Cuaca yang sangat trik itu membuat gadis itu merasa lelah, ia belum juga menemukan lowongan yang menerimanya.
Melihat penjual minuman segar di pinggir jalan membuat Laila menelan ludahnya kasar, haus sekali. Melihat itu tenggorokan Laila rasanya menjerit minta agar di basahi.
Laila mendekati orang yang berjualan itu, dan matanya tak lepas menatap beberapa minuman kemasan yang terlihat segar itu.
“Beli es, Neng?”
“Harganya berapa, Pak?”
“Macam-Macam, Neng.”
“Yang di sedih?”
“Ya di seduh ya, Neng. Ada dua macam, yang ini dua ribu rupiah, dan yang ini lima ribu rupiah, Neng. Mau yang mana?”
“Beda-beda ya, Pak. Beli yang dua ribuan saja, Pak.”
“Ya, Neng. Beda harga, beda kualitas, beda modal,” ujar penjual itu.
Persetan dengan harga dan kualitas, Laila tidak peduli itu. Ia hanya ingin minum es segar untuk membasahi tenggorokan Laila yang terasa kering itu.
“Neng, dari jauh?”
Laila mengangguk.
“Cari pekerjaan ya, Neng?”
“Ya, Pak.”
“Di sini mah banyak, Neng. Dari yang halal sampai yang haram.”
“Bapak tahu informasi lowongan pekerjaan yang sedang membutuhkan tenaga kerja?”
“Wah, saya mah kurang tahu.”
“Tapi cari aja, Neng. Semangat ya.”
Sudah banyak tokoh dan perusahaan yang Laila kunjungi hari ini, akan tetapi masih nihil, belum ada tanda-tanda dirinya akan di panggil untuk wawancara untuk bekerja.
Lelah sore ini, Laila ingin cepat sampai di rumah kontrakan untuk merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur tipis itu.
Sebelum sampai di rumah kontrakan kecil itu, Laila mampir ke rumah makan yang sudah akan tutup itu.
“Bu, Bu tunggu, jangan dulu di tutup warungnya.”
“Ya, ada apa?” Ucap wanita itu sedikit sinis.
“Saya ingin beli sayurnya.”
Wanita itu berdesis dan memutar bola mata jengah.
“Kamu gimana sih, kan warungnya mau tutup, artinya sudah habis.”
“Tapi, itu masih ada sedikit.”
Wanita itu berdecap lalu segera membungkus sedikit nasi dan sambal, lalu ia tumpahkan sisa kuah santan ke dalam nasi bungkus itu.
“Nih, ambil.” Wanita itu menyodorkan nasi bungkus itu pada Laila.
“Berapa ya, Mbak?”
“Lima belas ribu.”
“Mahal banget, Mbak?”
“Mau bayar gak? Tadi maksa mau beli.”
“Ya, Mbak. Saya bayar.”
Sebenarnya Laila sedikit ada rasa tidak ikhlas dengan uang yang dia berikan pada penjual nasi itu, hanya nasi dan kuah sisa saja harganya semalam itu, lebih murah dari serbu. Jika beli serbu sudah dapat nasi banyak ada lauknya, bisa pilih ada ayam, ikan, atau telur.
Laila melangkah pelan sambil berpikir-pikir di jalan kecil menuju rumah kontrakan yang ia sewa dari tante bahenol itu.
Di perjalanan Laila berpakaian dengan Mila, tetangganya itu. Mila yang akan menyapa Laila itu urung, ia mengerutkan dahinya melihat wajah Laila yang tampak murung.
“Laila,” sapanya pelan.
Laila menoleh ke sampingnya yang sudah ada Mila, tengah tersenyum lebar menatapnya.
“Lo bawa apa?” tanya Mila pelan.
“Saya bawa nasi bungkus,” sahut Laila setelah melihat kedua tangannya menggenggam bungkusan kecil tanpa plastik itu.
Manik mata Mila tertuju pada bungkusan kecil itu, lalu menatap ke arah Laila.
“Lo dapat dari mana?”
Mila tidak merubah ekspresi wajahnya. Ia menyeimbangkan langkahnya dengan Laila.
“Saya dari beli, di warung makan depan, Mbak.”
“Beli?”
Mila meminta kepastian dari Laila yang mengangguk sambil tersenyum. Mila melihat bola mata hitam yang terang di wajah Laila, Mila menghembus napas panjang.
Hah!
“Lain kali, Lu harus pilih tempat yang bisa terima Lo.”
“Maksud, Mbak Mila?”
“Tidak apa, besok-besok jangan belanja di sana lagi ya.”
Laila tersenyum lalu mengangguk.
“Di sini mahal-mahal ya, Mbak”
“Enggak juga, Laila. Lu cari warung yang gak tepat.”
“Ya sih, Mbak. Tadi warungnya bilang sudah habis, tapi Laila memaksa, agar lebih murah gitu kalau bayar makan sisa yang udah gak habis, Mbak.” Laila tersenyum polos menceritakan kejadiannya pada Mila.
“Lu beli harga berapa itu?” tanya Mila.
“Lima belas ribu, Mbak.” Laila menyahut pelan pertanyaan Mila, lalu menunduk.
Hah!
“Mbak Mila, baru pulang kerja?”
“Ya, tadinya mau ambil lembur. Tapi urung, soalnya suami gue pulang hari ini.” Mila tersenyum menggoda pada Laila yang ikut tersenyum.
Melihat bungkusan nasi yang Laila genggam itu hanya satu centong kecil dan tidak di beri plastik, miris sekali hari Mila. Dia jadi teringat saat dia pertama kali datang ke kota ini, berjalan di jalan kecil yang panjang untuk sampai ke kontrakan mereka tidak terasa ternyata mereka telah sampai.
“Gak ke rasa ya, Mbak. Kita sudah sampai loh.”
“Laila, kalau ada apa-apa. Cari gue saja ya,” ucap Mila sebelum berpisah untuk masuk ke rumah kontrakan mereka masing-masing.
“Ya, Mbak Mila.”
Mila mengangkat kedua jempol tangannya pada Laila, hingga tubuh Mila hilang di telan pintu.
Laila meletakkan tas yang dari pagi selalu menggantung di pundak kecilnya itu di atas kasur tipisnya, Laila membuka tas itu dan mulai memeriksa berkas yang tersisa di dalam tasnya, ternyata tinggal beberapa lembar lagi. Lalu dia membuka dompetnya dan menghitung beberapa lembar uang yang tersisa.
“Laila belum dapat pekerjaan di sini, ternyata susah juga ya,” ucapnya pelan.
Laila menyimpan kembali uangnya di dalam dompet kecilnya itu.
“Aku harus lebih hemat lagi, tapi yang buat boros itu biaya cari pekerjaan itu,” ucapnya lirih.
“Laili, ibu. Ternyata di sini cari kerja gak mudah, seperti yang orang-orang bilang, banyak pekerjaan di sini. Nyatanya Laila belum juga dapat kerja,” Rancunya.
“Tapi, Laila tahu, Laila baru satu hari di sini dan menyebar surat lamaran, semua butuh proses. Semangat Laila,”
Karena lela tubuhnya seharian ke sana kemari untuk memasukkan surat lamaran, membuatnya memejamkan matanya perlahan kesadaran gadis itu hilang.
Keesokan harinya, seperti biasa Laila akan berkeliling kota untuk memasukkan surat lamaran kerja di perusahaan dan beberapa tokoh.
“Laila, bagaimana, Lu sudah mendapatkan pekerjaan?” seperti hari sebelumnya, Laila berpapasan dengan Mila di jalan kecil menuju rumahnya.
“Belum juga, Laila sudah masukan ke beberapa perusahaan dan tokoh, tapi belum juga dapat panggilan. Mbak Mila kerja di mana?”
“Gue kerja di perusahaan, produksi roti.”
Mila melihat binar di wajah cantik Laila, seketika Mila berpikir, kebetulan di perusahaan tempat Mila bekerja saat ini membuka sebuah lowongan kerja bagian produksi saat ini.
“Laila, besok lu siapkan surat lamaran kerja ya di perusahaan tempat gue kerja, kebetulan lagi buka lowongan, siapa tahu belum ada yang isi.”
“Wah... benaran nih, Mbak Mila?”
“Ya benaran, besok bareng aja berangkatnya.”
“Laila siap, Mbak.”
“Biasanya Lu keluar dari rumah jam berapa?”
“Laila keluar rumah jam setengah tujuhan, Mbak Mila.”
“Terbiasa bangun pagi, ya?”
Laila mengangguk.
“Ibu selalu bangun in Laila jam lima atau jam stengah lima pagi, Mbak Mila.”
“Baiklah, besok tunggu gue. Gue dapat sif pagi lagi besok.”
“Siap, Mbak Mila.”
Mila mengangkat kedua jempol tangannya untuk Laila dan masuk ke dalam rumahnya.
Laila merasa senang sekali hari ini, karena dia akhirnya besok bisa mencoba untuk masukkan surat lamaran kerja di perusahaan roti, tempat Mila bekerja.
“Ibu, Laili, besok Laila mau ikut Mbak Mila ke tempat kerjanya, kata Mbak Mila di perusahaan itu sedang buka lowongan pekerjaan. Doakan aku ya, supaya di terima dan bisa langsung kerja di sana.” Gumamnya, mengelus selembar foto di tangannya.
Gadis itu tak henti mengembangkan senyumnya dan memeluk foto itu, ia memejamkan matanya. Lalu tiba-tiba ia bermimpi yang terasa nyata, dalam mimpinya itu ia di hampir oleh sadari kembarnya—Laili.
“Hei, bangun... jangan senyum-senyum sendiri, kamu sudah gila ya? Ingat, kamu itu belum tentu di terima, perjuangan kamu masih panjang.”
Seketika Lail terbangun dari tidurnya yang baru beberapa menit itu, Laila memikat kepalanya yang terasa berdenyut itu.
“Benar juga ya, jangan terlalu senang dulu. Ini kan belum positif di terima bekerja.” Gumamnya.
Hah!