“Bos, apa kita masih harus mengikutinya?”
Pertanyaan pria botak itu tidak di jawab, mata elang pria itu masih tetap menatap ke arah wanita yang terus berjalan itu.
“Bos, gadis itu akan memasuki gang sempit itu, apakah kita masih harus terus mengikutinya?”
“Terus ikuti saja, jalan sempit tidak jadi halangan untuk terus mengikutinya, yang penting masih bisa di lewati.”
“Siap, Bos.”
Waktu terus berjalan, pemilik mobil mewah itu tampaknya tidak memiliki rasa bosan dan lelah, mereka terus mengikuti gadis itu.
“Bos, hari hampir gelap. Apakah kita akan terus seperti ini?”
“Teruskan,”
“Apa gadis itu tidak memiliki rumah dan rasa lelah?” gumam pria botak itu.
Laila terus berjalan dan kini langkahnya masuk ke sebuah rumah makan sederhana di sana, tak lama gadis itu keluar dengan satu buah kantong plastik yang menggantung di tangannya. Gadis itu berjalan masuk ke sebuah gang kecil dan sempit, yang tidak bisa di lewati mobil, membuatnya turun dari mobil itu dan mengikuti Laila dari kejauhan, tanpa Laila sadari.
Masih terus mengikuti hingga Laila masuk ke sebuah rumah kontrakan kecil, pria berkacamata hitam itu menghela napas lalu menatap di sekelilingnya, pemandangan yang tidak biasa ia lihat. Lingkungan yang sangat rapat bangunan dan jalan pun tidak bisa di lewati oleh mobil hanya sepeda motor yang bisa masuk ke dalam lingkungan itu.
Lingkungan yang sangat sempit tidak untuk lalu lalang kendaraan umum, yang melewati jalan itu hanya orang-orang yang memang tinggal di sekitar sana, hiruk pikuk yang terdengar juga suara penghuni bangunan rapat itu.
Ia kembali berbalik menuju mobil mewah yang di tinggal olehnya begitu saja demi mengikuti seorang gadis itu. Mobil mewah itu mulai terlihat di matanya juga ada pria botak yang masih setia duduk di bangku kemudi itu.
Bamm
Suara pintu mobil itu di tutup.
“Kembali ke misi kita!” Titahnya.
“Apa yang sedang Bos pikirkan,” tanya pria botak itu.
Pria berkacamata hitam itu, sibuk dengan ponselnya dan tak lama, ponselnya berdering.
“Halo,” sahutnya.
“Halo, Bos ada apa?”
“Cari tahu tentang kompleks Binar!” titahnya.
“Okay, Siap laksanakan.”
Panggilan itu berakhir.
“Ini sangat menarik,” ucapnya pelan.
Pria botak yang ada dalam mobil yang sama itu hanya menoleh dari dalam kaca spion, pria berkacamata hitam itu tersenyum samar.
***
Hah!
Terdengar helaan napas berat seorang perempuan.
Setelah selesai makan malam, Laila masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lelah, seharian mencari pekerjaan. Uang yang Laila miliki sudah mulai menipis, ini sudah empat hari Laila di kota itu, namun tidak juga mendapatkan pekerjaan yang ia harapkan. Ia pikir benar-benar mudah untuk mencari pekerjaan di kota itu yang katanya pusat lowongan kerja, banyak jenis pekerjaan di kota itu, kita hanya tinggal pilih, ternyata semua itu bulshit!
Gadis itu kini merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil menatap langit-langit kamarnya.
“Ibu, Laili, baru juga beberapa hari di sini tapi sudah rindu dengan kalian.”
Ia menggenggam ponsel jadul miliknya dan memejamkan matanya hingga perlahan hilang kesadaran.
Tok
Tok
“Laila, buka dulu pintunya.” Terdengar suara teriak dari pintu masuk kontrakan itu.
Seketika membuat Laila membuka matanya lebar-lebar, ia berusaha mencerna apa yang sedang terjadi saat ini.
“Laila!”
Suara teriakkan memanggil namanya itu kembali terdengar, kesadaran gadis itu telah kembali, bergegas ia bangun dari tidurnya menuju pintu masuk kontrakan.
“Laila.”
Suara itu benar-benar tidak asing, suara yang sangat familier baginya beberapa hari ini, ia sering mendengar suara itu.
Kreeekkh
“Mbak Mila?”
Suara teriakan itu adalah suara Mila tetangga baru Laila, tersenyum lebar Mila menatap ke arah gadis cantik itu.
“Ada apa, Mbak?” tanya Laila mengerutkan dahi.
“Gimana tadi sepulang dari perusahaan roti, Lo sempat cari tempat lain juga gak?” tanya Mila tersenyum lebar pada Laila.
Gadis itu menunduk, terlihat wajah kecewa di sana, melihat itu senyum Mila juga memudar.
“Sabar, memang enggak mudah, tapi percaya deh, nanti pasti dapat pekerjaan yang jauh lebih baik dan bos perusahaan itu akan menggaji karyawannya dengan sangat tinggi.”
“Semoga aja, Mbak. Meskipun gak mudah.”
“Nah itu bagus, semangat lagi ya.” Laila tersenyum menatap Mila.
“Mbak Mila, mau ke mana?”
“Hari ini lagi ada job. Biasalah, job sampingan. Gajinya lumayan buat biaya hidup anak.”
Laila masih menatap manik Mila dengan senyum di wajahnya, ia melihat orang lain begitu mudahnya mendapat pekerjaan bahkan bisa memiliki pekerjaan sampingan.
“Mbak Mila,” panggil Laila pelan, Mila menatap Laila di depan matanya itu. “Mbak, kira-kira di tempat kerja Mbak Mila yang sampingan ini, ada job juga gak Mbak untuk Laila.”
“Job?”
Laila mengangguk cepat.
Hah!
Mila terdiam menatap Laila seraya berpikir.
Mila menggeleng cepat untuk membangunkan pikiran negatifnya pada Laila.
“Apa yang terjadi,” gumamnya.
Laila menoleh ke arah Mila.
“Ada apa, Mbak?”
“Gak apa,” sahut Mila.
“Ada ya, Mbak. Tolong Laila, Mbak Mila,” ucap Laila menakutkan jemari kedua tangannya, memohon.
Laila dan Mila tampak saling tatap, pasalnya Mila ragu.
“Mbak Mila, Laila di sini hampir satu minggu, tapi belum ada tanda-tanda,”
Hah!
“Lo yakin, Laila?”
Gadis itu mengangguk sebagai jawaban.
“Tapi ... Laila gue khawatir sama Loe,”
“Khawatir? Kenapa memangnya, Mbak Mila?”
“Pekerjaan ini bukan seperti yang kamu harapkan,”
“Maksud Mbak Mila?”
“Gue bekerja di salah satu club malam di kota ini, milik dari bosnya suami komputer gue.”
“Ma-maksudnya, Laila ndak paham,”
“Suami komputer?”
“Ya, gue punya suami komputer di sini.”
“Mbak Mila nikah sama komputer? Laila bingung, gak masuk di otak Laila, Mbak Mila.”
Hah!
“Nikah komputer yang gue maksud, gue nikah sama orang juga, cuman hanya dalam sebuah kertas buatan komputer, Laila.”
“Nikah komputer itu benaran nikah atau gak, Mbak Mila?”
“Laila, sebenarnya lingkungan ini ... Hah! Kebanyakan orang melakukan nikah komputer.”
“Ya, kita kalau nikah memang harus ada bukti nikahnya dan itu juga komputer yang buatnya, Mbak.”
“Maksudku bukan begitu, Laila.”
“Laila, gak paham.”
Gadis itu mengerutkan kening semakin dalam, tampak berpikir keras juga kebingungan.
“Kebanyakan mereka udah nikah di kampung punya suami atau istri dan anak di kampung, tapi mereka merantau untuk cari duit dan untuk menghemat pengeluaran mereka harus cari rekan, banyak yang gak cocok jika dengan sejenis karena perbedaan, tapi kebanyakan di sini akan cocok dan saling mengerti dengan lawan jenis, jadi mereka melakukan nikah komputer, nikah dalam selembar kertas yang bisa membuat mereka sebagai pasangan halal, tapi sebenarnya tidak, mereka tidak benar-benar nikah,”
“Jadi, mereka terlihat pasangan syah suami istri, padahal sebenarnya mereka bukan pasangan suami istri?”
Mila menganggukkan kepalanya, membuat Laila melotot telat terkejut.
“Itu berarti kumpul kebo?!”
“No, no! Ini hanya sekedar pernikahan bisnis, Laila.”
“Seperti apa, mbak?”
“Hah! Kita gak bisa apa-apa, Laila, ini pilihan dari kerasnya hidup, tapi gak semua yang tinggal di sini juga sama sepertiku, Laila.”
“Laila belum paham, Mbak Mila.”
“Jangan cari tahu, nanti menyesal,”