Laila menatap lekat wajah wanita itu, dengan wajah dan mata yang berbinar.
Tiba-tiba perempuan itu bukan menjawab akan tetapi malah tertawa terbahak-bahak yang membuat Laila mengerutkan dahinya heran.
“Saya hanya bercanda, dan Anda sudah seserius itu,” ucapnya.
Seketika raut wajah Laila kembali murung, ia menatap gedung tinggi di depannya.
“Laila pasrah, Mbak. Kalau gedung tinggi ini bukan rezeki Laila,” ucapnya lirih, Seketika membuat hati wanita itu seakan tersayat.
“Sabar ya, Mbak. Kalau di sini belum rezeki, mungkin rezeki Mbak ada yang lebih besar lagi daripada di sini.”
Hah!
Laila menghela napas lelah, ia masih terus menatap gedung tinggi itu.
“Mbak, liatnya jangan di sana terus.”
“Kenapa, Mbak?”
“Ketinggian, coba lihat di sekeliling Mbak saja.”
Sontak membuat Lail mengalihkan pandangannya, menatap sekeliling, ternyata banyak berbagai jenis orang di sana. Laila melihat ada banyak yang jualan di sepanjang jalan di depan gedung itu, ada juga orang yang hilang warasnya dengan pakaian campak-camping duduk di pinggir jalan itu tengah sibuk dengan dunianya sendiri.
Laila menoleh ke arah wanita muda yang duduk di sampingnya itu tengah menggendong seorang bayi perempuan, tengah tersenyum padanya. Laila tidak mampu membalas senyum wanita itu, dia hanya membuka lebar matanya, menatap di sekelilingnya saat ini.
Lalu menunduk, menatap kakinya yang menjumpai di tanah, ia melihat bentuk kaki jenjangnya yang masih putih mulus, dan jari-jari mungil di sana.
“Apa iya, hidup mereka di sini jauh lebih menderita daripada kehidupanku di desa.” Gumamnya.
Wanita itu menyentuh lengan Laila pelan, Laila menoleh ke arah wanita itu.
“Gimana, Mbak?” tanya wanita itu.
“Beragam,” ucap Laila pelan lalu tersenyum menunjukkan giginya.
“Seperti negara kita dong, binekha tunggal ika.”
Mereka pun tertawa terbahak-bahak. Hingga akhirnya Laila pamit pergi dari sana.
“Mbak, Laila pamit dulu ya, mau lanjut cari pekerjaan,” pamitnya.
“Ya sudah, hati-hati ya, Mbak. Semangat terus pokoknya.”
Laila mengangguk lalu pergi meninggalkan tempat itu. Langkah kakinya terus berjalan, sambil melihat-lihat tempat di sana, ada atau tidak yang sedang membuka lowongan kerja.
Saat tengah asyik berjalan, ia menabrak seorang pria yang tengah berdiri fokus menatap ponselnya.
Aughhh
Pria itu menoleh menatap gadis yang menabrak tubuh kekarnya itu, pandangan mereka beradu. Laila langsung mengalihkan pandangannya, dari wajah pria berkacamata hitam itu, terlihat sangat tampan dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
Laila menunduk dan meminta maaf lalu segera pergi dari tempat itu, sebelum ia di denda pria itu tanpa ampun. Sedangkan uang Laila saat ini benar-benar menipis, habis mengeluarkan banyak uang hanya untuk fotokopi berkas lamaran kerjanya saja.
Sedangkan untuk makan, Laila benar-benar sangat hemat, bahkan hanya sehari dua kali, saat pagi beli sarapan uduk dan malam beli nasi goreng atau nasi sayur saja, sedangkan siang Laila hanya makan roti dan minum es sebagai pengganjal lapar.
Belum sempat bicara dan mengejar, tangan pria itu menggantung di udara menatap punggung kecil Laila itu, pria berkacamata hitam itu tampak tersenyum samar.
“Bos, mobil sudah siap,” ucap seorang pria botak bertubuh besar itu.
Pria tampan berkacamata hitam itu melangkah masuk ke dalam mobil mewahnya.
“Ikuti dulu gadis itu,” titahnya.
“Tapi, Bos bagaimana dengan misi kit—“
Ucapan pria botak itu menggantung di udara saat melihat tatapan tajam pria itu dari dalam kaca spion. Pria tampan dalam mobil mewah itu membersihkan kacamata hitam miliknya, lalu kembali mengenakannya.
Laila melangkahkan kakinya, hingga langkahnya terhenti ketika melihat, sebuah perusahaan dengan tembok besar itu. Manik mata dengan ditumbuhi bulu mata lentik itu menatap penuh harap gedung yang dikelilingi tembok itu. Ia mendekat berniat hanya melihat sebentar lalu pergi, akan tetapi manik matanya itu melihat sebuah kertas yang tertempel di tembok itu dan membacanya, seketika semangatnya kembali saat melihat terdapat tulisan lowongan di sana.
Senyum manis gadis cantik itu terlihat jelas di wajahnya. Ada seorang satpam yang berjalan ke arahnya.
“Mbak, lagi cari pekerjaan?” tanya satpam itu.
Laila mengangguk dengan senyum di wajahnya. Membuat satpam itu terpana.
“Bagaimana jika daftar jadi bini saya saja, Mbak.”
Sontak saja membuat Laila melotot seketika lalu terkekeh, satpam itu juga menampakkan senyum di wajahnya.
“Benaran loh, Mbak. Jadi bini kedua, tapi selalu di utamakan deh,” ucap satpam itu.
Lagi, lagi Laila terkekeh.
“Anak saya sudah tiga loh, ini yang ke empat,” tutur Laila mengelus perutnya yang terlihat rata itu.
Satpam itu terkejut dan Laila terkekeh melihatnya, lalu ia pergi dari tempat itu.
Hah!
Laila menghela napas lelah, berjalan pelan menyusuri jalan di kota itu.
“Ibu, Laili, ternyata cari pekerjaan di sini sangat sulit. Sekarang aku luntang-lantung gak jelas di kota ini,” ucapnya pelan dan terus berjalan.
Dia urung memasukkan lamaran di perusahaan tadi, karena perusahaan itu sedang mencari lulusan teknisi, sedangkan Laila hanya lulusan SMA.
Langkah kakinya berhenti di depan warung, ia duduk di sebuah bangku kosong, dan menatap di sekitar warung, lalu menatap ke dalam warung itu.
Ia membuka tasnya dan memeriksa isi dompetnya, lalu mengambil satu lembar uang ribuan, ia tengah haus saat ini dan sudah waktunya dia mengganjal perutnya dengan minuman dan roti.
Setelah mendapatkan roti kemasan kecil dan air minum dalam kemasan gelas itu, ia menyantapnya dengan cepat.
Sedangkan kedua pria dalam mobil itu hanya terdiam menatap pemandangan di depan mereka saat ini. Tanpa ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka, hanya tatapan yang tetap fokus pada gadis cantik itu.
Krughhh
Terdengar suara cacing dalam perut salah satu orang di dalam mobil itu menjerit histeris.
“Keras sekali ya, hidup di dunia ini,” celetuk si botak. “Apa ini suara perutku?” tanyanya kemudian.
Pria botak itu menyentuh perutnya, lalu menoleh ke kaca spion terlihat tatapan dari Bosnya itu.
“Belikan aku roti dan botol air mineral di warung itu!” titahnya.
“Tidak salah, Bos?” ucapan spontan pria botak itu membuat mereka saling tatap. Melihat tatapan itu sontak saja pria botak itu berkata, “Siap, Bos!”
Pria botak itu keluar dari dalam mobil dan berbelanja sesuai yang bosnya perintahkan. Saat tengah berbelanja, pria botak itu menoleh ke arah Laila yang membuat gadis itu mengerutkan dahinya heran, ada rasa takut dalam diri Laila, apalagi melihat perawakan pria itu sangat menyeramkan bagi Laila, gadis itu segera pergi dari sana dan melanjutkan perjalanannya untuk mencari lowongan.
Melihat gadis itu pergi dari sana, setelah mendapatkan yang ia inginkan pria botak itu segera berlari kecil dan masuk ke dalam mobil mewah itu.
“Cepat kemudikan mobilnya!” titah pria itu.
“Siap, Bos.”
“Jangan sampai kehilangan jejaknya,” ujar pria tampan itu.
“Bos memang ada apa, kenapa kita harus menunda pekerjaan kita untuk mengikuti wanita itu. Dia memang cantik, Bos. Tapi, masih ada banyak stok seperti dia, bahkan yang lebih, arrrghhhh,” ucap pria botak itu.
Melihat tatapan bosnya yang terlihat dingin dan tajam itu membuatnya terdiam dan terus mengikuti gadis cantik itu.