Laila tampak berpikir sejenak kemudian langsung mengangguk.
“Ayo, ikut tante bahenol. Tante ada tempat kontrakan kosong untuk kamu.”
Laila langsung mengikuti wanita paruh baya yang gempa itu, langkahnya sangat bersemangat. Laila memperhatikan cara wanita itu berjalan dan bernapas membuat Laila terasa sesak.
Kedua wanita itu berjalan di lorong sempit itu, begitu banyak bangunan yang berdempetan di sana, aroma setiap langkah yang Laila lalui ini sangat membuat tidak nyaman, jika harus di bandingkan dengan desa Laila, desa Laila itu masih asri dan segar berbeda jauh dengan tempat ini, sangat ramai penduduk yang tinggal di sana. Banyak sampah dan jalan yang panjang juga rusak, membuat sakit kepala saja.
“Kamu sudah sering pergi ke kota, atau baru pertama?” tanya wanita itu sambil terus berjalan.
“Ya. Laila baru pertama ke sini, Tante.”
Tante itu mengangguk-anggukkan kepalanya, sebagai tanda mengerti.
“Kamu lulusan apa?”
“Laila hanya lulusan SMA, Tante.”
“Gak masalah kok, Laila. Walaupun Laila hanya tamatan SMA. Justru perusahaan itu caranya yang lulusan SMA.”
“Benarkah itu, Tante? Syukurlah, jika benar begitu.”
“Ada tapinya Laila,” ucapnya.
“Apa itu, Tante?”
“Kerjanya sebagai karyawan produksi. Kamu ngerti maksud tante bahenol?”
“Bagian pembuatan produk?”
“Ya, wah ternyata kamu pintar Laila.”
Kedua wanita itu terus berjalan, menyusuri padatnya kontrakan itu.
“Kontrakan di sini murah sekali, Laila. Di antara kontrakan di kota ini, di sinilah yang paling murah.”
“Berapa harganya, Tante?”
“Hanya 400 ribu rupiah itu harga per bulan, bagaimana murah, kan?” tante bahenol menoleh ke arah Laila.
“400 ribu rupiah, Tante?”
“Ya, hanya 400 ribu rupiah.”
Bagi Tante bahenol mungkin iya murah, tapi bagi Laila ini sangat mahal, apalagi dia belum mendapat kerja, sebagian uang tabungannya sudah ia bayarkan untuk ongkosnya ke kota.
Wanita bertubuh gempal itu tiba-tiba menoleh ke arah Laila yang tampak sedang berpikir, tante bahenol juga berpikir apa yang sedang gadis ini pikirkan.
Kini akhirnya mereka berdua telah tiba di depan pintu rumah kontrakan itu.
“Nah, di sini Laila kontrakan tante. Bagaimana, kamu suka?”
“Jika Laila lihat dari luar lumayan tante, hampir sama dengan rumah Laila di kampung, hanya saja lebih besar rumah Laila di kampung.”
“Jadi kamu suka, baguslah,” ucap wanita itu lalu membuka kunci rumah kontrakan itu.
“Tetangga baru, Tante?” tanya seorang wanita dengan pakaian sedikit terbuka itu.
“Ya, ini calon tetangga berumu.”
“Cantik ya, Tante. Barang baru?”
“Jangan ngawur. Original.”
“Wah, mantap itu.”
“Haha, jangan macam-macam, jangan di ajari hal yang gak benar ya.”
“Tante, tenang saja. Gak ada yang berani maksa, kecuali keinginan sendiri.”
Sungguh percakapan mereka, Laila belum mengerti sama sekali.
Laila dan Tante bahenol itu masuk ke dalam kontrakan itu, untuk memeriksa keadaan di dalam.
“Bagaimana Laila, kamu cocok dengan kontrakan ini?” tanya tante bahenol.
Melihat Laila yang tengah sibuk melihat sekeliling dan belum menjawab. “Bagaimana, ini masih layak loh.” Ucapnya lagi dengan senyum di wajahnya.
“Ya. Ini sudah bagus, Tante. Pasti Laila akan nyaman di sini.” Laila menaruh tas yang sedari tadi selalu Ia tenteng itu.
“Baguslah jika kamu cocok.”
Tante bahenol itu tersenyum senang ketika kontrakan yang ia tawarkan pada Laila itu di terima dengan baik.
Setelah menunjukkan kontrakan dan memberikan kunci, tante bahenol pergi dan pulang ke rumahnya sendiri.
Laila menatap sekeliling ruangan di rumah itu, tidak terlalu buruk. Lagi pula Laila sudah terbiasa hidup sederhana, kontrakan seperti ini pastinya sudah nyaman bagi Laila, apa lagi sudah ada kasur meski tipis, dan ada kompor sedikit peralatan dapur. Biaya kontrakan ini bagi Laila memang sangat mahal, tapi belum tentu Laila akan mendapatkan kontrakan yang jauh lebih murah daripada ini.
Apalagi tadi juga tante bahenol mengatakan jika kontrakan ini jauh lebih murah dari pada kontrakan lainnya yang ada di kota ini.
Kontrakan ini terdiri dari tiga kotak ruangan yaitu dapur dan kamar mandi, kamar dan ruang tamu.
Kontrakan ini memang kecil jika di banding rumahnya di desa. Tapi sama-sama sederhana, jika di sini ruangannya sempit di desa ruang kamar Laila sangat luas ukurannya dan ruang tamu Apalagi dapur yang sangat luas daripada ruang tamu dan kamar.
Laila, gadis itu tersenyum senang, tapi tiba-tiba senyumnya perlahan memudar.
“Ini baru awal, belum bisa terlalu senang, karena tujuan awal ke sini adalah untuk mendapatkan pekerjaan,” lirihnya.
Laila membuka tasnya dan menyusun beberapa bajunya ke dalam lemari kecil di dalam kamar itu.
Di saat tengah asik menata pakaiannya di dalam lemari kecil itu—
Tok
Tok
“Permisi... lipstik, bedak, parfumnya, Mbak...” teriak seseorang di depan pintu kontrakan Laila.
Laila menghentikan aktivitasnya lalu melangkah menuju pintu yang masih terbuka itu, tampak seorang wanita muda dengan rambut perannya yang berantakan juga terlihat lepek.
“Ya. Maaf Mbak, saya gak pesan,” tutur gadis itu polos.
Sontak saja membuat wanita pirang itu tertawa lebar, Laila terkejut dan menatap wanita itu tanpa kedip.
“Siapa yang sedang berjualan!” Seru wanita itu.
“Tadi Mbak menawarkan saya kosmetik?”
“Apa gue bawa kosmetik, atau barang dagangan?”
Laila langsung menggelengkan kepalanya ketika ia tidak melihat satu barang pun yang di bawa oleh wanita itu, Laila benar-benar terlihat seperti orang bodoh sekarang, wanita itu tanpa permisi duduk di lantai ruang tamu Laila.
“Kenal in gue Mila, tetangga lu.”
Laila menyambut uluran tangan wanita pirang itu—Mila.
“Aku Laila.”
Wanita itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nama yang bagus. Laila,”
“Terima kasih, Mbak.”
Mila langsung berdiri dari duduknya di lantai kontrakan yang dingin itu.
“Gue pulang dulu, kalau ada apa-apa, cari aja gue di rumah kok kalau lagi gak ada job.”
“Ya, Mbak. Terima kasih.”
Laila mengantar wanita itu sampai depan pintu, Mila melenggang pergi meninggalkan Laila ke rumah kontrakan yang ia tempati itu.
Laila menatap punggung kecil wanita itu dengan senyum kecil, saat wanita itu akan masuk rumah, Laila melihat ada seorang pria yang keluar dari rumah itu.
“Mau ke mana, bang?”
“Cari duit.”
Laila semakin melebarkan senyumnya dan menutup pintu kontrakan itu.
“Ada saja.” Gumamnya.
Tapi tidak bisa di pinggiri, orang-orang yang tinggal di kota ini, yang menjadi tetangga baru Laila sangat baik-baik dan juga ramah.
Laila tersenyum, ia melanjutkan aktivitasnya untuk membersihkan kontrakan itu agar menjadi lebih nyaman untuk di tempati.
Saat selesai, semua sudah rapi dan bersih Laila merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur tipis itu.
“Nanti harus cari warung, untuk beli sabun colek supaya lantainya terlihat lebih bersih.”