“Sarah..”
Ya perempuan itu bernama Sarah yang merupakan kekasih dari Bramasta sejak sekolah tingkat SMA juga cinta pertama dari Bramasta. Bramasta sangat mencintai Sarah dan Bramasta sangat bucin pada Sarah, akan tetapi itu dulu sebelum Bramasta tahu siapa Sarah. Ya, Sarah yang Bramasta kenal adalah gadi polos dan baik, ia terpesona akan sifat Sarah yang ia tahu pada kenyataan itu berbanding terbalik dengan kenyataan.
Sarah gadis bermulut manis dan suka selingkuh dengan pria yang telah di incarnya. Sarah gadis cantik dan lembut juga terlihat sangat polos di mata Bramasta. Namun pada akhirnya Bramasta tahu kebenaran tentang perempuan itu, yang membuat Bramasta patah hati, perasaannya terluka di tipu oleh kenyataan.
Prustasi akan Sarah, akan hal itu juga yang membuat Bramasta berubah menjadi pria yang sekarang, jika dulu ia marah dengan kedua orang tuanya kini ia menikmati apa yang ia lakukan untuk kesenangan semata, tentu saja, bagaimana tidak, Bramasta pada dasarnya memang sudah kaya, memiliki segala yang ia mau.
Sarah berjalan lenggak lenggok di depan Baratanora dan ibunya_Mika. Sarah membuka sedikit kacamatanya dan menatap Mika dan Baratanora bergantian dan kemudian berlalu begitu saja sambil meneriaki seorang maid muda di Mansion itu, hingga Sarah menaiki anak tangga menuju lantai 2 yang di ikuti oleh maid itu.
Tentu saja di lihat dari gerak geriknya maid itu merupakan orang dari Sarah yang ada di Mansion itu, bisa di bilang maid itu merupakan salah satu mata-mata dari Sarah. Melihat hal itu, Mika membawa Baratanora ke dalam dekapannya dan mengelus sayang rambut Baratanora, dengan pandangan mengiringi langkah Sarah yang kini menghilang dari pandangan ibu dan anak itu.
“Mami, kenapa tante jahat ada di sini?”
“Nanti mami akan bicara dengan ayah, oke tampan,” ucap Mika menanti persetujuan anaknya itu.
“Oke, mami.”
---
Di sisi lain, Sarah tengah terbaring anggun di atas ranjang king size yang berada di kamar utama mansion itu. Sarah tengah asik memainkan jemarinya yang di hiasi oleh warna dan pernak pernik itu, Sarah tengah menyuruh maid-nya untuk merapihkan kukunya, maid sarah di mansion itu bukan sembarang maid dia merupakan asisten pribadi dari Sarah, tentu saja maid itu serba bisa dan terlihat sangat dekat dengan Sarah, akan tetapi dia hanya salah satu dari orang kepercayaan Sarah. Mereka tampak sedang berbincang-bincang dalam kamar itu.
“Apa saja yang terjadi di rumah ini saat aku tidak di sini?” tanyanya pada seorang maid itu.
“Sejauh ini, belum terjadi apapun dengan mereka, tidak ada yang spesial di antara mereka dan tidak ada waktu berdua antara Bramasta dan Mika, mereka hanya akan bersama jika ada Baratanora, anak laki-laki itu.”
“Sudah lama, aku merindukannya,” gumam Sarah seraya memejamkan matanya mengarah lelangitan, seolah ia tengah menikmati waktu dan tempat itu. “Pergilah! Aku ingin tidur di sini.” Titah Sarah seraya mengubah posisinya dengan memeluk guling yang ada di sana. “Tutup pintu itu!” suara Sarah kembali terdengar yang membuat maid itu langsung menutup pintu itu.
---
“Mami..”
“Ya sayang..”
“Mami sayang Bara?”
“Pertanyaan macam apa itu? tidak perlu di pertanyakan sayang, setiap orang tua pasti menyayangi anaknya, seperti mami yang sayang apa Bara.”
Anak berusia 4 tahun itu terdiam menatap ibunya yang kini sedang tersenyum di hadapannya. Tangannya tergerak menggaruk kulit tubuh di atas alisnya seraya berpikir.
“Lalu mami, apakah ayah juga sayang padaku?”
“Tentu saja.” Jawab Mika cepat.
“Lalu, mengapa ayah selalu sulit ada waktu untuk kita, untuk Bara dan untuk mami, kenapa mami?” pertanyaan anaknya itu sontak saja membuat Mika terdiam sejenak, hingga terdengar suara galak tawa dari belakang mereka, spontan membuat Mika dan Bara menoleh ke arah sumber suara.
Hahaha
Mika dan Bara menoleh menatap Sarah yang sudah ada di sana, Sarah tepat berada di anak tangga paling bawa sambil memakan sebuah apel merah yang ada di tangannya, ia berlalu menghampiri Mika dan Bara yang langsung berlari dalam pelukan ibunya.
“Kenapa?” gertak Sarah. Ia menundukkan kepalanya menatap anak kecil itu yang langsung menyembunyikan wajahnya.
“Kenapa, hah?! Takut?” ucap Sarah mulai meninggikan suaranya, yang membuat Bara semakin mengencangkan pelukannya.
“Sarah cukup,” ucap Mika.
Sarah berdecih, ia meluruskan tubuhnya dan berjalan menatap sembarang arah.
“Aku muak dengan kalian berdua,”
“Sarah cukup!” Mika mulai meninggikan suaranya agar Sarah tidak melanjutkan ucapannya. “Kita bicara, tunggu aku di ruang makan.” Mika berlalu dan membawa anaknya ke dalam sebuah kamar yang mereka tinggali selama di mansion itu.
Sarah berdesis, menatap kepergian ibu dan anak itu. setelah Mika membawa anaknya ke dalam kamar, Mika kembali keluar berniat akan menemui Sarah, yang memang sudah duduk menunggu Mika di sana. Sejenak mereka saling bertemu tatap saat Mika di ambang pintu, hingga Mika kembali berjalan dan duduk di salah satu bangku di sana.
Dengan hawa dingin dan membunuh dari keduanya, tak lama mereka kembali bersikap biasa ketika melihat kehadiran kepala pelayan di ruangan itu, sambil menyantap makan malam yang sudah tersaji di sana. Sampai akhirnya Mika membuka suara.
“Sarah, tolong jaga sikap dan ucapan mu saat ada Bara, aku tidak ingin mental anakku terganggu karena ulahmu.”
“Tidak peduli berapa kali kau bicara itu, aku akan tetap seperti ini,” ucapnya pelan hampir berbisik dan terlihat acuh. Sambil menatap punggung kepala pelayan yang berlalu itu.
“Sarah..”
“Apa?” teriak Sarah.
“Kau hanya orang lain di sini, ingat posisimu!”
“Ini semua karena kau yang murahan,”
“Tutup mulut busukmu itu!”
“Lancang sekali kau! Pelakor!” teriak Sarah yang langsung berdiri menggebrak meja makan itu, untung saja meja besar nan mewah itu sangat mahal jadi saat di gebrak pun tidak ada pengaruh hanya tangan Sarah saja yang kebas.
“Pelakor? Kau yang pelakor, di sini aku yang berstatus sebagai istri Bramasta.”
“Kau..” langkah Sarah di hentikan oleh seorang wanita paruh baya di mansion itu, dia adalah kepala pelayan di mansion itu.
“Hentikan! Atau aku akan melaporkan kalian berdua dengan tuan muda,” ucap kepala pelayan itu-Nana.
Sarah tidak terima begitu saja dan memberontak, dia terlihat kesal rasanya dia ingin sekali menarik rambut Mika dan mencakar kulit wanita itu, akan tetapi amarahnya kini tertahankan.
“Silahkan lanjutkan makan malam kalian.”