Ia menatap langit-langit di kamar itu, ia memikirkan tentang kembarannya dan ibunya di desa.
“Ibu dan Laili lagi apa sekarang? Pasti Laili sedang menemani ibu babat rumput untuk beri makan kambing tuan Sobir.”
Hah!
“Kasihan ibu, selama hidupnya terus banting tulang buat aku dan Laili. Di hari tuanya juga masih terus bekerja. Aku harus bisa dapat pekerjaan yang layak di sini.”
“Syukur-syukur bisa renovasi rumah dan buat usaha kecil-kecilan di desa. Supaya ibu lebih lega, tidak memikirkan besok harus makan apa.”
Tidak terasa ternyata saat dia rebahan di atas kasur tipisnya itu dan memikirkan keluarganya di desa Laila ketiduran.
Sekarang Laila terbangun saat waktu sudah gelap, Laila memeriksa nasi bungkus yang ia bawa dari desa tadi pagi. Setelah ia temukan dan ternyata nasi bungkusnya tidak basi, karena lauknya ia pisah.
Laila melahap nasi bungkusnya hingga habis tak bersisa, Laila membuka tutup botol air yang ia sediakan saat di desa lalu meneguknya.
Laila terduduk di sisi kasur tipis itu dan memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Tak lama dari itu, Laila memeriksa berkasnya yang ada di dalam tas.
“Ini sudah siap.” Gumamnya.
Laila merapikan kembali berkasnya dan menyimpannya di dalam tas.
Laila mengambil uangnya dari dalam dompet untuk pergi ke warung, membeli sabun colek dan sabun mandi yang akan ia gunakan selama di sana, sekalian Laila juga akan bertanya-tanya tentang lowongan pekerjaan.
Laila berjalan sepanjang jalan kecil di kompleks kontrakan yang ia tempati saat ini, tak lama langkahnya berhenti ketika melihat warung kecil, ia mendekati warung itu.
Laila melihat ada seorang anak kecil di teras warung kecil itu, umur anak itu sekitar 1-2 tahunan. Laila tersenyum menatap anak kecil tersebut.
“Hei adik kecil, di mana ibumu?” tanyanya.
Bayi kecil itu tampak diam menatap Laila, tak lama keluarlah seorang wanita dari dalam warung itu.
“Ada apa, Neng?”
“Ini anaknya?”
“Ya, itu anak saya Jono namanya.”
“Oh, ganteng anaknya.”
“Mau beli apa, Neng?”
Laila memberikan lembaran uang pada ibu itu.
“Saya cari sabun colek dan sabun mandi, Bu.”
“Sudah? Gak cari yang lain?”
“Untuk sayur ada, Bu?”
“Ada pilih saja.”
Saat Lail selesai memilih dan akan mengambil bungkusan plastik kecil itu, Laila di kejutkan dengan suara di depan warung itu.
Pranghhh
“Sialan kamu mas, gak ngasih duit malah ngasih anak.” Teriakan itu terdengar sangat jelas di telinga Laila dan siapa pun yang ada di sana.
“Anak kamu di sini saja gak ke urus, kamu udah buat anak lagi di luar sana. Laki-laki b******k kamu mas.”
Teriakan itu membuat bulu kuduk Lail meremang, gadis itu menatap ibu yang ada di dalam warung. Ibu itu memperhatikan Laila yang tampak penuh tanda tanya.
“Sudah biasa, Neng. Keluarga itu memang selalu ribut. Rumah tangannya gak pernah akur.”
Laila mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kita juga gak bisa ikut campur, urusan rumah tangga mereka.”
“Ya, Bu.”
“Makanya, nanti kalau mau nikah, lihat dulu calonnya ya, jangan salah pilih. Apalagi Neng cantik, kalau boleh tahu siapa namanya?”
“Laila, Bu. “
“Warga baru, ya?”
“Baru datang dari desa, Bu.”
“Neng, mau cari kerja?”
“Ya, Bu. Kira-kira ada gak ya Bu lowongan.”
“Kalau masalah lowongan, banyak kok, di sini pusat perusahaan produksi juga. Tapi tergantung Neng cocok atau enggak.”
“Pasti cocok kok, Bu. Apa pun pekerjaan itu, Laila akan berusaha keras.”
“Sepertinya tekatmu sudah bulat ya, untuk merantau.”
Laila mengangguk dengan senyum polosnya itu.
“Ya sudah, yang penting Hati-hati, pintar-pintar jaga diri, jangan salah pergaulan.”
Setelah selesai berbelanja dan berbincang-bincang dengan ibu warung itu, Laila kembali ke rumah kontrakan yang ia tempati sekarang.
Saat Laila akan melangkah membuka pintu kontrakan itu, wanita pirang tadi sore memanggil Laila.
“Laila.” Teriak wanita itu membuat Laila menoleh cepat. “Sini, gabung sama kita kita.” Lanjut wanita itu—Mila.
“Terima kasih, Mbak Mila. Saya masuk saja, mau bersih-bersih.”
“Siapa?” Tanya seorang teman Mila
“Tetangga baru gue.”
“Hah, cantik sih tapi gak asik,” ucap teman Mila yang terdengar di telinga Laila yang semakin membuat Laila merinding takut.
“Saya masuk dulu ya, Mbak.”
“Ya sudah, yang bersih ya.” Teriak Mila pada Laila.
Laila masuk ke dalam rumah kontrakan itu, bulu kuduknya meremang.
“Seram sekali di sini.” Gumam Laila.
Akan tetapi rasa takut dalam dirinya ia tepis jauh, tekatnya benar-benar sudah bulat saat ini. Dia akan membantu keuangan keluarganya di desa, terutama demi ibu. Dia ingin melihat ibunya menikmati hari tua di rumah, bukan dengan bekerja di kebun orang, memberi makan binatang peliharaan orang kaya di desanya itu.
Pekerjaan ini sudah biasa Laila lakukan saat di desa, mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu dan mengepel lantai, Laila mengusap peluh yang membasahi wajah cantiknya itu.
Laila tersenyum lega ketika melihat kontrakan itu sudah jauh lebih bersih dengan wangi sabun colek itu.
Akan tetapi wangi ini jauh lebih baik daripada sebelumnya yang dominan bau air kencing tikus, sangat mengganggu indra pensiunan.
Laila menjatuhkan tubuhnya di atas kasur tipis itu, dan berniat untuk memecahkan matanya, karena besok pagi dia harus mencari pekerjaan.
Saat pagi sekali, Laila terbangun dari tidurnya. Ia mencuci wajahnya dan membersihkan sayuran yang ia beli di warung semalam, untuk ia masak.
Setelah masakannya matang, Laila menyajikan masakannya itu untuk sarapan. Setelah itu Laila lekas mandi, dan mengenakan pakaian yang akan ia kenakan saat mencari pekerjaan hari ini.
Laila tersenyum manis di depan potongan cermin seadanya di dalam kamar kontrakan itu, bibir cerry miliknya itu tampak menawan, bulu mata lentik dan alis yang sudah sangat rapi tanpa pensil alis itu.
Rambutnya yang hitam panjang yang terlihat masih basah itu ia urai, mengenakan celana bahan dan baju kemeja, ia tidak lupa membawa tas selempang bekas ibunya sewaktu gadis dulu ia sampirkan di bahu kecilnya.
Sangat cantik dan rapi, meski Laila mengenakan pakaian seadanya dan pakaian bekas ibunya sewaktu gadis dulu akan tetapi itu tidak menghilangkan aura ke cantiknya Laila, dia benar-benar sangat cantik.
Laila keluar dari rumah kontrakan yang ia sewa dari tante bahenol kemarin, lalu menguncinya.
Dengan senyum manisnya ia melangkah meninggalkan rumah kontrakan itu, untuk mencari perusahaan yang sedang membuka lowongan pekerjaan.
Laila, gadis itu mampir di tempat photocopy untuk berkas persyaratan yang akan ia gunakan untuk melamar pekerjaan.
Setelah selesai fotokopi banyak berkas, persiapan untuk melamar kerja Laila menyimpannya dalam tasnya, dan ia melanjutkan perjalanan menuju perusahaan dan ada beberapa rumah makan yang ia kunjungi, sudah setengah hari Laila mencari pekerjaan.