. Ia belum dapat menjanjikan tinggal jauh selama hari kerja penuh, dan tidak mau kemampuan Hadi dianggap sama dengan pemilik tidak lagi diperlukan.
Athar mengatakan ia juga akan membawa gambaran tugas yang sedang dijalankan. Ia sudah mulai menanyakan kemungkinan pengaturan kerja yang lebih dekat dengan kampung, tetapi belum mempunyai persetujuan atau penempatan yang dapat dipakai sebagai jawaban.
'Jadi masih pertanyaan yang kamu kirim, belum keputusan dari Pak Satria?' tanya Syifa.
'Iya. Aku tidak mau keluargaku mengira sudah ada kepindahan. Kalau nanti ada pilihan, aku perlu membaca tugas serta waktunya lebih dulu.'
Syifa menerima jawaban itu. Ia mengingat perjalanan Jumat yang batal dan Minggu yang akhirnya dapat dipakai bertemu. Keinginan dekat tidak menghapus jarak. Namun ia ingin mereka terus mencari pilihan, bukan menjadikannya alasan untuk berhenti melangkah.
Athar kembali ke meja untuk mengambil barang sebelum meninggalkan kantor. Ia meminta waktu menyelesaikan urusan itu, lalu mengatakan akan memberi kabar setelah berbicara dengan Bagas. Syifa menyanggupi dan mengakhiri panggilan. Masih ada pekerjaan yang dapat diselesaikannya sebelum menemui Murni malam nanti.
Di toko, ia mengajak Hadi melihat pembagian tugas pada akhir pekan yang direncanakan. Ia menjelaskan kemungkinan keluar pada Sabtu untuk beberapa keperluan dan menghadiri pertemuan keluarga pada Minggu, dengan catatan waktu masih harus dipastikan kepada orang-orang yang diundang.
'Untuk pembelian yang sudah rutin, kita pakai yang telah dicoba,' kata Syifa. 'Kalau ada perubahan harga atau barang, tetap hubungi saya sebelum menyanggupi.'
Hadi mengangguk. Ia menanyakan bagaimana jika pelanggan meminta pesanan dengan pilihan yang belum pernah mereka jual. Syifa meminta agar keterangan kebutuhan dicatat dan waktu jawab dibicarakan, tanpa langsung menjanjikan barang atau menerima uang sebelum hal yang penting jelas.
'Jadi saya tetap bisa melayani, tapi tidak harus mengiyakan semua saat Ibu pergi,' ujar Hadi.
'Betul. Saya juga ingin melihat bagian mana yang masih menyulitkan Bapak. Nanti kita perbaiki setelah dicoba.'
Mereka memeriksa satu contoh permintaan yang sedang menunggu jawaban pemasok. Hadi menunjukkan bagian yang sudah diketahui dan bagian yang belum dapat dijanjikan. Syifa membiarkannya menyiapkan jawaban sesuai batas itu, lalu memeriksa sebelum pesan dikirim.
Sesudah pekerjaan hari itu selesai, Syifa memastikan tidak ada barang yang perlu diserahkan malam. Ia berpamitan kepada Hadi dan pulang membawa catatan yang ingin dilihatnya lagi sebelum pertemuan. Di rumah, ia mengganti pakaian dan memeriksa persediaan di dapur sebelum memutuskan makan malam.
Sebelum keluar lagi, Syifa berhenti di ruang tengah. Foto Wardi dan Salimah masih berada pada tempat yang sering dilihatnya. Ia membetulkan letak benda kecil di dekat bingkai, kemudian memandang wajah keduanya beberapa saat.
Dulu ia ingin semua orang senang dengan pilihan yang dibuatnya. Sekarang ia ingin dapat menjelaskan pilihannya tanpa menutupi hal yang belum diketahui. Ada kegembiraan memikirkan pertemuan keluarga, juga kesedihan karena dua orang yang paling dikenalnya tidak dapat hadir. Ia membiarkan perasaan itu ada sambil menarik napas, lalu mengambil wadah yang perlu dikembalikan.
Ponselnya belum berbunyi. Syifa tidak mengirim pertanyaan kedua kepada Athar hanya karena mulai gugup. Mereka sudah membicarakan siapa yang akan dihubungi malam ini. Ia masih dapat menyelesaikan urusan rumah dan menunggu waktu yang tepat untuk menyeberang, tanpa menganggap keheningan beberapa menit sebagai tanda rencananya akan runtuh.
Sementara itu, Athar meninggalkan kantor dengan tas yang sudah dibereskan. Ia tidak pergi ke stasiun atau memaksakan pulang kampung malam itu. Ada percakapan yang justru perlu dilakukan dari tempatnya sekarang, dengan kalender di hadapan dan waktu yang cukup untuk mendengar jawaban ayahnya.
Syifa melihat rumah Murni dari halaman ketika hendak keluar. Tamu masih berada di sana. Ia memilih menunggu, membereskan dapurnya lebih dulu, kemudian meletakkan wadah kosong yang ingin dikembalikan di dekat pintu. Ia tidak mengetuk hanya karena sudah siap berbicara.
Ponselnya menyala membawa kabar Athar bahwa ia sudah meninggalkan kantor dan akan menghubungi Bagas setelah tiba di apartemen. Syifa membalas bahwa ia juga akan berbicara dengan Murni sesudah tamu pulang. Mereka akan mencocokkan hasilnya sebelum menganggap Minggu pekan depan sebagai janji yang sudah dapat dipegang.