Bramasta terus bermain di sana, hingga kesadarannya kembali saat mendengar dering ponselnya.
Setelah menjawab panggilan itu, Bramasta terlihat menahan emosinya dan bergegas pergi meninggalkan gadis cantik yang sedang telanjang bulat di atas kasur tipis itu seorang diri.
---
Aku di mana?
Ya, aku rasa saat ini aku berada dalam sebuah rumah yang sudah aku tempati selama satu minggu ini.
Terlahir di kampung sebagai orang miskin, hidup susah tidaklah enak. Mencari keberuntungan dengan bekerja di kota juga tidak mudah, mencari ke sana kemari tidak langsung di terima.
Belum lagi harus bayar sewa rumah, uang makan dan transportasi.
Dunia yang sangat keras bagiku, apa yang harus aku lakukan demi bertahan hidup?
***
Namaku Laila, aku memiliki satu saudara kembar namanya Laili. Kami di besarkan oleh ibu di kampung tanpa seorang ayah. Nama ibu kami adalah Mariama. Kami tidak pernah tahu ayah kami seperti apa dan ada di mana? masih hidup atau sudah mati? b******k! Ibuku bertemu dengan lelaki berengsek seperti itu, tidak ada dari kami yang menginginkan hal itu.
Laili kembaranku memilih untuk tetap di kampung menemani ibu, yang sudah terlihat tua dan sakit-sakitan. Mungkin jika wanita di usia ibuku belum terlihat uban dan kulit masih sangat bagus. Tapi tidak dengan ibuku, dia wanita yang memiliki kehidupan keras. Banting tulang demi dirinya dan kedua anaknya.
Dan aku, aku berpikir keras bahwa antara aku dan Laili harus ada yang mencari nafkah di kota. Agar kebutuhan kami bisa tercukupi dengan baik, ibu semakin lama semakin tua dan kami harus bisa membuat ibu kami bahagia dengan meringankan bebannya yang selama ini banting tulang mengerjakan apa pun demi kami berdua.
Hasil perbincangan aku dan Laili akhirnya aku yang akan mencari pekerjaan di kota.
“Laila, aku tidak bisa pergi jauh dari ibu. Lebih baik kamu saja yang ke kota, tapi kamu harus berhati-hati di sana. Banyak orang mengatakan hidup di kota itu sangat buas. Banyak orang-orang jahat, kamu harus hati-hati. Mengerti?”
“Aku mengerti, Laili. Baiklah jika kamu tidak mau, biar aku saja yang mencari peruntungan di kota. Kamu harus menjaga ibu baik-baik, selama aku di kota.”
“Itu pasti, aku akan selalu menjaga ibu dengan baik.”
“Sering, sering menghubungiku.”
“Ya, aku mengerti.”
“Tabunganku ada sedikit, mungkin akan aku gunakan saat di kota sebelum menemukan pekerjaan.”
“Baiklah, aku juga ada sedikit tabungan. Kamu ambil saja Laila, untuk berjaga-jaga di sana kamu akan kehabisan uang.”
“Tidak Laili, buat kamu dan ibu saja di sini.”
“Tabunganku tidak banyak tapi lumayan.”
“Jangan begitu, ambillah!”
Laila berpikir sejenak lalu menghitung uang tabungan Laili.
“Sepertinya masih kurang jika kamu gunakan untuk membeli ponsel. Tapi tidak apa, kamu bisa menabung kembali sampai uangnya cukup.”
“Kenapa?”
“Nanti kamu belikan saja sebuah ponsel genggam di konter depan, untuk mengirim kabar padaku, mengerti?”
“Ya baiklah jika begitu. Aku akan menabung lagi, agar kita bisa terus berkomunikasi.”
Keduanya mengangguk senang.
Itulah hasil keputusan kami, jadi aku akan memantau di kota mencari uang untuk ibu di rumah yang kini terlihat semakin lemah.
“Laila, jaga diri baik-baik selama di sana.”
“Ya, ibu. Laila sudah dewasa, Laila pasti bisa menjaga diri Laila selama di kota.”
“Baguslah. Jika keputusan kalian sudah bulat ibu tidak bisa berbuat apa-apa.”
Uhuk
Uhuk
Laila dan Laili mengusap bahu ibunya pelan dengan lembut.
“Sejujurnya, ibu khawatir dengan keputusan kalian. Ibu takut terjadi sesuatu dengan kalian, ibu lebih senang jika kalian tetap di sini dengan ibu. Di sisa umur ibu ini.”
“Ibu bicara apa? Laila tidak suka ibu bicara hal sedalam itu. “
Hah!
“Baiklah. Hati-hati di kota ya, jaga diri baik-baik. Jaga kehormatan kamu dan keluarga ini.”
“Ya, ibu. Laila mengerti, nanti waktu Laila sudah dapat gaji. Laila akan kiri ke ibu dan Laili, Laila juga akan pulang saat ambil cuti di hari libur. Seperti hari raya.”
“Baiklah, baiklah. Anak-anak ibu sudah dewasa. Ibu sayang kalian apa pun yang terjadi.”
“Terima kasih, ibu.”
Mereka bertiga berpelukan saat mengantar Laila di terminal.
***
Sesampainya di kota, Laila dengan pakaian yang terlihat lusuh dan menenteng sebuah tas sedang berisi beberapa salinannya. Gadis cantik itu tampak bingung dengan luasnya jagat raya di kota itu, bahkan gadis itu terlihat bingung harus ke mana.
Dia tidak memiliki arah yang jelas harus ke mana, gadis cantik itu melangkahkan kakinya terus hingga dia kelelahan.
Gadis cantik itu terduduk di teras tokoh yang tutup itu, dia duduk termenung. Menatap ke arah lalu lalang kendaraan, Ia berpikir apa yang harus dia lakukan.
“Neng, lagi nunggu siapa?”
“Eh, si bapak. Gak lagi nunggu siapa-siapa, Pak.” Gadis itu tersenyum malu-malu.
“Dari mana, Neng?”
“Dari rumah di kampung, Pak.”
“Ohh.. lagi cari pekerjaan?”
“Ya, ada pekerjaan untuk saya, Pak?”
“Ada banyak, Neng.”
“Benarkah itu, Pak?”
Belum sempat menjawab pria paruh baya itu, datang seorang wanita paruh baya dengan tubuh yang gempa.
“Subarjo!” teriak wanita paruh baya itu.
Pria paruh baya itu langsung berlari terbirit-b***t saat mendengar namanya di panggil.
“Nanti saja ya, Neng.”
“Ta-tapi, Pak.”
Pria itu sudah jauh, pupus sudah harapan gadis itu. Padahal sedikit lagi dia seharusnya sudah mendapatkan pekerjaan, dan akan mulai bekerja besok.
Hah!
Laila menghela napas lelah, dan wanita tadi yang mengejar pria paruh baya itu berhenti ketika melihat Laila, gadis cantik itu terlihat murung.
Wanita itu tersenyum penuh arti, lalu mendekati Laila.
“Halo, Nona cantik,” sapanya ramah.
Laila menoleh melihat wajah wanita gempal itu yang terlihat dekat dengan wajahnya, membuat gadis itu terkejut.
Wanita itu terkekeh.
Laila memegang jantungnya yang kini berdetak tak beraturan itu.
“Kamu...”
“Saya Laila, Bu.”
“Oh, Laila? Wajahmu tampak cantik.”
“Terima kasih, Bu.”
“Jangan panggil aku ibu, memangnya aku ibumu? Haha, panggil saja aku tante, tante bahenol.”
“Ya, tante. Tante bah—“
“Bahenol, tante bahenol. Haha,”
“Ya, tante bahenol,” ucap Laila tampak kaku.
“Ah. Sudahlah, aku tahu kamu pasti dari desa.”
“Ya betul sekali, saya dari desa, Tante.”
“Kamu lagi cari pekerjaan?” tanya wanita itu sambil memainkan kipasnya.
“Ya, apa ada untuk saya?” tanya balik Laila yang langsung berdiri semringah.
“Pasti ada banyak, tapi cocok atau tidak dengan kamu.”
“Pasti cocok, pasti cocok, Tante. Saya akan berusaha berikan yang terbaik, akan berusaha keras dan sungguh-sungguh.” Laila tampak senang, penuh harap.
“Tapi, sebelum dapat pekerjaan kamu pasti butuh tempat tinggal, kan?”