Minggu pagi, Athar menunggu Bagas selesai sarapan sebelum meminta waktu berbicara. Ros masih membereskan sebagian meja. Ia menoleh ketika mendengar Athar mengatakan bahwa dirinya dan Syifa sudah mulai membicarakan niat menikah.
Bagas meletakkan gelas. Ia sudah mengetahui hubungan mereka, tetapi kabar pagi itu membawa arah yang lebih jelas daripada sekadar rencana bertemu pada akhir pekan.
'Syifa juga ingin meneruskannya?' tanyanya.
'Iya, Yah. Kami membicarakannya berdua kemarin. Ada hal tentang pekerjaan dan tempat tinggal yang masih harus diperiksa, tapi kami ingin keluarga tahu niatnya dulu.'
Bagas mengangguk. Ia menanyakan apakah mereka telah memilih waktu untuk pertemuan keluarga. Athar menjawab belum. Mereka ingin mengadakan pembicaraan kecil agar hal yang belum jelas dapat ditanyakan tanpa suasana seperti acara yang semuanya sudah diputuskan.
'Ayah senang mendengarnya,' kata Bagas. 'Tapi jangan merasa harus menjawab semua hal hari ini supaya Ayah tenang.'
Athar tersenyum. Ia menceritakan bahwa Syifa ingin tetap mengelola toko dan merawat rumahnya. Ia sendiri masih perlu menilai pengaturan kerja setelah tanggung jawab baru berjalan. Bagas mendengarkan tanpa meminta Syifa meninggalkan usaha demi mengikuti putranya ke kota.
Bagas juga menanyakan rencana perjalanan putranya. Ia tidak ingin Athar membuat janji pulang setiap pekan hanya karena keluarga dan Syifa sama-sama berada di kampung. Jika perjalanan tidak memungkinkan, ia ingin mendengar kabar yang jelas, bukan mengetahui belakangan bahwa anaknya memaksakan diri menyetir setelah bekerja sampai larut.
'Ayah masih bisa mengurus banyak hal di sini,' katanya. 'Kalau butuh bantuanmu, Ayah bilang. Jangan kamu mengira semua harus selesai setiap kali pulang.'
Athar mengangguk. Ia mengatakan akan memberi tahu jadwal yang sudah pasti dan menanyakan kebutuhan yang benar-benar mendesak sebelum memilih perjalanan. Bagas menerima jawaban itu, lalu mengambil ponselnya untuk melihat pesan yang baru datang. Ukuran tulisan yang diperbesar pada kunjungan sebelumnya masih dipakai. Ia menunjukkan satu bagian yang kini lebih mudah dibaca, dan Athar tersenyum melihat perubahan kecil tersebut memang membantu keseharian ayahnya.
Ros duduk setelah menaruh piring. Ia bertanya apakah Syifa menginginkan bantuan menyiapkan makanan bila pertemuan kelak dilakukan. Athar mengatakan akan menanyakannya lebih dulu, karena tempat serta waktunya belum dipastikan.
'Baik. Jangan langsung bilang sudah Ibu urus,' jawab Ros. 'Tanyakan dia perlu apa.'
Athar mengangguk. Tidak ada permintaan maaf panjang yang diulang seperti pada pertemuan sebelumnya. Ros hanya mendengarkan ketika ia menyebut bagian yang masih sulit dan tidak menyela untuk menyatakan semuanya pasti mudah setelah menikah.
Sesudah pembicaraan, Athar masuk kamar mengambil barang yang ingin dibawa ketika kembali ke kota. Ia melihat sebuah kantong berisi benda miliknya diletakkan di dekat lemari. Ros mengetuk pintu yang terbuka dan menjelaskan barang itu terpisah saat ia membersihkan bagian luar kamar.
'Ibu belum memasukkan atau membuang. Coba lihat dulu mana yang masih dipakai.'
Athar memeriksa. Ia memilih sebagian untuk disimpan dan mengatakan sisanya akan dipilah pada kunjungan berikutnya. Ros menerima jawaban tersebut tanpa menganggapnya alasan menunda. Ia meninggalkan kantong di tempat yang ditunjukkan Athar, lalu kembali mengurus pekerjaannya sendiri.
Di rumah tetangga, Syifa menyampaikan kabar yang sama kepada Murni. Ia datang setelah menanyakan apakah perempuan itu mempunyai waktu. Murni mengajaknya duduk di teras karena anggota keluarganya masih menggunakan ruang tengah.
'Kemarin kami memutuskan ingin membicarakan langkah menuju pernikahan,' kata Syifa. 'Saya ingin Ibu tahu dari saya.'
Murni tersenyum. Ia tidak langsung berdiri memanggil orang lain. Ia menanyakan apakah Syifa ingin kabar tersebut tetap berada di lingkaran kecil sementara waktu.
'Iya. Belum ada tanggal. Masih ada pekerjaan yang perlu kami pikirkan bersama.'
'Kalau nanti perlu ditemani, bilang. Saya lihat waktunya juga supaya tidak menjanjikan lalu tidak bisa.'
Syifa mengucapkan terima kasih. Ia menjelaskan bahwa ia belum meminta Murni mengatur acara atau menjawab pertanyaan tetangga. Ia hanya ingin seseorang yang dekat dengannya mengetahui arah yang kini sedang dipilih.
Percakapan beralih kepada hal yang ingin dibawa Syifa saat pertemuan nanti. Ia ingin dapat menjelaskan bagian usaha yang harus tetap dijaganya. Murni menanyakan apakah Hadi sudah mengetahui kemungkinan pemilik toko membutuhkan waktu untuk urusan keluarga.
'Saya akan memberitahu sebatas kebutuhan kerja. Saya belum ingin semua pegawai mengira tanggalnya sudah ada.'
Murni mengangguk. Ia menawarkan minum dan menunggu Syifa memilih sebelum mengambilkan. Mereka duduk beberapa saat sambil mendengar percakapan dari dalam rumah. Syifa merasa lega karena kabar itu dapat diterima tanpa seketika berubah menjadi kewajiban memenuhi harapan banyak orang.
Siang harinya, sebelum Athar berangkat kembali ke kota, ia dan Syifa sempat berbicara melalui telepon. Athar menceritakan tanggapan Bagas serta tawaran bantuan Ros. Syifa mengatakan ia menghargainya dan akan menyampaikan kebutuhan setelah lebih jelas.
'Bu Murni juga sudah tahu,' ujarnya. 'Dia bersedia ditemui lagi kalau kita perlu bicara, tapi tetap harus cocokkan waktunya.'
'Baik. Kita pastikan satu-satu setelah jadwal kerja berikut datang.'
Athar mengatakan ia belum dapat pulang pada Jumat mendatang sebelum melihat urusan di lokasi. Bila waktunya memungkinkan, ia akan mengabari lebih awal. Syifa menyanggupi menunggu kepastian, sambil tetap menyusun pekerjaan tokonya sendiri.
Setelah sambungan ditutup, Syifa pergi ke toko sebentar untuk melihat satu urusan yang sudah dijanjikan kepada Hadi. Ia menyampaikan bahwa pada waktu mendatang mungkin ada kebutuhan meninggalkan toko untuk pembicaraan keluarga. Untuk saat ini belum ada perubahan jadwal yang harus dijalankan pegawai.
Hadi menerima kabar itu dan menanyakan pekerjaan mana yang ingin lebih dulu dilatih untuk dapat ditanganinya. Syifa memilih satu bagian pembelian yang masih perlu diperiksa bersama, lalu mengatakan mereka akan membicarakannya pada hari kerja.
Ia berjalan pulang setelah urusan hari itu selesai. Ada orang-orang yang kini mengetahui niat mereka, tetapi belum ada undangan yang disebarkan atau hari yang dijadikan janji. Syifa ingin mempertahankan langkah yang dapat diikuti: satu keputusan dibuat, orang yang perlu tahu diberi kabar, lalu pekerjaan berikutnya benar-benar dikerjakan.