Peduli apa dengan anak laki-laki yang selalu datang ke Mansion miliknya itu, di hari liburnya dia ingin beristirahat bukan di ganggu dengan celotehan anak kecil itu.
Villa ini merupakan tempat ternyaman baginya, di mana ke dua orang itu tidak mengetahui tempat ini dan jangan sampai juga mereka tahu, bagi Bramasta wanita dan anak kecil itu adalah parasit dalam hidupnya. Bramasta tidak berniat memberi tahu tempat ini pada anak laki-laki itu dan juga ibu dari anak itu, karena tempat ini merupakan tempat pribadi miliknya sedikit dari orangnya yang mengetahui tempat ini, hanya orang-orang kepercayaan Bramasta saja yang tahu tempat itu, tempat yang di bangun sedemikian rupa, sangat megah di pinggir pantai, tempat untuknya menenangkan hati dan pikiran dari rumit dan sibuknya dunia ini.
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu berada di dapur Villa itu, tengah mengatur beberapa menu yang disajikan untuk Bramasta.
Penjagaan di Villa dan orang-orang yang berada dalam Villa bukan main-main, segala sesuatu harus di siapkan dengan sedemikian rupa apalagi untuk sang tuan, tidak boleh ada suatu kesalahan sedikit pun.
Orang-orang Bramasta di Villa benar-benar harus peduli dengan kesehatan dan apa pun itu tentang Bramasta.
Saat ini Bramasta tengah tertidur pulas dalam sebuah kamar dalam Villa itu. Sementara para pelayannya mengurus segala kebutuhan Bramasta di sana.
Datanglah seorang pria paruh baya menghampiri wanita paruh baya yang tengah sibuk mengatur beberapa pelayan untuk keperluan Bramasta di Villa itu.
“Bu, apakah tuan muda sudah datang?”
Wanita itu menoleh ke arah sumber suara matanya lebar dengan bola mata yang tajam lalu mengangguk.
“Tuan muda ada di lantai atas, sepertinya dia belum istirahat,” tutur wanita itu.
“Baiklah, saya mengerti.”
Pria itu melangkah meninggalkan ruang dapur dan naik ke lantai atas untuk mengecek tuannya dan menyiapkan beberapa keperluan di dalam kamarnya. Pria itu membuka pintu kamar yang tampak seorang pria tampan tengah tidur pulas di atas ranjang, tak ingin mengganggu pria paruh baya itu berhati-hati membuka dan menutup kembali ruangan itu, lalu ia mengaktifkan beberapa sistem dalam kamar itu, agar saat tuan muda mereka terbangun sudah tinggal menggunakan saja, setelah itu pria itu turun ke lantai bawah.
“Bu, sudah siap semua untuk makan malam tuan muda?”
“Sudah, Pak. Bagaimana dengan tuan muda di atas?”
“Baik saja, hari ini tuan besar akan berkunjung, jangan sampai ada kesalahan, persiapkan dengan teliti, ingat Bu, ini tuan muda dengan tuan besar akan bertemu.”
“Ya, Pak. Ibu paham, untuk menghadapi tuan besar, jangan sampai ada kesalahan lagi, atau tidak akan baik-baik saja bagi kita.”
“Baguslah, tolong hendel di bagian menu makan malam.”
Wanita yang juga adalah istrinya itu mengangguk ke arah suaminya, mereka adalah pasangan suami istri yang telah merawat Bramasta sejak kecil, hidup Bramasta tidak sama dengan anak-anak pada umumnya yang bisa bermain bebas di luar rumah, sedangkan Bramasta harus tinggal di dalam Villa itu dan bermain dengan sepasang suami istri itu saja, mereka juga tidak memiliki anak, jadi Bramasta sudah di anggap seperti anak mereka sendiri, merawat dengan sepenuh hati dan apa pun yang terjadi harus rela berkorban dengan nyawa mereka sendiri untuk Bramasta. Pasangan suami istri yang juga telah merawat Bramasta dari kecil itu bernama, Mina dan Malo.
Mina dan Malo di pungut oleh ayah Bramasta karena terbelit hutang dengan rentenir saat itu, bisnis yang di jalankan oleh Malo itu telah di tipu oleh rekan bisnisnya yang membuat mereka jatuh dalam lingkaran hitam untuk menutupi kekurangan dalam perusahaan mereka, setelah bertahan beberapa waktu dan menggali tutup lubang, akhirnya Malo menyerah sudah dia benar-benar telah pasrah, untung saat itu ia tahu desas desus dari mantan anak buahnya di kantor bahwa ada tuan besar ayah Bramasta yang bisa membantu dengan barter, Malo mencoba untuk menghubungi tuan besar itu dan berhasil, hutang Malo terbakar lunas dengan syarat, Malo dan Mina harus menjadi pelayan yang akan melindungi Bramasta sepenuh hati, dan di tempatkan di Villa itu.
Bramasta, pria itu terbangun dari tidurnya dan melangkah menggeser pintu balkon Villa itu, Bramasta menatap hamparan pantai yang terlihat jelas di mata elangnya, Bramasta itu menoleh ke arah mobil yang beriringan melaju dengan kecepatan sedang ke arah Vilanya, ekor matanya terus mengikuti arah gerak mobil itu saat sudah dekat Bramasta tahu pasti itu mobil siapa, tentu saja ayahnya. Dia melangkah masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri di kamar mandi, setelah mandi dengan air hangat ia mengganti pakaian lalu turun ke lantai bawah.
Saat menuruti anak tangga, Bramasta melihat pria paruh baya berdiri di bawah tangga dengan tangan yang di taruh di belakang punggung, setelah saling tatap beberapa detik pria paruh baya itu buka suara.
“Masih selalu membuat ayah yang menunggu.”
Kemudian pria itu berbalik meninggalkan Bramasta kembali menuruni anak tangga itu, mereka berjalan menuju meja makan di ikuti oleh Mina dan Malo, beberapa pelayan juga sudah menunggu di sana menyiapkan kebutuhan makan malam mereka dengan sigap.
Bramasta dan ayahnya duduk di kursi makan itu sambil menikmati makan malam mereka dengan tenang.
Belum ada di antara mereka yang membuka suara, hanya sesekali saling tatap. Ayah Bramasta itu menarik napas panjang lalu menghela, ia tatap anaknya yang duduk menikmati makan malam itu.
“Jadi, kapan kau akan meresmikan pernikahanmu di publik dengan perempuan itu?”
“Siapa?”
“Perempuan yang telah mengandung anakmu,” tutur ayah Bramasta tegas.
“Dia bukan putraku!” tatapan elang Bramasta itu menajam sama persis milik mending ibunya, istri kedua dari ayahnya, Bianca.
“Jika dia bukan putramu, lalu mengapa kau mau menikahi Perempuan itu?”
“Dia mengancam akan membunuh putranya saat itu juga,” ucap Bramasta.
Ayah Bramasta itu terkekeh mendengar penuturan anaknya, putra kandung dari istri keduanya yang juga wanita yang harus ia nikah karena suatu kesalahan itu juga melakukan hal yang sama dengannya dulu.
Dulu ia terpaksa menikahi Bianca karena akan bunuh diri karena tidak sengaja di tiduri olehnya malam itu, jika ia menikahi Bianca saat kejadian itu juga berbeda dengan Bramasta yang justru menikahi wanita yang mengaku telah mengandung anak Bramasta.
“Lalu bagaimana dengan hasil tes DNA itu?”
“Aku sudah mengetahui yang sebenarnya hasil tes itu telah di rekayasa dan saat itulah Dara mengancamku. Aku tidak bisa melihat anak kecil tak berdaya diperlakukan tidak adil, meski aku tidak terlalu menyukai anak kecil.”
Ayah Bramasta terdiam mendengar penuturan Bramasta lalu menyelesaikan makan malamnya dan meninggalkan Bramasta dan ruang makan itu.