Athar datang ke rumah Syifa pada Minggu sore setelah beristirahat di rumah Bagas. Ia masih membawa sedikit lelah perjalanan, tetapi sudah dapat duduk tanpa terus memikirkan jalan yang dilalui. Syifa menaruh minuman di meja teras dan menanyakan apakah ia ingin makan lagi.
'Sudah tadi. Kalau makan sekarang, Ayah akan bilang aku cuma datang untuk menghabiskan masakan orang,' jawabnya.
Syifa tertawa. Mereka berbicara sebentar tentang perjalanan yang akhirnya terlaksana, lalu kembali pada hal yang belum selesai sejak niat menikah disampaikan kepada keluarga. Pembatalan Jumat membuat persoalan jarak terasa lebih nyata daripada saat hanya dibicarakan sebagai kemungkinan.
'Perjalanan seperti sekarang masih harus kita perhitungkan kalau ingin lebih sering bersama,' ujar Syifa.
Athar mengangguk. Ia tidak mencoba membuktikan keseriusan dengan mengatakan sanggup menempuh perjalanan panjang berulang kali. Mereka melihat pilihan tinggal di kota pada hari kerja dan bertemu pada akhir pekan. Syifa mengatakan ada bagian dari pilihan itu yang masih dapat dibayangkan, tetapi ia tidak ingin menjadikannya jawaban permanen tanpa mengetahui kapan akan dievaluasi.
'Aku bisa mengurus banyak hal sendiri,' katanya. 'Tapi aku ingin menikah untuk punya kehidupan yang dijalani bersama, bukan terus mengatur kapan sempat bertemu.'
'Aku juga ingin begitu. Aku perlu memeriksa pilihan kerja yang memungkinkan kita tinggal lebih dekat. Aku belum punya tawaran yang bisa langsung kutunjukkan sekarang.'
Mereka tidak menetapkan kepindahan. Syifa masih ingin rumahnya tetap dirawat dan toko tetap berjalan, sementara Athar tidak ingin melepaskan pekerjaan sebelum mengetahui bagaimana mereka akan memenuhi kebutuhan sesudahnya. Keduanya belum memilih pola perjalanan yang akan dijalankan setelah menikah, karena masih membutuhkan informasi yang lebih lengkap.
Syifa mengambil buku kecil untuk mencatat pertanyaan yang ingin dibawa ke pembicaraan keluarga. Ia tidak menuliskan tanggal atau tempat tinggal seolah sudah dipilih. Di halaman itu hanya ada hal yang perlu dijawab: waktu kerja, kemungkinan lokasi, dan kebutuhan rumah masing-masing.
Pembicaraan berikutnya menyentuh uang. Syifa mengatakan ia ingin pengeluaran usaha tetap terpisah dari kebutuhan pribadi. Ia tidak ingin ada pembelian untuk keluarga yang diam-diam masuk sebagai biaya toko, seperti yang pernah terjadi dahulu.
'Aku ingin kebutuhan bersama dibicarakan dari penghasilan pribadi kita,' katanya. 'Kalau aku mengambil bagian penghasilan dari usaha, aku tetap harus tahu apa yang ditinggalkan untuk menjalankannya.'
Athar menyanggupi prinsip tersebut. Ia mengatakan penghasilannya sendiri juga harus dibicarakan dengan jujur, termasuk kewajiban rutin kepada Bagas. Ia sudah lama mengirim uang, dan tidak ingin bagian itu mendadak diketahui Syifa setelah mereka tinggal bersama.
Syifa mendengarkan tanpa meminta jumlah yang harus diputuskan malam itu. Ia ingin mengetahui jenis kebutuhan yang memang masih bergantung pada Athar dan apa yang dapat ditangani Bagas serta Ros sendiri. Athar mengatakan ia perlu menanyakannya lebih terperinci kepada ayahnya, karena kebiasaan mengirim uang belum selalu disertai percakapan mengenai keperluan sebenarnya.
'Aku ingin ikut peduli pada beliau,' ujar Syifa. 'Tapi jangan sampai kita membuat keputusan atas namanya tanpa bertanya.'
Athar tersenyum tipis. 'Ayah mungkin akan mengatakan hal yang sama.'
Mereka menyepakati satu hal yang dapat langsung dijalankan: pertanyaan mengenai kebutuhan Bagas akan disampaikan kepadanya, bukan dijawab berdua dari dugaan. Sementara itu, uang usaha tidak menjadi persediaan yang dapat diambil tanpa keputusan pemilik hanya karena ada urusan keluarga.
Syifa menutup buku sebentar. Ada kelegaan ketika sesuatu yang dahulu dianggap tidak sopan dipertanyakan kini dapat dibahas sebelum menjadi kebiasaan. Namun ia juga tahu persetujuan sore itu perlu dijalankan ketika keinginan mereka berbeda.
'Aku mungkin tetap akan kesal suatu hari,' katanya.
'Aku juga mungkin akan menjawab dengan buruk kalau capek. Tapi aku ingin kita bisa kembali membahasnya tanpa menyuruh salah satu berhenti merasa.'
Syifa mengangguk. Ia tidak mencari pasangan yang tidak mempunyai kekurangan, tetapi ia ingin mengetahui apa yang akan dilakukan ketika kekurangan itu mulai menyentuh hidup orang lain.
Syifa menunjuk ruang tengah yang terlihat dari pintu teras. Ia pernah membayangkan harus mengubah banyak hal supaya seseorang yang baru dapat merasa mempunyai tempat. Sekarang ia ingin menanyakan bagian mana yang benar-benar perlu diatur, tanpa terburu-buru mengosongkan rumah dari kenangan orang tuanya.
'Aku ingin foto-foto itu tetap di sana,' katanya.
Athar mengikuti arah pandangannya. 'Aku tidak keberatan. Kalau nanti perlu tempat untuk barang lain, kita lihat bagian yang masih kosong.'
Syifa mengangguk. Ia menunjukkan sudut yang mungkin dapat dipakai untuk meja kerja, lalu tertawa karena mereka bahkan belum memutuskan akan tinggal di mana. Athar mengatakan melihat kemungkinan bukan berarti harus segera memindahkan meja. Mereka membiarkan gagasan itu menjadi salah satu hal yang dapat dibicarakan lagi ketika urusan pekerjaan lebih jelas. Syifa merasa lebih tenang setelah menyebut sesuatu yang begitu sederhana, tetapi selama ini selalu khawatir akan dianggap terlalu mempertahankan masa lalu. Ia menggeser buku dan meletakkannya di sisi yang kering sebelum kembali meraih minumannya.
Ketika gelas mereka hampir kosong, Athar melihat waktu. Ia perlu kembali ke rumah Bagas dan menyiapkan keberangkatan Senin pagi. Syifa mengatakan ia tidak ingin menahannya sampai larut hanya karena pertemuan Sabtu batal. Mereka berdiri bersama membawa gelas ke dalam.
Di dapur, Athar menanyakan letak lap setelah sedikit air mengenai meja. Syifa menunjukkannya dan membiarkan ia membereskan sendiri. Mereka sempat tertawa karena buku catatan justru hampir tertinggal di teras. Syifa mengambilnya sebelum keluar mengantar Athar.
'Ada yang sudah kita putuskan, ada yang masih harus dicari,' ujarnya di dekat pagar.
'Iya. Aku akan periksa pekerjaan. Kamu lihat apa yang perlu dibawa dari urusan toko. Nanti kita pastikan waktu keluarga bisa bertemu.'
Syifa menyanggupi. Mereka belum mempunyai rumah tangga yang dapat diringkas menjadi satu jawaban sore itu, tetapi pertanyaan yang harus diselesaikan kini lebih jelas. Athar berangkat kembali ke rumah ayahnya, dan Syifa masuk membawa buku yang belum penuh. Ia masih ingin mengisinya dengan jawaban yang dapat dijalankan, bukan hanya kalimat yang menyenangkan untuk didengar.