Di atas kursi malas itu ayah Bramasta tengah menikmati cuaca di tempat itu dengan kacamata yang melindungi bola matanya dari sinar uv. Bramasta menghampiri ayahnya dan duduk di kursi malas tepat di samping ayahnya itu.
“Ayah marah?”
Tidak ada jawaban dari pertanyaan itu, mereka saling terdiam hanya terdengar suara ombak dan desir angin menerpa tubuh mereka. Bramasta menoleh ke arah ayahnya yang masih menatap ke arah laut, pria paruh baya itu menoleh yang membuat mereka saling adu tatap.
“Ayah tidak marah, Bramasta. Ayah hanya kecewa dengan jalan yang kau ambil,” ucap tuan Sagarta lalu mengalihkan pandangannya.
“Maaf ayah, telah membuatmu kecewa dengan jalan yang sudah ku ambil,” ucap Bramasta pelan.
“Sejak dirimu kecil, dan melihatmu yang sulit berinteraksi dengan orang lain, ayah pikir kau akan menjadi anak yang tidak mengikuti jejak buruk dariku, kau akan hidup sebagai orang biasa sederhana, persis orang-orang pada umumnya, ternyata aku salah.”
“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, ayah.”
Kedua pria itu terdiam dan hanyut dalam pikiran masing-masing beberapa saat, hingga terdengar dering ponsel yang membuyarkan lamunan mereka.
Tuan Sagarta itu menjauh dari anaknya dan mengangkat ponselnya yang sedari tadi berbunyi.
Setelah selesai menjawab panggilan itu tuan Sagarta berlalu begitu saja meninggalkan putranya duduk sendiri di tepi pantai itu.
Bramasta tersenyum miris menatap kepergian ayahnya.
“Selalu saja, melupakan dan meninggalkan.” Keluh Bramasta menatap sendu hamparan air laut di tempat itu.
Di tengah lamunan Bramasta, Malo menghampiri pria tampan itu dan berdiri tepat di belakangnya.
“Tuan muda, anda pasti lapar saat itu tuan besar menunggu anda di ruang makan.” Malo masih terus berdiri di belakang Bramasta tidak ada dalam benak Malo untuk beranjak dari tempat itu sebelum Bramasta meninggalkan tempat itu.
Hingga Bramasta menyudahi lamunannya dan melangkah masuk ke dalam Villa mereka yang di ikuti oleh Malo.
Di ruang makan itu Bramasta melihat ayahnya yang sudah terduduk menunggunya di tempat itu. Mina menarik sebuah kursi di dekat Sagarta agar Bramasta bisa duduk di kursi itu. Namun Bramasta menolak dan duduk di kursi yang ia tarik sendiri agak jauh dari kursi ayahnya. Bramasta langsung mengambil makanan yang ada di piring yang membuat ayahnya menghela napas lalu memakan makan siangnya yang sudah di dalam piringnya itu.
Mina membalikkan piring Bramasta dan berniat untuk mengambilkan nasi untuk Bramasta namun jelas langsung di tolak oleh Bramasta.
“Aku bukan anak kecil lagi dan aku tidak cacat, aku bisa menuangkan nasi dan sayur dalam piringku,” ketus Bramasta tanpa menoleh.
“Baik, Tuan muda.”
“Tinggalkan aku dan ayah berdua!” titahnya kemudian, yang membuat Tuan Sagarta itu menghentikan kunyahannya dan menatap putra bungsunya itu.
Setelah kedua pelayan mereka pergi dari ruangan itu, kini menyisakan Bramasta dan ayahnya.
“Ada apa?” tanya ayahnya saat setelah mereka saling tatap.
“Ayah masih menjalankan bisnis ilegal ayah?”
Tuan Sagarta hanya terus mengunyah sambil mengadukan antara sendok dan nasi di piringnya.
“Ayah sudah tua masih saja rakus.” Ketus Bramasta yang membuat Tuan Sagarta menjatuhkan sendoknya di atas piringnya sendiri.
“Ayah akan berhenti sebentar lagi dan pensiun hidup berdua dengan ibumu di sini.”
“Kenapa tidak sekarang saja ayah lakukan?!”
Bramasta meninggalkan ruangan itu kini hanya menyisakan Tuan Sagarta yang terduduk diam di kursinya.
“Anak itu, selalu menyuruh ku untuk berhenti dari aktivitas yang berpuluhan tahun telah aku jalani, menyaksikan hidupnya, akan tetapi dia sendiri terjun di jalan yang sama denganku.” Keluh Sagarta dengan emosi yang tertahan.
Bukan apa, dulu dari Bramasta kecil selalu mengeluh dan melarang ayahnya yang sering pergi dengan banyak anak buah juga terkadang pulang dengan luka di tubuh. Bramasta selalu menangis dan melihat ayah dan ibunya diam-diam, ia menyaksikan bagaimana Sagarta pulang dengan banyak luka dan memar di tubuh, ia melihat bagaimana ibunya yang selalu merawat ayahnya dengan telaten.
Dari balik kaca jendela kamarnya, Bramasta melihat ayahnya yang masuk ke dalam mobil yang sudah banyak pria berbadan kekar di sana menunggunya, mobil mereka melaju menjauh dari Villa itu. Bramasta meninju udara di ruangan itu, ia mengumpat kesal.
Tak lama ponselnya berdering. Itu panggilan telepon dari sang ibu namun Bramasta tampak enggan untuk merespons panggilan itu.
Beberapa kali deringan ponsel itu, di acuhkan oleh Bramasta hingga panggilan telepon itu berhenti berdering. Ia malas untuk mengangkat panggilan telepon dari ibunya yang masih terus mendukung ayahnya hingga saat itu, mereka tidak memikirkan untuk berhenti dari pekerjaan mereka itu.
***
Di tempat lain kini ibu dan ayah Bramasta sudah berada di tempat yang sama bandara mereka berniat akan terbang ke luar negeri hari ini karena ada bisnis yang harus mereka jalankan.
Hari ini ayah dan ibu Bramasta tidak membawa ikut serta anak buah mereka bersama, saat pandangan anak buah Sagarta lengah, saat itulah mereka tidak menyadari ada yang sudah menyiapkan rencana untuk menculik kedua orang tua Bramasta itu. Sebelum mereka naik ke arah pesawat yang akan mereka tumpangi, mereka berdua sudah di lebih dahulu di tarik oleh beberapa orang, yang membuat kedua orang itu hilang kesadaran dan di bawa dengan kursi roda, sempat berpapasan dengan kelompok anak buah Sagarta , akan tetapi orang-orang mereka itu tidak menyadari hal itu. Mereka semua berlalu begitu saja dari bandara.
---
“Mami..” panggil seorang anak kecil di dalam Mansion mewah itu.
“Ya, sayang,” sahut seseorang yang berjalan mendekati suara anak kecil yang memanggilnya.
Wanita itu terdiam menatap putranya yang tengah menatap perempuan yang ada di depan pintu Mansion itu, Baratanora dan ibunya masih terdiam hingga ibunya menghampiri anaknya itu dan memeluknya lalu membawa putranya kedalaman gendongannya.
Tentu saja ibunya Baratanora sudah tahu siapa perempuan itu adalah musuh bebuyutannya alias rivalnya .
“Mami,” anak itu menyembunyikan wajahnya di cekuk leher ibunya yang langsung mengusap punggung putranya, menenangkan.
Baratanora takut dengan perempuan itu karena sering kali ia melihat ibunya bertengkar dengan perempuan itu, Baratanora juga sering kali di jahili oleh permpuan itu yang membuat anak itu merasa takut.
Wanita itu masih berdiri dengan angkuh di depan pintu masuk di Mansion itu, dengan kacamata hitam yang menggantung di hidung mungilnya, tangan kirinya memegang erat sebuah koper.
“Sarah..”