Pada Jumat sore, Athar sudah berada di stasiun kota tempatnya bekerja ketika pemberitahuan perubahan perjalanan muncul. Kereta yang hendak ditumpanginya menuju stasiun terdekat kampung mengalami penundaan. Ia berdiri di dekat tempat duduk, membaca waktu baru, lalu memeriksa rencana lanjutan setelah tiba.
Ia memilih kereta untuk perjalanan kali ini karena tidak ingin menyetir setelah seharian bekerja. Rencananya sederhana: berangkat sore, melanjutkan perjalanan dari stasiun tujuan, lalu sampai di rumah Bagas malam. Syifa sudah mengetahui rencana tersebut dan menyisihkan Sabtu sore untuk bertemu.
Penundaan pertama masih mungkin ditunggu. Namun, sebelum jadwal baru tiba, ada pemberitahuan berikut yang membuat waktu kedatangan semakin tidak pasti. Athar mendatangi petugas untuk menanyakan pilihan yang tersedia. Setelah mendapat penjelasan, ia memilih membatalkan keberangkatan malam itu dan mengurus bagian yang perlu diselesaikan sesuai petunjuk.
Ia menghubungi Syifa sebelum meninggalkan stasiun. Perempuan itu menjawab dari toko.
'Aku tidak jadi berangkat malam ini,' katanya. 'Masih di stasiun kota. Perjalanannya berubah lagi, dan kalau dipaksakan aku belum tahu sampai jam berapa.'
Syifa diam sebentar. 'Jadi besok juga belum pasti?'
'Untuk sekarang belum. Aku tidak mau kamu menunggu sampai sore baru mendapat jawaban. Aku kembali ke tempat tinggalku dulu, lalu periksa pilihan berikutnya setelah bisa duduk tenang.'
Syifa mengangguk di seberang. Ia kecewa, tetapi kali ini informasi datang sebelum waktu pertemuan habis. Ia mengatakan akan menggunakan Sabtu untuk urusan yang semula ditunda dan meminta Athar mengabari setelah tiba kembali di tempat tinggalnya.
Athar menyanggupi. Ia juga memberi tahu Bagas agar ayahnya tidak menunggu sampai larut. Setelah urusan pembatalan selesai, ia meninggalkan stasiun dan kembali ke tempat tinggalnya di kota yang sama. Malam itu ia makan lebih dulu sebelum membuka kemungkinan perjalanan lain.
Di toko, Syifa menutup telepon dan memandang daftar pekerjaan Sabtu. Hadi sedang menunggu keputusan tentang pembelian barang yang biasa mereka sediakan. Harga serta jenisnya sudah sesuai pilihan yang pernah disetujui, tetapi ia belum berani meneruskan tanpa mendengar jawaban pemilik.
Syifa memeriksa rincian bersama Hadi. Ia menanyakan waktu barang tiba, bagian yang sudah tersedia, dan apakah jumlahnya sesuai kebutuhan. Setelah semuanya jelas, ia menyetujui pembelian dan meminta Hadi melanjutkan pengaturan dengan pemasok.
'Kalau harga atau jenisnya berubah sebelum dibayar, hubungi saya dulu,' katanya. 'Kalau tetap sesuai yang kita setujui ini, Bapak bisa teruskan.'
Hadi mengangguk dan mengulang bagian yang dipahaminya. Ia menelepon pemasok, memastikan barang yang dimaksud, lalu menyampaikan kesepakatan pengiriman. Syifa tidak mengambil alih telepon ketika jawaban pemasok memerlukan penjelasan tambahan. Ia menunggu Hadi menyelesaikannya dan baru memeriksa hasilnya setelah panggilan ditutup.
Sabtu pagi, barang tiba ketika Syifa sedang menyelesaikan pekerjaan lain. Hadi memeriksa bersama pegawai, menemukan jumlah serta jenisnya sesuai, kemudian menanyakan satu bagian kemasan yang tampak rusak. Mereka membuka bagian tersebut dan memastikan keadaan barang sebelum penerimaan diselesaikan.
Syifa datang setelah dipanggil untuk melihat hasil. Ia menemukan Hadi sudah memisahkan pekerjaan yang dapat dituntaskan sendiri dan bagian yang perlu diberitahu. Ia tidak hanya menerima kalimat semua aman, melainkan melihat apa yang telah diperiksa.
Ketika pengantar hendak meminta tanda penerimaan, Hadi menahannya sebentar sampai bagian yang terbuka selesai dilihat. Syifa berada di sisi lain dan mendengar pegawainya menjelaskan alasan itu tanpa harus menunggu ia mengulang kalimat. Pengantar menyanggupi menunggu. Sesudah keadaan barang diperiksa dan sesuai, barulah penerimaan diselesaikan.
Hadi membawa salinan ke meja dan menjelaskan bagian yang sempat membuatnya ragu. Syifa mendengarkan sambil melihat kemasan yang sudah dipisahkan. Ia merasa lebih tenang mengetahui orang yang menerima barang berani meminta waktu untuk memeriksa, meskipun kendaraan pengantar sedang menunggu.
'Saya hampir bilang nanti saja dilihat setelah orangnya pergi,' ujar Hadi.
'Untung Bapak periksa sekarang. Kalau ada masalah, kita masih bisa menunjukkan keadaannya bersama.'
Mereka mengembalikan barang ke tempat yang sesuai. Syifa kemudian menyerahkan sisa pekerjaan kepada Hadi setelah memastikan tidak ada keputusan pembelian baru yang harus dibuat. Ia meninggalkan toko pada waktu yang direncanakan, membawa kabar bahwa urusan dapat berjalan meskipun ia tidak memegang setiap panggilan dan lembar penerimaan dengan tangannya sendiri sepanjang hari.
Sore harinya, Syifa menggunakan waktu untuk beristirahat di rumah. Ia sempat ingin memeriksa pesan setiap beberapa menit, lalu mengingat Athar sudah menjelaskan bahwa pertemuan belum bisa dijanjikan. Ia memilih membaca dan menyiapkan makan tanpa membuat dua porsi karena kebiasaan menunggu.
Athar menelepon setelah mempunyai pilihan yang lebih jelas. Ia dapat berangkat pada Minggu pagi dan tiba siang menjelang sore. Satria sudah menyetujui ia masuk setelah siang pada Senin, sehingga ia dapat kembali ke kota esok pagi. Ia tidak menjanjikan waktu tiba lebih awal daripada yang mungkin ditempuh.
'Kamu masih bersedia bertemu setelah aku sampai?' tanyanya.
'Bisa. Tapi istirahat dulu di rumah ayahmu. Kita bicara setelah kamu sempat makan dan duduk.'
Athar mengucapkan terima kasih. Ia memastikan kendaraan serta perjalanan yang akan dipakai, kemudian memberi kabar kepada Bagas. Rencana yang baru tidak mengembalikan Sabtu yang batal, tetapi setidaknya dapat diikuti tanpa membuat orang lain terus menunggu dugaan.
Pada Minggu, ia berangkat dengan mobilnya sendiri. Ia berhenti ketika perlu dan mengirim kabar saat tidak sedang mengemudi. Syifa membaca pesan bahwa ia sudah sampai di rumah Bagas pada awal sore, lalu membalas agar tidak terburu-buru menemuinya.
Athar makan, mandi, dan beristirahat sebentar sebelum menghubungi Syifa lagi. Mereka memilih bertemu setelah matahari tidak lagi seterik tadi. Kali ini waktunya sesuai dengan keadaan yang benar-benar sudah terjadi, bukan dibuat ketika ia masih menunggu kereta yang belum tentu berangkat.
Syifa merapikan meja teras menjelang kedatangannya. Ada percakapan tentang rencana hidup yang masih harus dilanjutkan sejak pertemuan sebelumnya. Pembatalan perjalanan membuatnya lebih memahami bahwa jarak tidak dapat diselesaikan hanya dengan keinginan bertemu. Ia ingin mereka membicarakan kemungkinan yang dapat dijalankan, sambil tetap menghargai waktu yang sudah diluangkan masing-masing.