Laila berdiri di depan pintu kontrakan yang sudah ia tempati tiga hari ini.
Sekarang sudah pukul 07:00 WIB. Ini sudah 30 menit lebih Laila mondar-mandir menunggu Mila keluar dari rumahnya untuk bekerja.
“Mbak Mila di mana ya, kok belum keluar, apa sebenarnya ... Mbak Mila udah berangkat kerja pagi-pagi sekali,” ucapnya pelan seraya berpikir.
Tak lama, Laila mendengar suara pintu di buka. Refleks Laila menoleh ke arah sumber suara itu, tampaklah sosok wanita berambut pirang yang sejak tadi ia tunggu-tunggu. Ada perasaan lega yang terlihat jelas di wajah Laila.
“Pagi Laila.”
“Pagi Mbak Mila,” balas ya.
“Lo dari tadi?”
“Gak juga, Laila pikir, Mbak Mila sudah berangkat kerja.”
Mila terkekeh.
“Gue biasanya berangkat dari rumah pukul 07:00 WIB.”
Laila mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Baju Lu, bagus. Kelihatan rapi, seperti pakaian wanita karier jamannya ibu gue,”
“Ya, Mbak Mila. Ini bekas baju ibuku waktu masih muda.”
“Oya? Masih bagus, loh. Di badan Lo juga pas banget, Lu permak lagi ya?”
Laila menggelengkan kepalanya.
“Enggak kok Mbak Mila, aku gak permak lagi baju-baju ini, memang sudah pas di tubuhku.”
“Lo kelihatan cantik loh, pake baju itu.”
“Terima kasih Mbak Mila, udah puji Laila terus pagi ini.”
Mila tertawa kecil dan Laila tersenyum.
“Tapi gue serius, Laila.”
“Laila, jadi malu Mbak, pipi Laila sudah panas rasanya.”
Mereka semakin tertawa lebar.
Tidak terasa akhirnya mereka sampai di gerbang masuk perusahaan itu, dari kontrakan Mila ke perusahaan roti itu sangat dekat. Tidak perlu naik angkot cukup jalan kaki pagi 5 menit saja sudah sampai.
“Mbak, Laila kok grogi ya.”
“Wajar kalau Lo grogi, namanya juga manusia, tapi gak apa, semangat Laila semoga Lo berhasil dapat pekerjaan ini,” ucap Mila menyemangati Laila.
Mereka saat ini berada di halaman depan sebuah gedung di kompleks perusahaan roti itu.
“Cong, masih ada gak lowongan kemarin?”
“Bawa bini siapa lo?”
“Bacot, gak usah banyak tanya cong, jawab aja pertanyaan gue.”
Laila hanya terdiam menyaksikan kedua orang itu berdebat.
“Tanya aja sama Mak.”
“Udah datang belum?”
“Udah, masuk aja.”
“Laila, ayok masuk,” ajak Mila.
“Mak,” panggil Mila dari depan pintu.
“Woy, ngapa lo malah kesini, lo gak liat jam?”
Seketika manik mata orang yang di panggil Mak itu menoleh ke arah Laila.
“Siapa yang lo bawa, anak baru?”
“Ya, makanya ini Mak, mau tanya dulu. Masih gak lowongan kemarin?”
“Baru mau lamar?”
Mila mengangguk.
“Ngapa lo bawa ke sini, Mil. Barang bagus gini jangan lo sia-siakan geh.”
“Jangan gitu, Mak.”
Pria yang di panggil Mak itu berdecap menggaruk dagunya yang tidak gatal itu.
“Taruh aja, lamarannya di meja,” titahnya kemudian.
Pria yang di panggil mak itu duduk di kursi lalu menyuruh Laili duduk di kursi depannya.
“Nama kamu Laila?”
“Ya, Pak.”
“Hanya Laila?”
Laila mengangguk kembali.
“Keahlian kamu apa?”
“Saya bisa memasak, Pak.”
“Masak apa?”
“Macam-macam. Seperti, kue lambang sari, kue lapis, kue getuk, kue cenel. Masih banyak lagi, karena kalau di desa saya itu saya sudah biasa untuk masak, Pak.”
Mendengar jawaban dari Laila Membuat Mila menundukkan kepalanya.
“Kamu tahu pizza?”
“Pizza? Belum tahu, Pak.”
Mila terdiam di tempat, pikirannya masih ke mana-mana saat ini, apa sebegitu menderitanya hidup Laila selama di kampung, pizza saja dia tidak tahu, pikir Mila menggigit jarinya.
“Oke.”
Suara pria itu membuat Mila dan Laila terkejut.
“Sesi wawancaranya sudah selesai, nanti akan di rapatkan dulu, jika kamu terpilih kamu akan di panggil oleh perusahaan.”
“Baik, Pak. Terima kasih.”
“Belum di terima, terima kasihnya nanti saja. Jika dapat panggilan.”
Laila mengangguk senang. Baik Laila mau pun Mila keluar dari dalam gedung itu.
“Laila, lo harus tetap semangat terus ya, di terima atau tidak nantinya.”
“Ya Mbak, Laila pasrah jika memang bukan di sini rezeki Laila.”
“Ya sudah, maaf. Gue gak bisa antar lo sampai gerbang, gue udah harus kerja.”
“Gak apa, Mbak. Laila tahu jalan keluarnya kok.”
“Ya udah lo hati-hati ya.”
Laila mengangguk lalu melihat pundak Mila yang hilang di balik tembok besar itu. Laila menghela napas pasrah, lalu berjalan keluar gerbang perusahaan itu. Ia melihat orang-orang yang berjualan di sekitar perusahaan itu, lalu duduk di salah satu bangku kosong di sana. Ia tampak memandangi gedung-gedung tinggi di depannya itu.
“Ternyata cari pekerjaan di sini tidak semudah orang-orang itu bilang.” Gumamnya lalu menunduk, menatap kaki jenjangnya yang terbalut sepatu pantofel.
Ia melepaskan sepatunya yang terasa sedikit menyakiti kakinya, karena bahan dari sepatu itu sangat keras, tidak seperti kulitnya putih dan mudah terluka itu.
“Aku tidak tahu jika hidup di kota sangat jauh berbeda dari desa. Sangat jauh, roti pizza saja aku tidak tahu,” keluhnya.
Ucapan Laila itu di dengar oleh seorang wanita muda menggendong seorang bayi perempuan. Wanita itu duduk di sebelah Laila.
“Mbak dari desa?” tanya wanita itu datar.
Laila tersenyum dan mengangguk.
“Berapa usianya?”
“22 tahun.”
“Kamu cantik dan masih muda,” ucapnya, Laila hanya tersenyum kecil.
“Kehidupan di sini keras. Harus pintar-pintar.”
“Mbak tahu pizza?” tanya Laila polos.
Wanita itu menoleh dan menatap Laila datar. Tak lama wanita itu tertawa terbahak-bahak. Laila hanya tersenyum bodoh menatap wanita itu.
“Kamu dari satelit mana?”
Laila terdiam. Ia tidak mengerti dengan pertanyaan wanita itu, memangnya Laila terlihat seperti alien? Jelas saja Laila masih satu tempat dengan mereka tinggal yaitu bumi.
“Kamu lihat gambar itu?”
“Ya.”
“Itu ada tulisan pizza?”
“Ya, apa pizza itu roti yang ada di gambar?”
“Kamu bodoh sekali ternyata, aku baru tahu ada orang yang lebih bodoh dari aku, padahal kamu cantik loh,” ucap wanita itu tersenyum pada Laila.
“Manusia, tidak ada yang sempurna. Aku manusia biasa, bukan alien. Di desaku gak ada seperti itu, adanya getuk, ciwul, cenil.”
Lagi-lagi wanita muda itu tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Laila, bukankah pizza sekarang sudah masuk ke pelosok bumi, kenapa gadis cantik di sampingnya ini tidak tahu.
“Mbak cantik, mau saya kasih tahu pekerjaan yang yang Mbak udah pasti di terima gak? Kerjanya enak loh.”
Seketika mata gadis cantik itu berbinar menatap wanita muda di sampingnya itu, yang membuat wanita itu terkejut melihat wajahnya yang tampak senang, ada rasa terenyuh di hati wanita itu, rasanya tidak tega jika dia harus mengatakan hal itu, takut membuat gadis cantik itu kecewa. Ia menelan ludahnya dengan susah payah.
“Mau, Mbak. Mau banget, kira-kira saya bakal di terima atau gak ya, Mbak?”
Wanita muda itu terdiam dan mengalihkan pandangannya pada bayi perempuan dalam dekapannya itu, yang tampak senang asyik bermain dan mengoceh sendiri.