Setelah kepala pelayan itu pergi dari ruangan itu, kini Sarah meneguk air putih di gelas dengan rakus dan kemudian pergi meninggalkan meja yang penuh makanan itu dengan rasa kesal.
Mika terdiam dengan makanan di hadapannya itu, Mika tersenyum kecut sambil meminum segelas air putih itu dengan rasa yang tak kalah kesal. Ia bingung harus menghadapi Sarah jika mereka akan tinggal di tempat yang sama, ia khawatir dengan tumbuh kembang anaknya, akan tetapi Sarah selalu saja mengganggu dirinya dan juga anaknya.
Mika hanyut dalam lamunan panjangnya memikirkan Sarah, Bramasta dan juga anaknya. Sepertinya selama Mika ada di sekitar Bramasta Sarah akan terus ada di sekeliling mereka. Ini juga sulit baginya untuk bergerak mengambil hati Bramasta yang sangat dingin itu.
kini Mika kembali membayangkan saat Bramasta bertemu dengan Baratanora pertama kali, sangat hangat dan terlihat bahwa Bramasta sangat menyayangi anak itu, membuat Mika tersenyum tanpa dia sadari kepala pelayan itu mengamatinya dari kejauhan. Lalu merogoh ponsel genggam dalam saku dan berlalu meninggalkan tempat itu dengan Mika yang kini beranjak menuju kamar anaknya.
***
“Nduk, wes to,”
“Ibu, aku ini salah satu putri ibu, ibu sedang sakit, Laila jauh di kota, kalau bukan aku siapa lagi yang akan merawat ibu, ibu jangan membuat Laili jadi serba salah, ini tanggung jawabku, aku ndak mau jika nanti Laila tahu kabar ibu yang sakit lalu di sini Laili yang kena juga, Laili ndak mau itu,” ucap Laili dengan ekspresi merajuk.
“Yo wes to, ra usah nesu anak ibu sing wayu,” bujuk ibu Mariama sambil tertawa kecil ketika melihat putrinya itu merajuk.
Laili dengan telaten merawat ibunya yang sedang sakit, keluarga semata wayang yang Laili miliki di kampung itu setelah Laila pergi ke kota. Kini ibu mereka saat ini juga sedang sakit.
“Bu, ibu tidur ya, Laili akan beberes rumah dan mencicu baju kita di belakang dulu.”
“Yo, nduk ...ibu minta maaf yo, karena sudah merepotkan kalian, membuat hidup kalian jadi susah.”
“Wes ibu jangan berpikir yang enggak-enggak ya.”
“Makasih, nduk,” ucap Mariama dengan tersenyum haru menatap putri cantiknya itu.
‘Seandainya kalian tahu, nduk. Kebenaran yang selama ini ibu simpan, apakah kalian akan memaafkan ibu atau justru akan membenci ibu, karena telah membuat hidup kalian menjadi menderita seperti ini.’ Batin wanita paruh bayah yang terbaring lemah di atas ranjang tua itu, menatap punggung rapuh anak gadisnya itu hingga menitikkan air mata.
***
“Laila ...” panggil seseorang.
Gadis yang merasa namanya di sebut itu menoleh ke arah sumber suara, “Ya,” sahutnya hingga mengembangkan senyumnya.
Wanita berambut pirang itu menyamakan langkah mereka dengan rawut wajah yang sumringah, “Bagaimana?”
“Mbak, tanya soal pekerjaan, Laila sudah dapat panggilan atau belum?”
Wanita berambut pirang itu mengambangkan senyumnya tanpa menjawab, Laila juga tak kalah mengembangkan senyum manis miliknya itu, yang mempu membuat orang terpanah menatapnya.
“Jika mbak tanya soal pekerjaan, Laila masih belum dapat pekerjaan mbak. Mungkin Laila akan mencari di pekerjaan di toko sementara, untuk bertahan hidup.”
“Laila, lo mau tidak nanti malam ikut gua?”
“Ke mana?”
“Bekerja di club hiburan sama gua, tapi lo cukup hanya sebagai office girl,” ucap wanita itu. “Gajinya lumayan loh, untuk biaya hidup lo di sini, kalau lo bisa hemat, lo juga bisa nabung sedikit dari gaji lo bisa sisihkan.” Lanjutnya.
“Wah, beneran mbak?” tanya Laila antusias, yang langsung di jawab dengan anggukan kepala. “Seneng banget mbak, Laila bisa bekerja,” lanjutnya.
“Mudah-mudahan lo bisa betah untuk bekerja sementara di sana, dan lo hanya cukup membersihkan tempat itu saja, jika ada tamu yang minta di layani untuk menemani mereka minum lo berhak menolak Laila lo mengertikan, dan jangan jauh dari pandangan gua, lo harus pintar menjaga diri.”
“Siap mbak, dulu Laila juara tekwondo dan karate kok, hehee...”
“Bagus itu, tapi jika tidak terlalu aneh-aneh mereka jangan langsung lo hajar ya, takutnya mereka melaporkan lo yang enggak-enggak, lo bisa di pecat.”
“Oke mbak,”
“Ya sudah siap-siap, nanti pukul 7 malam kita berangkat, karena lo sebagai office girl jadi harus berangkat lebih awal, sama sekalian gua mau ngenalin lo ke manager kita.”
---
“Bos ...”
“Bagaimana, Mir?”
“Ini gua bawa, gimana?”
“Cantik,”
“Gila lo,” serunya, “Jangan macam-macam ya!” ancamnya.
“Santai, kalau di gak mau gak bisa maksa dong,”
“Bagus.”
“Laila, sini ...” panggil Mira, gadis itu mendekat.
“Duduk!” Titahnya.
“Lo Laila?” tanya manager itu.
“Ya, betul pak.”
“Jangan panggil gua dengan sebutan itu, gua belum tua, kita seumuran,”
“Najong amat lo,” sahut Mira.
Hingga terdengar gelegar tawa dari pria itu.
“Panggil gua dengan sebutan Tuan atau bisa juga Bos,”
“Siap, tuan.”
“Bagus, bagus.”
“Laila, lo bisa mulai bekerja sekarang, temen-temen lo banyak di sini, tapi mereka ada sampingan juga, dengan garis miring bukan hanya sebagai office girl saja tapi juga bisa nanonanu, awokawok ...”
“Bos, masih polos, tolong jangan kau cemari dengan candaan lo yang gak lucu itu.”
“Ya sudah terserahlah, sana kasih tahu lokernya di sana sudah ada seragamnya.”
“Oke siap bos, gitu dong dari tadi, kelamaan basa basinya.”
Kedua orang perempuan itu beranjak pergi meninggalkan ruangan yang di tempati oleh manager genit itu.
“Mbak Mira, di sini gedungnya lumayan besar dan berisik ya,”
“Ya jelas berisik, namanya saja tempat hiburan, tempat orang-orang tertentu mencari kesenangan dengan imbalan sepadan.”
“Laila, ngerti sedikit mbak. Dulu dari cerita si mbok,”
“Apa yang lo pahami, Laila?” Tanya Mira, sambil terus berjalan hingga mereka tiba di sebuah ruangan yang terdapat banyak dinding loker di tempat itu, Mira mengayunkan tangannya yang menggenggam sebuah kunci untuk membuka sebuah loker.
“Kata si ibu Laila, sebenarnya di sini tempat kotor,” ucapan Laila membuat Mira menghentikan aktifitasnya, “Tempat di mana si ibu ketemu sama bapak Laila,” Lanjutnya kemudian.
“Ini loker lo dan ini kuncinya, seragam lo di pakai saat kerja, dan lo bisa lepas ketika mau pulang, simpan lagi di sini.”
“Siap, mbak.”
“Terus setelah ibu sama bapak lo ketemu jadilah lo?”
“No, ibu bilang, dulu itu ibu sama bapak menikah, tetapi bapak pergi meninggalkan Laila dan Laili pada ibu, lalu ibu merawat Laila dan Laili seorang diri,”
“Maksudmu, gimana?”
Boleh dong di komen, biar lebih semangat ;)