Pada Sabtu berikutnya, Ryan datang ke toko bersama Dina dan bayi perempuan Sherly. Anak itu tertidur dalam gendongan neneknya. Ryan berhenti dekat pintu, menunggu Syifa selesai menjawab pertanyaan pelanggan sebelum menyapa.
'Aku mau lihat meja kecil. Untuk rumah sewaku,' katanya.
Syifa mengangguk dan menunjukkan beberapa pilihan. Ia meminta Hadi membantu menanyakan ukuran ruang yang tersedia. Dina duduk sebentar agar tidak harus terus berdiri sambil menggendong bayi, sementara Ryan melihat barang yang mungkin sesuai.
'Sherly bagaimana?' tanya Syifa ketika melewati kursi Dina.
'Sedang istirahat di rumah kerabatnya. Kami sudah bilang mau membawa anak ini sebentar. Nanti langsung dikembalikan.'
Syifa memandang bayi yang bergerak kecil di dalam selimut, lalu tersenyum. Ia mendoakan agar anak tersebut tumbuh sehat, tanpa meminta Dina menceritakan seluruh keadaan rumah tangga Ryan dan Sherly.
Bayi itu terbangun ketika terdengar bunyi barang bergeser dari sisi lain ruangan. Dina mengubah posisi gendongan, tetapi rengekan kecil terus terdengar. Ryan berhenti melihat meja dan menghampiri. Ia menerima bayi setelah ibunya meminta bantuan, lalu berjalan beberapa langkah di bagian yang lebih sepi.
Syifa menunggu sebelum meneruskan penjelasan barang. Ia sempat merasakan dorongan lama untuk membuat segala sesuatu segera nyaman bagi Ryan. Namun lelaki itu sedang mengurus sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya sendiri. Syifa tidak perlu meninggalkan pelanggan lain untuk menyelesaikan setiap kesulitannya.
Setelah bayi lebih tenang, Ryan kembali ke dekat Dina dan menanyakan apakah mereka masih mempunyai cukup waktu untuk memilih barang sebelum pulang. Dina melihat jam dan mengangguk. Keduanya berbicara singkat tentang perjalanan, lalu kembali pada tujuan kedatangan. Syifa memberi waktu tanpa mengisi jeda dengan pertanyaan pribadi. Ia menyiapkan tempat di meja kecil untuk membuka catatan ukuran, kemudian menunggu Ryan selesai menyerahkan bayi kepada ibunya sebelum mengajak melihat pilihan berikutnya.
Ryan memilih sebuah meja setelah mencocokkan ukuran yang dibawanya. Hadi mengingatkan untuk mempertimbangkan jalur masuk agar barang tidak hanya muat di ruangan, tetapi juga dapat dibawa melewati pintu. Ryan memeriksa catatannya lagi, kemudian menyatakan pilihannya.
Athar tiba ketika meja masih berada di ruang pajang. Ia telah mengabari Syifa bahwa akan datang setelah urusan di rumah Bagas selesai. Dari pintu ia melihat Ryan berbicara dengan Hadi dan Dina duduk bersama bayi. Ia menyapa secukupnya, lalu bertanya kepada Syifa apakah ada pekerjaan yang sedang memerlukan bantuan.
'Pak Hadi sedang menyiapkan meja. Sebentar lagi dibawa ke kendaraan,' jawab Syifa.
Athar mengangguk dan menaruh barang bawaannya di tempat yang ditunjukkan. Ia tidak meminta Syifa segera meninggalkan pelanggan untuk menjelaskan kehadiran mantan suaminya. Ia dapat melihat ada barang yang dipilih dan transaksi yang sedang diselesaikan.
Dina mengeluarkan uang untuk membayar sesuai harga. Ia tidak menanyakan potongan karena pernah menjadi bagian dari keluarga Syifa. Setelah pembayaran diterima, Hadi menunjukkan bagian yang akan dilindungi sebelum pengangkutan. Ryan ikut memegang meja, mencoba memperkirakan posisi di dalam kendaraan.
Athar membantu ketika Hadi meminta satu sisi ditahan. Mereka mengangkat setelah jalurnya kosong. Syifa memperhatikan dari dekat pintu, lalu meminta Ryan memeriksa apakah letak barang sudah aman sebelum perjalanan dimulai. Hadi memastikan bagian yang dapat bergeser tidak dibiarkan bebas.
Dina menunggu sampai pengangkutan selesai sebelum berdiri membawa bayi. Syifa memberi jalan dan memastikan kursi yang ditinggalkan kembali berada di tempatnya. Ryan kembali masuk sebentar untuk mengambil bukti pembayaran yang belum dimasukkan ke map kecilnya.
'Pekerjaanku sekarang sudah lebih tetap,' katanya ketika Syifa menyerahkan kertas itu. 'Masih banyak yang harus diatur, tapi setidaknya jadwalnya lebih jelas.'
'Semoga lancar.'
'Aku sedang belajar menabung lagi. Tidak semua bisa langsung dibeli.'
Syifa mengangguk. Ia tidak ingin menilai seluruh hidup Ryan dari pembelian satu meja. Namun melihatnya memilih barang sesuai kebutuhan dan membayar tanpa menuntut hak atas toko terasa berbeda dari percakapan yang pernah memenuhi rumahnya dahulu.
Ryan mengucapkan terima kasih kepada Hadi dan Athar sebelum menyusul ibunya. Dina berpamitan tanpa memulai permintaan maaf panjang atau pertanyaan tentang hubungan baru Syifa. Ia masih perlu mengembalikan bayi kepada Sherly pada waktu yang telah dijanjikan.
Syifa mengangkat tangan ketika Dina menoleh sekali lagi. Setelah kendaraan mereka pergi, Athar kembali mengambil barang yang tadi ditaruh. Syifa menyelesaikan urusan meja bersama Hadi lebih dulu. Ia memeriksa bahwa barang yang keluar sudah sesuai pembelian, kemudian meminta pegawainya melanjutkan pelayanan pelanggan berikutnya.
'Aku kira akan datang saat toko lebih sepi,' kata Athar ketika mereka dapat duduk sebentar.
'Sabtu kadang sulit ditebak.'
'Kamu baik-baik saja?'
Syifa mengangguk. 'Tadi ada rasa aneh sedikit, tapi mereka datang sebagai pembeli. Urusannya selesai seperti pelanggan lain.'
Athar menerima jawaban itu tanpa meminta ia membuktikan sudah tidak mempunyai perasaan terhadap Ryan. Ia menceritakan satu kejadian di rumah Bagas yang membuatnya terlambat beberapa menit, lalu menanyakan apakah rencana bertemu sore masih cocok dengan pekerjaan Syifa.
'Bisa. Aku tinggal menyelesaikan yang ini. Kamu boleh istirahat dulu kalau menunggu terlalu lama.'
'Aku duduk di sini sebentar. Kalau ada yang perlu diangkat lagi, panggil saja. Tapi jangan percaya aku bisa menebak berat meja dari melihat.'
Syifa tertawa, mengingat kunjungan Bagas dahulu ketika Athar terlalu cepat hendak memindahkan barang. Ia kembali ke ruang depan dengan pikiran yang sudah beralih pada pekerjaannya. Kehadiran Ryan tidak mengambil seluruh siang, dan Athar tidak menjadikannya ujian yang harus dijawab berulang kali.
Menjelang sore mereka meninggalkan toko setelah Syifa menyerahkan pekerjaan yang masih berjalan kepada Hadi. Athar menemani berjalan ke rumahnya, sementara mobilnya ditinggalkan sebentar di tempat yang sudah disepakati agar tidak menghalangi pintu toko.
Di jalan, Syifa mengatakan ia senang dapat menyelesaikan satu pertemuan tanpa merasa perlu membenci seseorang sepanjang hari. Athar mendengarkan, kemudian menanyakan apakah ia ingin singgah membeli makanan sebelum pulang. Syifa menyebut pilihan sederhana dan mereka mengubah arah bersama, menikmati sisa Sabtu yang masih menjadi milik mereka.
Sesudah makan dan mengantar Syifa sampai rumah, Athar kembali ke toko untuk mengambil mobil, lalu pulang ke rumah Bagas sebelum malam.