Pada Minggu sesudah rak pelanggan dikembalikan dengan baik, Syifa datang lagi ke rumah Bagas. Athar telah menanyakan kesediaannya sebelum mengajak. Kali ini Ros ingin berbicara tentang sesuatu yang selama ini hanya membuat mereka saling berhati-hati saat duduk di meja yang sama.
'Aku bisa datang kalau kamu ingin ditemani,' kata Syifa melalui telepon sebelumnya. 'Tapi kalau kamu lebih nyaman bicara tanpa aku, bilang.'
Athar memilih agar ia tetap hadir. Ia tidak meminta Syifa memberi jawaban kepada Ros atau menenangkan Bagas bila pembicaraan menjadi sulit. Ia hanya ingin ada seseorang yang mengetahui mengapa ia mungkin perlu berhenti sejenak.
Mereka makan siang lebih dulu. Bagas membicarakan keadaan kampung dan satu urusan rumah, tetapi percakapan tidak berlangsung selancar kunjungan sebelumnya. Ros beberapa kali hendak mengatakan sesuatu, lalu kembali menyibukkan diri dengan piring. Athar melihatnya dan menghabiskan makan tanpa mempercepat.
Setelah meja dibereskan, mereka duduk di ruang tengah. Ros memilih kursi yang berhadapan dengan Athar. Ia memegang kedua tangan di pangkuan, memandang putra tirinya sebentar sebelum mulai berbicara.
'Ibu ingin minta maaf soal waktu kamu kecil.'
Athar diam. Bagas menegakkan punggung, tetapi tidak menyela.
'Ibu sering menahan makanan dan uang jajan ketika ayahmu tidak ada. Ibu tahu kamu bergantung pada orang dewasa di rumah ini, tapi Ibu malah memakai itu untuk membuatmu menurut.'
Syifa memandang Athar. Lelaki itu menatap lantai di dekat kaki kursinya. Ia belum bergerak atau memberi tanda agar pembicaraan dihentikan.
'Waktu itu Ibu bilang supaya kamu tidak manja,' lanjut Ros. 'Sekarang Ibu tahu itu bukan alasan yang membenarkan. Kamu masih anak-anak dan harusnya bisa makan di rumah tanpa takut.'
Athar mengusap telapak tangannya pada lutut. Ada banyak jawaban yang pernah dibayangkannya ketika masih tinggal di rumah tersebut. Sekarang pengakuan yang ditunggu justru membuat kata-katanya terasa berat keluar.
'Aku tidak selalu lapar karena lupa makan,' katanya akhirnya. 'Kadang aku takut meminta. Kalau Ayah pulang, aku berusaha terlihat biasa karena tidak mau ribut lagi.'
Bagas menunduk. Ia mengatakan dirinya terlalu sering menganggap anaknya baik-baik saja karena Athar tidak mengeluh. Ia tidak cukup bertanya tentang apa yang terjadi ketika ia pergi dan tidak memastikan kebutuhan anaknya benar-benar dipenuhi.
'Ayah menyesal,' ucapnya. 'Kamu tidak seharusnya harus menyembunyikan itu.'
Athar mengangkat wajah. Ia tidak ingin percakapan segera berubah menjadi usaha menghibur ayahnya. Ia mengatakan ada alasan mengapa dahulu ia lebih betah di luar dan mengapa setelah bekerja ia lama tidak pulang. Ia tetap mengirim uang, tetapi jarak juga menjadi cara agar tidak terus menghadapi sesuatu yang sulit dinamai.
Ros mengusap matanya. Ia tidak meminta Athar melupakan kejadian tersebut. Ia mengatakan ingin mulai memperbaiki cara mereka berhubungan sekarang, jika lelaki itu masih memberi kesempatan.
'Aku bisa mencoba bicara dan pulang seperti sekarang,' jawab Athar. 'Tapi aku tidak bisa menjanjikan langsung merasa dekat. Kalau aku bilang ada pertanyaan yang belum ingin kujawab, tolong jangan dikejar.'
Ros mengangguk. 'Ibu akan dengar.'
'Kalau aku perlu keluar sebentar juga bukan berarti aku sedang menghukummu.'
'Iya.'
Athar meminta beberapa menit di teras. Ia berdiri, dan Syifa menunggu sampai ia menoleh mengajaknya ikut. Di luar, udara terasa lebih mudah dihirup. Ia berdiri dekat kursi tanpa langsung duduk, melihat jalan yang dahulu sering dilaluinya menuju rumah Syifa.
'Rasanya aneh mendengar mereka mengatakan itu,' ujarnya.
Syifa mengangguk. 'Kamu mau aku dengar atau kamu ingin diam dulu?'
'Diam sebentar.'
Ia menunggu di sisinya. Dari dalam terdengar Bagas berbicara pelan dengan Ros. Syifa tidak mencoba mendengar seluruh kalimat. Ia memperhatikan bayangan daun pada lantai teras sampai napas Athar tidak lagi seberat ketika mereka keluar.
'Aku ingat kamu membagi makanan,' kata Athar kemudian. 'Waktu itu aku merasa malu karena terus menerima.'
'Aku ingat kita makan bersama. Aku senang ada teman.'
Athar tersenyum kecil. Syifa tidak menambahkan bahwa karena itu ia pantas dipilih sekarang. Mereka telah mengambil keputusan berpasangan sebagai orang dewasa, dengan pekerjaan dan kebiasaan yang masih perlu saling dikenali. Masa kecil menjadi bagian yang dapat dibicarakan tanpa berubah menjadi tagihan.
Setelah beberapa waktu, Athar memilih masuk kembali. Ros menawarkan minum dan menunggu jawabannya sebelum mengambilkan. Bagas memindahkan tempat duduk agar putranya tidak harus berhadapan persis dengan kursi sebelumnya. Pembicaraan beralih pada hal yang lebih ringan, meskipun mata mereka masih menunjukkan sisa percakapan tadi.
Sebelum pulang, Athar masuk ke kamar yang dipakainya ketika berada di kampung. Ia mengambil buku yang ingin dibaca di kota, lalu berhenti melihat beberapa barang lama di lemari. Ros berdiri di pintu dan menanyakan apakah ia perlu membantu mencari sesuatu.
'Tidak. Aku tahu tempatnya,' jawab Athar.
Ros mengangguk dan mundur. Athar memasukkan buku ke tas, menutup lemari, kemudian kembali ke ruang tengah. Ketika Syifa menoleh, ia mengatakan sudah menemukan yang ingin dibawa. Tidak ada orang yang memeriksa isi tas atau meminta ia menyimpan barang di rumah sebagai tanda akan segera kembali. Ia membawa tas itu ke dekat pintu dan duduk lagi untuk menghabiskan minuman yang tadi belum selesai.
Menjelang sore, Athar mengatakan ingin mengantar Syifa pulang lalu beristirahat. Bagas tidak menahannya lebih lama. Ros mengucapkan terima kasih karena ia mau mendengar, lalu membiarkan mereka bersiap tanpa meminta pelukan atau jawaban tentang maaf saat itu juga.
Di mobil, Athar menanyakan apakah Syifa lelah. Perempuan itu mengatakan ia baik-baik saja dan senang telah menemaninya. Ia juga mengingatkan bahwa mereka masih dapat mempunyai sore yang tenang sesudah percakapan berat, tanpa harus menilainya sudah berhasil atau belum.
Athar menjalankan mobil perlahan meninggalkan rumah. Ia belum merasa seluruh bagian lama selesai, tetapi untuk pertama kalinya beberapa kalimat yang dahulu hanya diucapkan dalam kepala sudah terdengar di ruang tengah. Syifa duduk di sebelahnya, membiarkan perjalanan singkat itu berlangsung tanpa memaksanya menambahkan cerita.