Dari sebuah ruangan keluar seorang pria muda yang langsung di hampir oleh manager itu.
“Mana?” tanya pria muda itu tanpa basa basi, manager genit itu bermain mata seolah mengisyaratkan pandangan pada Laila, pria muda itu menatap Laila dengan tatapan seperti hewan buas yang siap menerkam mangsanya, tatapan pria itu dari atas ke bawah lalu ke bawah ke atas begitu terus seolah tengah menilai, sedangkan Laila hanya dia menunduk saja.
“Gimana?”
“Barang bagus.”
“Kapan gua pernah bohong masalah beginian,” ucap manager itu dengan bangga, “Laila, lo ikut dia, mulai layani orang-orang yang ada di dalam ruangan ini dengan baik ya jangan mencoreng tempat ini, jangan sampai ada komplain dari pelanggan, mengerti?”
“Laila mengerti, Bos.”
Pria muda itu hanya memperhatikan Laila dan manager genit itu saja kemudian mereka saling mengangguk dan pria muda itu membuka pintu ruangan.
“Lo masuk ikut dia!” titah manager itu.
Laila mengekori pria muda itu masuk ruangan VVIP di tempat itu, ikut berbaur dengan orang-orang yang ada di dalam ruangan.
Laila sempat terdiam tatapannya menyapu seluruh sudut ruangan, hingga mata semua orang yang ada dalam ruangan itu tertuju padanya.
“Halo cantik, aku baru melihatmu di sini, apakah kau orang baru?” tanya seorang pria paruh baya setengah mabuk itu berjalan mendekati Laila.
Tangan pria paruh baya itu mengayun akan menyentuh Laila yang refleks menghindar, hingga pria itu sedikit menunjukkan sikap terkejut.
“Ada apa cantik, kau tidak perlu lagi terlihat jual mahal,” bisiknya di telinga Laila yang membuatnya melangkah mundur, terlihat wajah ketakutan.
“Hei, hei, hei!” teriak seorang pria muda yang beranjak berdiri dari kursi sofa dalam ruangan itu. “Pak tua, berhenti membual, kau menakutinya,” ucapnya mendekati Laila dan pria paruh baya itu. “Hai, cantik kau cantik sekali meskipun tanpa make up.” Tatapan pria muda itu tertuju pada wajah Laila dan menatapnya lekat.
“Permisi, kalian berdua bisa kembali ke tempat duduk!” titah pria muda yang menjemput Laila untuk masuk ruangan itu.
“Ah, ya benar sekali, ayo mendekat cantik, tuangkan aku minuman itu, hah aku tidak sabar, nikmat sekali sepertinya ya.” Pria tua itu kembali ke sofa.
“Mari lanjutkan musik!” teriak pria muda yang tengah mabuk itu.
Mereka semua di sana merupakan kolega bisnis Bramasta yang sedari tadi hanya terdiam menatap Laila yang terus menunduk itu.
“Gadis, siapa namamu?” tanya seorang pria. “Maukah kau menjadi istriku saja, aku akan menjamin kebahagiaan mu, percayalah asal kau juga bisa membuatku puas,” teriak seseorang pria di sana.
Bramasta terlihat sedikit risih dengan keadaan dalam ruangan itu sudah tidak kondusif lagi. Matanya terus memperhatikan orang-orang yang ada dalam ruangan itu, tampaknya mereka semua terlihat mabuk parah.
Sebenarnya mereka semua sudah minum dari tadi dan yang melayani mereka sebelumnya adalah Mila yang kini izin keluar hingga manager memanggil Laila untuk menggantikannya, Laila terlihat sedikit bingung dengan apa yang harus ia lakukan ia hanya berdiri di hadapan mereka lalu menuangkan minuman pada setiap orang yang memiliki gelas kosong di sana, ia berdiri dengan menggenggam botol minuman di sana, tampak hanya seperti pelayan resto di sana.
‘Laila sudah belajar cara menjadi pelayan profesional dari cerita ibu dulu, untung saja ibu menceritakan pengalamannya dulu saat menjadi pelayan restoran profesional,’ batin Laila.
“Cantik, mengapa kau hanya berdiri?”
“Dia belum menjawab pertanyaan ku sebelumnya,” ucap seseorang yang ingin menjadikan Laila istri sirihnya.
“Aku rasa kalian semua sudah mabuk!” seru Bramasta yang dingin membuat seisi ruangan itu tertuju menatapnya. “Mari kita lanjutkan lain waktu, kalian bersenang-senanglah di sini.” Bramasta berdiri dan bersiap mengambil jasnya di sofa lalu siap melangkah pergi.
“Bramasta, pembicaraan kita belum selesai,” ucap seorang pria di sana, David.
“David, sepertinya akan lebih baik jika kita lanjutkan lain waktu saja. Aku pikir, kalian tidak akan fokus jika kita harus membahas bisnis saat ini.”
“Baiklah, jika begitu mari kita bersenang-senang saja malam ini, tinggallah dulu bersama kami!” titah David.
Bramasta hanya terdiam dan tampak berpikir lalu tatapannya tertuju pada Laila yang terus di goda lelaki hidung belang di ruangan itu, Bramasta memutuskan untuk duduk kembali.
“Gadis duduklah di sampingku, kau senang sekali membuatku teriak.”
Masih terdengar bising rayuan dalam ruangan itu hingga masing-masing asisten orang-orang dalam ruangan itu membawa bos mereka yang telah mabuk tak berdaya keluar dari ruangan itu, menyisakan David dan Bramasta beserta asisten mereka masing-masing. Ternyata pria muda yang membawa Laila tadi adalah asisten dari seorang David, yang akan melakukan kerja sama bisnis dengan Bramasta dan beberapa orang yang tadi ada dalam ruangan itu.
“Proyek kita lanjutkan lagi lain waktu,” ucap Bramasta dan berlalu di susul asistennya.
Tinggallah David dan asistennya juga Laila dalam ruangan itu. Sepertinya David melupakan keberadaan Laila yang terus berdiri diam menatap mereka.
“Susun kembali rencana selanjutnya,” ucapnya dan beranjak meninggalkan tempat itu berikut asistennya.
Laila keluar dari ruangan itu dengan lega pasalnya tugas Laila selesai untuk menuangkan minuman pada orang-orang yang ada dalam ruangan itu, manager genit itu memanggil Laila untuk bicara dalam ruangannya.
Laila mengikuti managernya dan kini ia sudah berada dalam ruangan manager genit itu. Suara bising musik di luar tidak terdengar lagi, keadaan hening hingga manager itu duduk di kursi kebanggaannya dan memulai percakapan.
“Bagaimana pekerjaan mu tadi, Laila?” tanya managernya, Dion.
“Lancar, pak Dion.”
“Bagus, bagus,” ucapnya. “Lancar seperti apa?” lanjutnya penasaran ingin mendengar cerita Laila.
Lalu Laila menceritakan semua keadaan yang terjadi di dalam ruangan tadi, hingga terdengar suara tawa yang menggelegar di tempat itu, Laila hanya terdiam mendengar suara tawa dari sang manager.
“Benarkah begitu caramu melayani orang-orang besar di dalam sana?” tanya meneger itu tampak tak dengan wajah berpikir dan sepertinya memang tidak habis pikir dengan pelayanan Laila yang seperti itu, dia memang terlihat kaku dan tidak memiliki wajah w*************a, hingga manajer itu mendapat telefon dari seseorang dan mengangkatnya, lalu tersenyum penuh arti pada Laila, gadis itu hanya terdiam polos dan pamit akan bersiap melakukan pekerjaannya sebagai bersih-bersih di tempat itu.