Murni datang pada Sabtu sore ketika Syifa baru sampai dari toko. Ia membawa wadah yang dahulu dipinjam untuk makanan dan meminta maaf karena baru sempat mengembalikan. Syifa mempersilakannya duduk di teras sambil menaruh barang di dalam rumah.
Mereka berbicara tentang keadaan toko dan rak yang sudah diperbaiki. Murni senang mendengar pelanggan menerimanya dengan baik. Ia juga menanyakan Athar yang sejak beberapa waktu belakangan sering mengantar atau menjemput Syifa ketika pulang kampung.
'Dia ada di rumah ayahnya. Nanti mau ke sini sebentar,' jawab Syifa.
Murni mengangguk. Setelah beberapa saat, ia bertanya apakah mereka sudah mulai memikirkan pernikahan. Pertanyaan itu datang tanpa desakan, tetapi tetap membuat Syifa meletakkan gelas sebelum menjawab.
'Saya mulai memikirkannya, Bu. Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Athar sebelum melangkah ke sana.'
'Soal pekerjaan?'
'Itu juga. Saya tidak ingin memilih antara menjaga toko dan mempunyai rumah tangga.'
Murni mendengarkan. Syifa menjelaskan bahwa ia belum ingin mengumumkan rencana kepada banyak orang. Ia sedang mencoba mengatakan keinginan sendiri lebih dulu, termasuk bagian yang terasa sulit setelah pernah mempercayakan hampir seluruh pengelolaan usaha kepada suami.
'Saya takut nanti karena ingin semuanya akur, saya mengiyakan hal yang sebenarnya tidak saya inginkan,' katanya.
Murni mengangguk pelan. Ia tidak mengatakan Athar pasti berbeda sehingga semua kekhawatiran harus dibuang. Ia hanya menanyakan apakah Syifa sudah menyampaikan ketakutan tersebut kepada orang yang sedang dipertimbangkannya.
'Belum selengkap ini.'
'Mungkin itu yang perlu kamu lakukan lebih dulu.'
Syifa tersenyum kecil. Ia merasa pertanyaan tersebut lebih mudah dibawa daripada saran agar segera menerima orang baik sebelum terlambat. Setelah Murni berpamitan untuk kembali ke rumah, ia menyimpan wadah yang dikembalikan, lalu menunggu Athar di teras.
Athar datang tidak lama kemudian. Ia melihat gelas yang belum dibereskan dan menanyakan apakah ada tamu. Syifa mengatakan Murni baru pulang. Ia mengajak Athar duduk dan langsung menyebut hal yang ingin dibicarakan sebelum keberaniannya berkurang.
'Aku mulai memikirkan kemungkinan kita menikah,' katanya. 'Aku ingin bicara tentang itu, bukan menentukan tanggal malam ini.'
Athar menatapnya, lalu mengangguk. 'Aku mau membicarakannya.'
Syifa menarik napas. 'Aku ingin tetap mengurus toko. Aku juga ingin keputusan tentang rumah dan usahaku tetap jelas. Aku tidak mau tiba-tiba menyerahkan semuanya hanya karena setelah menikah terasa tidak enak mempertanyakannya.'
'Aku tidak ingin mengambil alih tokomu.'
'Aku senang mendengarnya. Tapi nanti bisa ada keadaan yang lebih rumit daripada kalimat itu. Kalau pendapat kita berbeda, aku ingin bisa bilang tidak tanpa dianggap tidak percaya kepada suami.'
Athar memikirkan jawabannya. Ia mengatakan ada perbedaan antara memberi saran dan memegang kewenangan. Jika ia kelak membantu urusan tertentu, tugasnya harus dibicarakan, dan Syifa tetap dapat menolak pendapat yang tidak sesuai dengan kebutuhan tokonya.
'Aku juga perlu memastikan kamu tidak harus menunggu sisa waktu dari pekerjaanku terus,' tambahnya. 'Sekarang tanggung jawabku baru bertambah. Aku belum punya jawaban tentang tempat tinggal yang dapat langsung menyelesaikan jarak.'
Syifa memandang jalan di depan rumah. 'Aku ingin punya pasangan yang benar-benar hadir. Tapi aku tidak ingin kamu meninggalkan semua pekerjaan lalu merasa hidupmu dikorbankan untukku.'
'Aku perlu melihat pilihan yang tersedia. Kamu juga perlu tahu apa yang memang mungkin, sebelum kita berjanji terlalu jauh.'
Mereka membicarakan rumah Syifa yang masih ditempatinya dan kebutuhan Athar mengunjungi Bagas. Ada pilihan tinggal di kampung dan bepergian untuk kerja, tetapi waktu perjalanan sekarang membuatnya berat jika dilakukan setiap hari. Ada pula pilihan tetap tinggal di kota pada hari kerja, yang membuat Syifa kembali mempertanyakan berapa banyak waktu yang dapat dijalani bersama.
Athar tidak menamai salah satu pilihan sebagai keputusan malam itu. Ia mengatakan akan memeriksa kemungkinan pengaturan kerja ketika sudah mengetahui perkembangan tugasnya. Syifa mengangguk, lalu mengakui dirinya tidak ingin percakapan tersebut menjadi daftar alasan untuk menunda tanpa pernah melangkah.
'Aku juga tidak ingin kita terus berkata belum tahu, padahal sebenarnya tidak pernah mencari jawabannya.'
Athar tersenyum tipis. 'Kalau begitu, kita pilih apa yang bisa diperiksa sekarang.'
Syifa lalu menyebut pekerjaan rumah yang selama ini sering dianggap tidak perlu dibicarakan. Ia sudah mempunyai hari yang padat di toko. Ia ingin mereka kelak membagi urusan makan, cucian, dan kebersihan menurut waktu yang tersedia, bukan menyerahkannya diam-diam karena ia perempuan.
'Aku bisa mengurus bagian yang kuterima,' kata Athar. 'Tapi kalau ada yang belum bisa kulakukan, aku harus belajar. Bukan terus menyebut aku tidak biasa.'
Syifa tersenyum. 'Nanti kita lihat apakah kalimat itu tetap mudah waktu sudah capek.'
Athar tertawa pendek dan mengakui itu justru bagian yang perlu diuji. Ia tidak menawarkan membayar orang untuk semua hal seolah waktu dan perhatian dapat selalu diganti uang. Mereka membicarakan satu contoh hari ketika keduanya pulang terlambat, lalu memilih bahwa makanan sederhana atau membeli makan boleh menjadi pilihan bersama. Syifa merasa lebih mudah mengatakan apa yang dibutuhkan setelah hal yang tampak kecil itu ikut diberi tempat di antara pembicaraan mengenai rumah dan pekerjaan.
Mereka menyepakati dua hal untuk dipikirkan masing-masing: pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan dan bantuan keluarga yang memang dibutuhkan. Setelah itu mereka akan bicara lagi dengan informasi yang lebih jelas. Syifa merasa ada langkah yang dapat dilakukan tanpa harus menukar keinginannya dengan janji yang belum mungkin ditepati.
Ketika hari mulai gelap, ia berdiri untuk menyalakan lampu teras. Athar membantu menggeser kursi agar pintu tidak terhalang. Mereka masih sempat berbicara ringan tentang minggu yang akan datang sebelum ia berpamitan kembali ke rumah Bagas.
Syifa mengantar sampai pagar. Ia tidak mempunyai tanggal pernikahan atau lamaran setelah percakapan itu, tetapi ia telah mengatakan bahwa ia ingin mempertimbangkan kehidupan bersama. Ketika masuk kembali, ia merapikan dua gelas dan mendapati dirinya memikirkan pertanyaan berikutnya dengan rasa ingin tahu, bukan hanya ketakutan akan mengulangi masa lalu.