Lama terdiam, embusan angin semakin terasa menerpa permukaan kulit yang tidak tertutup oleh pakaian, hening sesaat mereka hanyut dalam pikiran masing-masing.
“Laila, hidup di dunia ini ya seperti ini, dunia fana yang ada banyak tipu muslihat, manipulasi dan lainnya, gak salah jika ada orang yang bilang dunia ini kejam, sebenarnya bukan soal dunia tapi isinya, atau penghuninya yang kejam, diri kita sendiri.”
“Mbak, kepala Laila terasa pusing.”
“Maaf Laila, suatu saat Lo akan mengerti jika Lo udah terbiasa di sini dan melihat situasi dan kondisi lingkungan ini.”
“Di sini ... gak hanya di sini, kan?”
“Gak hanya di sini, ya, bisa jadi di luar sana ada yang lebih kejam lagi daripada di sini.”
“Laila selama ini hanya di rumah dan bekerja bantu ibu, Laila gak begitu paham keadaan di luar sangat berbahaya, Mbak,” ucapnya.
“Lo lebih baik istirahat yang cukup, Laila. Besok harus cari kerja lagi, kan. Mudah-mudahan Lo dapat panggilan nanti dan bisa bekerja yang memang seharusnya.”
Sejujurnya Laila sangat ingin ikut Mila bekerja malam ini agar dia bisa mendapat uang akan tetapi dia juga takut, jika harus terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Laila menatap punggung kecil milik Mila itu, hingga hilang dari pandangannya.
Laila memejamkan matanya dan tertidur di atas kasur tipisnya itu. Sepertinya Laila benar-benar kelelahan setelah seharian keliling mencari pekerjaan untuknya.
Malam ini ada apa, mengapa Laila bermimpi yang terasa nyata, menatap wajah pria tampan di hadapannya berdiri tegak itu, Laila hanya bisa menatap punggung pria itu, entah kenapa ia sangat berharap bisa melihat wajah pria yang ada di hadapannya saat ini, dia melangkah mendekati pria itu, embusan angin menerpa wajah dan rambut Laila yang hitam terurai panjang itu, kini selendang yang Laila kenakan terbang menutupi wajah pria itu, Laila terdiam di samping pria tampan itu melihat wajahnya yang tertutup selendang putih Laila, perlahan pria itu menarik selendang itu dari wajahnya hingga tampak manik mata yang sangat indah berwarna hitam di sana. Tatapan mereka saling bertemu, belum membuka wajahnya dengan sempurna namun alarm di ponsel jadul Laila itu menjerit yang membuat gadis itu terbangun, terkejut.
Hah!
“Hanya mimpi, siapa pria itu.” Gumam Laila.
Tersenyum malu menyentuh pipinya dengan kedua tangan, Laila merasa pipinya terasa panas saat ini, atau telapak tangannya saja yang dingin, ia terus tersenyum mengingat mimpinya.
“Siapa dia, dia punya mata yang elok.”
***
Di tempat lain, seorang pria tampan tengah tidur tengkurap di sebuah kamar mewah dengan pakaian yang berantakan.
Suara hentakan sepatu high heels seseorang terdengar, memasuki sebuah rumah mewah lebih tepatnya itu merupakan sebuah Mansion.
“Asta, Kamu baru pulang?”
Tidak terdengar sebuah jawaban dari pertanyaan itu, baik sebuah kata maupun gerakan.
Berdecap kesal wanita cantik itu menatap ke arah pria yang sedang tertidur di atas kasur itu.
“Kamu selalu saja seperti ini, aku masih menunggumu berubah,” ucap wanita cantik itu lirih.
Wanita cantik itu menatap lirih ke arah pria itu, raut wajahnya menampakkan rasa sedih dan terdapat sesuatu yang sulit untuk dirinya mengutarakan kondisinya saat ini.
Kreeekkh
Suara pintu di dorong dari luar, tampak sebuah bayangan kecil di lantai dari balik pintu itu, wanita cantik itu menoleh ke arah pintu di buka. Seorang anak kecil laki-laki tengah berdiri di sana, menatap ke arah dua orang yang ada dalam kamar mewah itu.
“Mami.”
“Baratanora, ada apa sayang?” tanya wanita itu lembut berjalan ke arah anak laki-laki itu.
“Papi masih tidur, Mami?”
“Ya, ayo kita turun untuk sarapan.”
“Gak bareng papi?”
“No, papi kamu tadi baru pulang dan sepertinya tampak lelah, lebih baik kita jangan ganggu, ya.”
“Ya, Mami.”
“Anak pintar,” tutur wanita itu mengecup kening anak laki-laki itu—Baratanora.
Wanita cantik dan anak laki-laki itu beranjak meninggalkan pria yang tengah tertidur di atas kasur itu.
Saat pintu kamar itu mulai tertutup pria itu membuka kelopak matanya dan berbalik menatap langit-langit kamarnya, dia adalah Bramasta.
Dia beranjak dari atas kasurnya menuju kamar mandi, membersihkan dirinya dan mengganti pakaian, dengan pakaian santai.
Pria tampan itu berencana untuk keluar dari rumah hari ini, dia ingin menyibukkan diri. Bukan apa, hari ini di Mansion ada wanita itu dan anaknya. Dia sangat muak sesungguhnya akan tetapi wanita cantik itu tidak pernah sekalipun berbuat kesalahan di depannya, gerak gerik wanita itu semua normal dan baik-baik saja, meski Bramasta sudah mengirim seseorang untuk mengikutinya namun tidak ada laporan akan hal mencurigakan seperti harapan Bramasta.
Langkah kakinya berjalan pasti masuk ke dalam mobil, di halaman depan pria itu melihat Baratanora sedang bermain dan di temani beberapa pelayan di sana, begitu juga dengan wanita cantik itu tengah asik buka majalah di bangku ayunan.
“Papi.”
Anak kecil itu menoleh ke arah Bramasta yang kini sudah ada di dalam mobil.
“Anak itu matanya cepat sekali,” ucap Bramasta berdesis dalam mobilnya.
Sebelum anak itu menggapainya Bramasta dengan cepat melajukan mobilnya keluar Mansion itu, wanita cantik yang tersadar anaknya ingin mengejar Bramasta itu langsung beranjak dari tempat duduknya dan berlari kecil ke arah Baratanora.
“My baby, ada apa?”
“Papi pergi, Mami.”
“Oya? Mungkin papi ada pekerjaan yang mendesak, sayang.”
Wanita cantik itu merangkul anaknya lalu membawanya ke dalam gendongannya. Wajah Anak laki-laki itu terlihat guratan kecewa.
“Papi, pergi lagi,” ucapnya lagi dengan nada kecewa.
“Gak lama kok, Sayang. Sebentar lagi pasti akan kembali, Baratanora jangan sedih ya, papi Baratanora memang si—“
“Sibuk,” tuturnya.
“Pintar Anak mami sekarang. Ayo senyum lagi, gak boleh sedih, Anak laki-laki harus hebat dan kuat, gak boleh ce—“
“Gak boleh cengeng.”
“Pintar, baby.”
Baratanora sampai hafal dengan kalimat-kalimat yang selalu di ucapkan oleh ibunya.
Wanita itu mendaratkan ciumannya bertubi-tubi di wajah anaknya itu, yang membuat anak itu tertawa geli, dan melupakan rasa kecewanya.
---
Di sisi lain Bramasta melajukan mobilnya menuju sebuah daerah yang sudah terasa kesejukannya.
Hari ini Bramasta pergi ke Villa miliknya yang ada di area pantai itu, Villa yang juga besar dan megah di sana sudah ada beberapa anak buahnya yang menyambut Bramasta.
“Selamat siang, Tuan.” sapa seseorang setengah baya namun masih terlihat cantik, Bramasta hanya mengangguk kecil dan terus berjalan.
Mereka masuk ke dalam Villa megah itu.
Bramasta menaiki Anak tangga menuju lantai atas Villa, sambil terus melangkah di Anak tangga itu ia menoleh ke arah wanita itu.
“Jangan ganggu aku, apa pun hal yang mendesak.”
“Baik, Tuan.” Wanita itu patuh dan membungkukkan tubuhnya pada Bramasta.