Pada Sabtu di akhir pekan berikutnya, Athar datang membawa makanan setelah lebih dulu menanyakan pilihan Syifa. Mereka makan di teras karena udara masih sejuk. Kali ini tidak ada pelanggan, kerabat, atau pekerjaan yang harus diselesaikan sambil berbicara.
Syifa sudah memikirkan dua hal sejak pertemuan sebelumnya. Toko tetap membutuhkan kehadirannya pada keputusan tertentu, tetapi beberapa urusan harian dapat dijalankan Hadi bersama pegawai. Rumah yang ditempatinya juga ingin tetap dijaga, termasuk barang orang tuanya yang tidak perlu dipindahkan hanya untuk membuat ruang bagi kehidupan baru.
Athar menceritakan apa yang telah diperiksanya sendiri. Pekerjaannya masih memerlukan kehadiran di kota dan kunjungan ke lokasi. Ia belum dapat menjanjikan tinggal penuh di kampung, tetapi dapat melihat bagian yang mungkin disusun berbeda ketika tugas sudah lebih tertata.
'Aku tidak ingin kamu menerima jawaban yang terdengar enak sekarang, lalu setiap hari kecewa karena kenyataannya lain,' katanya.
Syifa mengangguk. 'Aku juga tidak ingin mengatakan semua bisa diatur kalau sebenarnya belum pernah kita periksa.'
Mereka meletakkan piring kosong ke samping setelah selesai makan. Syifa memandang halaman yang sudah mulai gelap, kemudian mengatakan ia ingin melanjutkan pembicaraan bersama keluarga dekat. Ada hal yang dapat diputuskan berdua, tetapi kebutuhan Bagas dan bantuan yang mungkin diperlukan di toko perlu diketahui oleh orang yang akan terlibat.
'Aku ingin mereka tahu kita sedang membicarakan niat menikah,' ujarnya. 'Bukan meminta mereka memilihkan apakah kita boleh punya keinginan itu.'
Athar tersenyum. 'Aku ingin meneruskannya juga.'
Syifa menatapnya. Ia telah mengatakan ingin menjalani hubungan pada hari di sungai. Malam ini langkahnya lebih jauh: membuka rencana yang mungkin benar-benar mengubah kehidupan sehari-hari mereka. Ia senang dapat mengenali perbedaan itu tanpa harus mengulang jawaban yang sama setiap kali bertemu.
Ia sempat terdiam ketika menyebut orang yang ingin diajak berbicara. Wardi dan Salimah dahulu berada di tengah persiapan perkawinannya. Sekarang Syifa hanya dapat mengingat cara mereka menanyakan keperluan dan mengingatkannya makan ketika terlalu sibuk.
'Aku berharap Ayah dan Ibu masih bisa mendengarnya langsung,' katanya.
Athar menatapnya tanpa buru-buru menawarkan seseorang untuk menggantikan posisi itu. Ia mengatakan mereka dapat memberi ruang bagi kenangan tersebut dalam persiapan nanti, dengan cara yang Syifa inginkan. Syifa mengangguk dan mengusap ujung jarinya pada gelas.
'Bu Murni banyak menemani. Aku ingin dia tahu dari aku, sebelum dengar dari orang lain.'
'Aku paham.'
Syifa menarik napas dan melihat Athar masih duduk dengan tenang. Ia tidak perlu menjadikan rasa kehilangan sebagai alasan berhenti memikirkan masa depan. Ia juga tidak harus berpura-pura seluruh orang yang dibutuhkan sudah ada. Malam itu ia dapat membawa keduanya ke dalam percakapan, lalu tetap memilih langkah berikutnya.
'Ada satu hal lagi,' katanya.
Athar menunggu.
'Soal anak. Aku tahu kita belum menentukan apa-apa, tapi aku tidak mau hal itu baru dibicarakan setelah semuanya ramai.'
Senyum Athar mereda menjadi perhatian yang lebih sungguh. Syifa mengatakan pemeriksaan yang pernah dijalaninya tidak membuat ia bisa menjanjikan kapan mempunyai anak. Ia masih membawa ingatan tentang hinaan yang diterima selama perkawinannya, dan tidak ingin masuk ke hubungan baru sambil berpura-pura tidak takut pada pertanyaan tersebut.
'Aku ingin punya keluarga,' kata Athar. 'Aku juga ingin ada anak kalau kita diberi kesempatan. Tapi aku memilihmu sekarang, bukan memilih janji bahwa kamu akan memenuhi keinginan itu pada waktu tertentu.'
'Kalau nanti kamu kecewa?'
'Aku mungkin bisa kecewa pada keadaan. Aku tidak ingin menjadikannya alasan menyalahkan kamu. Kalau kita perlu pertolongan, kita bicarakan berdua. Aku juga tidak akan berdiri di luar semua pertanyaan seolah hanya tubuhmu yang perlu diperiksa.'
Syifa menunduk. Ia tidak meminta kalimat tersebut menjadi jaminan bahwa tidak akan pernah ada hari buruk. Ia ingin mendengar bahwa Athar bersedia berada di dalam persoalan, bukan hanya menuntut hasilnya.
Ia mengusap sudut mata sebelum air mata sempat jatuh. Athar menunggu sampai ia mengangkat wajah kembali, lalu menanyakan apakah ia ingin berhenti membicarakannya malam itu. Syifa menggeleng.
'Aku senang kita membahasnya. Aku cuma belum terbiasa bisa mengatakan takut tanpa langsung dibalas aku terlalu banyak berpikir.'
Athar mengangguk. Mereka duduk beberapa saat, membiarkan suara dari jalan mengisi jeda. Kemudian Syifa kembali pada rencana yang ingin dijalankan. Ia akan berbicara dengan Murni lebih dulu, sementara Athar menyampaikan niatnya kepada Bagas. Mereka belum menetapkan tanggal pertemuan atau bentuk lamaran.
'Aku ingin pertemuan nanti cukup kecil supaya kita bisa benar-benar bicara,' ujar Syifa.
'Aku akan sampaikan begitu. Kalau ada yang mengusulkan hal lain, kita dengar dulu, lalu bahas berdua.'
Syifa menyanggupi. Ia juga ingin mengatakan kepada Hadi bahwa ada kemungkinan dirinya memerlukan waktu untuk urusan keluarga kelak, tanpa menyerahkan semua keputusan pembelian begitu saja. Athar mendengar rencana itu sebagai bagian pekerjaan yang perlu ditata, bukan alasan agar Syifa melepaskan tokonya.
Setelah percakapan selesai, Syifa berdiri membawa piring. Athar mengambil bagian yang masih berada di meja dan mengikuti sampai dapur. Ia mencuci sementara Syifa mengeringkan permukaan tempat makan. Sesekali ia bertanya letak barang, lalu mengembalikannya pada tempat yang ditunjukkan.
Ketika kembali ke teras, keduanya melihat satu kursi belum dikembalikan ke dekat dinding. Athar menggesernya, memberi ruang bagi Syifa berjalan menuju pintu. Mereka menyepakati bahwa besok masing-masing akan mulai berbicara kepada orang yang telah disebut, lalu saling memberi kabar setelah selesai.
Athar berpamitan sebelum malam terlalu larut. Di pagar, ia mengatakan senang rencana mereka kini mempunyai langkah yang dapat dijalankan. Syifa menjawab bahwa ia juga masih gugup. Athar tersenyum dan mengakui perasaan yang sama.
Syifa menunggu sampai ia masuk mobil, kemudian kembali ke dalam rumah. Di meja masih ada dua gelas yang perlu dicuci, pekerjaan kecil yang tadi tertinggal karena percakapan panjang. Ia membawanya ke dapur sambil memikirkan cara mengatakan kepada Murni bahwa kali ini ia ingin membicarakan masa depan yang dipilihnya sendiri.