Aghhh
Sssstttthh
“Tenanglah dulu, jangan keluar,” ucap seorang pria tampan yang tengah menatap gadis cantik di rumah kontrakan kecil itu.
“Ka-kamu si-siapa?” tanya gadis itu gemetar hebat.
“Aku Bramasta.”
Pria tampan berdiri gagah di hadapan gadis cantik itu, suaranya begitu tegas tak terbantahkan. Rahang wajahnya sangat kokoh dan mata yang menatap tegas lawan bicara itu, benar-benar sosok yang sempurna di mata gadis-gadis umumnya.
“Aku tidak akan berbuat jahat padamu, asal kamu melindungi aku sekarang,” ucapnya lagi, dengan tatapan itu yang dapat membuat para gadis bertekuk lutut di hadapannya.
Gadis itu hanya terdiam terpaku mengenakan handuk yang melilit di tubuhnya, dia menatap ke arah pria itu, gadis cantik itu sangat takut saat ini. Ia melihat seorang pria tampan yang masuk secara tiba-tiba dan tanpa permisi pada sang pemilik rumah, pria tampan itu memegang sebuah pistol. Gadis itu tidak bisa berkata-kata, lidahnya terasa kelu saat ini.
Melihat gadis di depannya yang terdiam dengan wajah yang tampak pucat pasi itu, membuat pria tampan itu tersadar, ia menoleh ke arah barang yang selalu ia genggam dari tadi.
Segera ia menyembunyikan pistolnya, lalu mengangkat kedua tangannya.
“Kamu tenanglah, aku tidak jahat. Aku orang baik yang sedang mengintai orang jahat, kami mendengar ada penyusup,” tuturnya.
Pria tampan nan gagah itu saat ini sedang berusaha membuat gadis cantik di depannya ini percaya padanya.
"Ak-aku tidak, ti-tidak jahat,” ucap gadis itu meneteskan air mata.
Pria tampan itu berusaha menenangkan gadis itu dengan gerakan tubuh.
Sssstttthh
Lalu pria itu mendekati gadis itu, yang mundur perlahan, saat gadis itu rasa sudah mentok tembok dia langsung menunduk menutup kepalanya dengan kedua tangannya.
“Tenanglah, aku mengerti.”
Tak lama terdengar suara berisik-berisik di luar rumah yang membuat pria tampan dan gadis cantik itu terdiam mendengarkan situasi.
“Itu mereka, orang-orang jahat itu.”
Melihat wajah gadis itu tampak ketakutan, pria itu berbisik berniat membuat gadis itu sedikit lebih tenang, atau kalau tidak mereka akan mengetahui persembunyiannya.
“Kamu bisa tenang, atau kita berdua akan mati konyol di tempat ini.”
Pria tampan itu menatap gadis itu yang juga menatapnya. Mata gadis itu melotot ketakutan, napasnya tercekat tak beraturan. Pria tampan itu berulang kali, sangat berusaha keras membuat gadis itu supaya lebih tenang.
Pria tampan itu membawa gadis cantik yang hanya mengenakan handuk di tubuhnya itu ke dalam pelukannya, lalu berjalan ke arah jendela ruang tamu itu, untuk melihat situasi di depan rumah kontrakan itu.
Tidak menyadari apa pun lagi saat ini, meski hanya mengenakan sepotong handuk yang melilit di tubuhnya. Gadis itu hanya ingin selamat dari kematian hari ini, sungguh ia belum mendapat pekerjaan untuk membuat ibunya pensiun menikmati hari tua di rumah mereka.
Pria tampan itu memeluk erat tubuh gadis cantik dengan sepotong handuk itu, mengatur suasana hatinya saat ini, ia hanya tidak mau jika dia harus mati konyol di tangan mafia pasar itu. Ia merasa tidak sebanding dengan tingkatannya sebagai mafia yang di segani oleh mafia sekala bisnis besar itu.
Hanya mafia pasar kecil, pria tampan itu berdecit, dengan tatapan samar yang sulit di artikan di balik pintu rumah kontrakan itu.
Gadis cantik itu yang tersadar, langsung menghempaskan tangan kekar pria itu, ia sedikit menjauh menatap pria itu yang juga terkejut, membuat mereka saling tatap.
Merasa suasana sudah aman, pria itu melihat situasi di luar melalui celah gorden jendela rumah itu. Dia menghela napas lega.
“Anda siapa Tuan, sangat lancang. Masuk ke dalam rumah orang tanpa permisi.”
“Maaf sudah membuatmu terkejut,” ucap Bramasta.
“Anda sudah lancang sekali, Tuan. Tidak bisa hanya mengucapkan kata maaf.”
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Anda harus di adili di rumah ketua Rt dan Rw di sini.”
“Jangan bodoh!” Tegas Bramasta.
“Apanya yang bodoh. Anda lancang sekali, lihat tampilan diriku saat ini, bagaimana jika tadi aku tidak mengenakan apa pun.”
Bramasta, pria tampan itu mendekat dan membuat gadis cantik itu terpojok. Gadis cantik itu terpaku di tempat, membuatnya sulit bergerak.
“Masih mau bicara? Atau lapor pada ketua Rt?” tanya Bramasta.
Gadis cantik dengan tubuh yang tampak kaku itu menggeleng pelan.
“Kamu cantik,” goda Bramasta menyentuh wajah Gadis itu.
“Kamu datang dari desa?”
Gadis itu terus mengangguk.
“Kamu pasti ke sini untuk mencari pekerjaan?”
Gadis itu terus mengangguk cepat.
“Apa kamu mau aku sentuh?”
Gadis itu terus menggumengangguk.
Pria itu terkekeh melihat ekspresi wajah panik Gadis cantik itu justru membuatnya tertawa lebar.
“Benarkah kau inginku sentuh? Ayo, aku sudah tidak tahan ingin menikmati tubuhmu ini,” tuturnya menarik pergerakan tangan Gadis itu, yang langsung tersadar lalu menggeleng cepat.
Pria itu terkekeh, melihat wajah Gadis itu semakin panik.
Pria itu menjatuhkan tubuh gadis cantik itu di atas kasur tipis dalam kamar itu.
Buah
Aghhh
Bramasta ingin bermain-main sebentar dengan Gadis cantik di hadapannya ini, sebelum dia pergi dari rumah kecil itu.
“Kamu sangat cantik,” ucap Bramasta.
Gadis itu kesulitan mengatur napas, lidahnya benar-benar kelu saat ini. Dia terus menggelengkan kepalanya berusaha menolak setiap sentuhan Bramasta.
“Ja-jangan, ku-kumoh-mohon,” pinta Gadis cantik itu lirih.
Kecupan hangat bibir Bramasta mendarat bertubi-tubi di wajah dan tubuh gadis cantik itu.
“Tidak, ja-jangan, kumohon,” suara kecil gadis itu tidak terdengar oleh telinga Bramasta yang sudah di selimuti oleh hasrat itu.
“Tenanglah, tidak akan sakit.”
Ucapan pria tampan itu sontak saja membuat gadis cantik itu terdiam, membatu.
Bramasta terus menjelajahi tubuh gadis cantik itu, tidak terlihat tanda-tanda ia akan menghentikan kegiatannya itu.
Gadis itu menggeliat saat Bramasta menyentuh bagian sensitif gadis itu.
Bramasta terkekeh, dia memang ahli membuat wanita di bawah kendalinya mendesis hebat, pemanasan yang di lakukan oleh Bramasta itu, benar-benar membuat gadis cantik itu hampir lupa diri.
“Bagaimana, kau harus mengakui kehebatan ku saat dalam kendali ku.”
Gadis itu seketika membuka matanya, ternyata saat ini tubuhnya benar-bena telanjang bulat tanpa balasan apa pun lagi, yang tadinya terdapat sepotong handuk kini ia sudah tak tahu, di mana pria itu membuang handuk yang ia kenakan dari tadi.
“Di mana handukku, Tuan?” tanyanya pada Bramasta.
Bramasta bukan menyahut justru kembali menjelajahi leher jenjang gadis itu yang kembali memejamkan matanya, gadis itu benar-benar hanyut dalam kendali Bramasta.
Bramasta kini bermain-main di gunung kembar milik gadis cantik itu, gunung itu terlihat menjulang menantang, Bramasta terkekeh menatap gunung kembar nan cantik tiada dua itu.
Sungguh dari banyaknya gadis cantik yang pernah Bramasta sentuh, yang ini sangat berbeda dari pada biasanya, yang terlihat besar namun sudah tambahan tidak ada yang menarik baginya, akan tetapi yang ini benar-benar nikmat saat di sentuh, dari bentuknya pun bisa membuat Bramasta akan hilang akal warasnya.