Dalam ruangan itu hanya terdapat Laila dan Mila yang tengah mengganti pakaian yang akan mereka kenakan, tak lama masuklah seorang yang menghampiri mereka, orang tersebut sempat terkejut ketika melihat wajah Laila yang sangat cantik natural tanpa make up itu.
“Hei,”
“Woy, Incess ...”
“Barang baru?”
“Sembarangan lo,” sahut Mila.
“Oh, just maid?!” dengan nada mengejek khas miliknya, sambil menatap Laila dengan intens.
“Office girl, Incess.”
“Sama saja, Cin.”
“Basing lo deh.”
Pria setengah matang itu berlalu dengan ekspresi wajah yang tidak enak dilihat seolah dia mengejek Laila yang hanya sebagai office girl di tempat itu.
Laila tidak ambil pusing dia mulai merapikan ruangan itu agar terlihat nyaman di pandang mata, saat Laila bersiap mengambil alat yang harus dia gunakan untuk bersih-bersih di ruangan itu,
Tak lama pria berwujud wanita itu kembali dengan setengah berlari kecil menghampiri Laila dan Mila.
“Kenapa lo?”
“Mila, pelanggan lo yang biasanya udah nunggu tuh,” ucapnya terengah-engah sambil mengatur napas.
“Oh, ya sebentar,” sahutnya, “Laila ...”
“Ya mbak?”
“Gua mulai kerja ya,” pamitnya pada Laila.
“Ya mbak, Laila juga akan mulai kerja kok ini,” ucapnya sembari menunjukkan alat-alat kebersihan yang akan ia gunakan dan Mila mengangkat jempol tangannya di udara kemudian berlalu meninggalkan Laila dan Bella di ruangan itu, saat Laila akan melangkah pergi, langkahnya di hentikan oleh Bella.
“Eh, mau ke mana lo?”
“Kerja mbak Bella,” sahutnya.
“Lo di panggil pak manager,” ucapnya.
“Di mana pak manager kita mbak Bella, di ruangnya ya?”
“Ikutin gue lu!” titah wanita jadi-jadian itu terlihat sinis pada Laila yang langsung mengangguk dan siap mengikuti dari belakang.
“Lu tuh anak baru, kalau kerja di sini harus cekatan yang lemah lembut, nanti lu gak bisa bela diri kalau ada pelanggan yang melakukan pelecehan sama lu,” oceh wanita jadia-jadian itu pada Laila.
“Iya mbak, Laila bisa bela diri kok, di kampung Laila belajar bela diri loh,” sahutnya polos.
Wanita jadi-jadian yang di panggil sebagai Incess itu menatap ke arah Laila dengan tatapan yang sulit di artikan, “Oh jadi nama lu Laila?” tanyanya pada Laila yang langsung di balas dengan anggukan “Lu itu polos atau pura-pura polos sih, jadi versi diri lu yang sulit untuk di dapatkan Laila!” lanjutnya.
Wanita jadi-jadian itu memiliki nama samaran Incess Bella, yang sebenarnya adalah Sagarta saudara tiri dari Bramasta dia melakukan penyamaran di tempat itu karena memiliki misi pribadi, berkaitan dengan bisnisnya.
“Bella ...”
Manik mata seseorang yang namanya di panggil itu langsung menoleh cepat ke arah sumber suara, dan berlarian kecil ke sumber suara itu yang diikuti oleh Laila.
“Hallo bos,” ucapnya mencium tangan seorang pria gempal dekat bar itu.
“Bagaimana?” bisik pria itu bertanya dengan ekspresi mengisyaratkan sesuatu.
“Nanti kita bertemu di tempat biasa,” balasnya.
Pria gempal itu mengangkat tangan kanannya di udara, sebagai isyarat “Okay” dan Bella hanya tersenyum dengan ekspresi seolah menggoda pria itu.
Manik mata Bella mengikuti arah kaki pria itu yang memasuki sebuah ruangan VVIP di tempat itu, dengan berjalan Incess Bella seolah lupa dengan orang yang dia bawa, Laila. Kini ia tersadar saat Laila membenturkan tubuhnya di punggung belakang Incess Bella, tepat saat ia menghentikan langkahnya di depan pintu VVIP itu, Bella langsung berbalik menoleh ke arah Laila.
“Ala mak!” pekiknya dengan nada manja, “Lu ini, kenapa ikutin gue terus?” tanyanya pada Laila spontan.
“Tadi katanya mbak Incess suruh ikutin mbak, jadi ya saya ikutin mbaknya.”
“Haduh pusing deh gue,” ucapnya seraya menopang jidadnya itu.
Laila hanya terdiam sambil melirik tidak tentu arah pandangannya menyapu seisi ruangan itu.
“Ayo ayo ikut gue, mana manager genit itu ya?!” Rancunya dan melirik seluruh ruangan mencari manager itu berada.
“Mbak ...”
“Apa?” ketus Incess Bella sambil menoleh ke arah Laila, “Apa sih?” desaknya.
“Mbak cari manager kita ‘kan?”
“Iya, ‘lah pake tanya lagi,” ucapnya geram manja ke arah Laila.
“Lu asal dari mana sih?”
“Dari kampung,” sahut Laila.
Saat Incess Bella akan membuka mulutnya kembali tiba-tiba berhenti saat tubuhnya menabrak tubuh seseorang, saat Incess Bella akan membuka mulut untuk mengomeli sosok yang menabraknya itu Incess Bella justru mengembangkan senyumnya lebar-lebar yang di perhatikan dengan intens oleh Laila.
Tangan kekar yang di hiasi kuku cantik lentik itu menarik tangan Laila dan memberikannya pada pak manager genit itu, “Ini pak, anak barunya.”
“Kerja bagus ya, terima kasih Incess Bella,” ucapnya dengan wajah menggoda pada Bella.
“Sama-sama pak bos,” sahutnya dengan tersenyum geli lalu bersikap seolah-olah ia tengah malu-malu, lalu berlarian kecil kembali ke arah ruangan VVIP, “Bos, gue harus melayani tamu di ruang VVIP.”
Manager mereka itu hanya mengangkat jempol kanannya untuk Bella, kemudian berlalu dengan menggandeng tangan Laila masuk ke ruangannya.
“Laila, kamu cantik,” ucapnya sambil menatap ke arah Laila.
“Terima kasih, pak bos kata orang-orang juga begitu kalau ketemu Laila, pasti bilang seperti itu, Laila cantik, sekali lagi terima kasih pak bos,” ucapnya polos.
Laila tidak tahu di balik pujian itu ada udang di balik bakwan, ups! Ada udang di balik batu.
“Maksud gua apa gak sayang tampang lo bisa di jual, gini deh Maksud gua, lu butuh duit banyak ‘kan?” Tanya manager itu menanti jawaban Laila.
“Jelas pak, saya kerja biar dapat duit dapat gaji.”
“Bagus, lo bisa temenin tamu minum,” ucapnya tengah tatap-tatapan dengan Laila, “Gini deh, lo gak usah bersih-bersih lo cukup temenin pelanggan kita minum saja, lo tuangkan air minum kegelas mereka, udah itu saja cukup.”
“Itu saja, pak bos?”
“Iya, gimana?”
“Cuman jadi penuang minuman saja?”
“Ya,” jawab manager genit itu.
“Bukan apa Laila, gua kasian sama lo, di sini yang biasa bersih-bersih laki-laki,” ucapnya.
“Ya sudah bos, saya mau jadi penuang minuman saja.”
“Bagus, Bagus, ayo ikut gua.”
Laila mengangguk dan langsung berjalan mengikuti manager itu melangkah pergi menuju salah satu ruangan VVIP.
Dari sebuah ruangan keluar seorang pria muda yang langsung di hampir oleh manager itu.
“Mana?” tanya pria muda itu tanpa basa basi, manager genit itu bermain mata seolah mengisyaratkan pandangan pada Laila, pria muda itu menatap Laila dengan tatapan seperti hewan buas yang siap menerkam mangsanya, tatapan pria itu dari atas ke bawah lalu ke bawah ke atas begitu terus seolah tengah menilai, sedangkan Laila hanya dia menunduk saja.
“Gimana?”