Ruang rapat dewan Grup Pradipta penuh seperti ruang sidang: sembilan anggota dewan, empat perwakilan pemegang saham, dua pengacara, dan kamera CCTV yang sengaja dinyalakan atas permintaan Reza — 'karena hari ini tidak ada yang boleh jadi kabar burung.'
Danu Wijaya duduk di kursi direktur keuangan dengan tenang. Ia sudah memenangkan babak media; ia datang untuk memenangkan babak akhir. Di depannya tersusun map presentasi pembelaan diri.
Reza membuka rapat itu tanpa basa-basi. 'Agenda tunggal: hasil penyelidikan ulang kasus Kalimaya. Pak Danu, silakan presentasi dulu. Kau berhak didengar.'
Danu menyajikan versinya dengan mulus: audit sah, keputusan kolektif, dan — puncaknya — tuduhan bahwa 'pihak tertentu yang baru masuk ke keluarga ini' sedang menggoreng kasus lama demi dendam keluarga. Matanya menyapu ke arah Nayaka yang duduk di barisan pemegang saham mewakili ayahnya.
'Nyonya Pradipta adalah adik kandung terdakwa Sekar Ayu Santika,' kata Danu kepada ruangan. 'Semua yang kalian dengar hari ini harus ditimbang dengan fakta itu.'
'Setuju,' kata Nayaka, berdiri. Ruangan menoleh — tidak ada yang menyangka perempuan itu bicara. 'Timbanglah semua dengan fakta bahwa saya adik Sekar. Karena setelah Bapak dan Ibu melihat bukti-bukti ini, Bapak dan Ibu akan mengerti mengapa hanya keluarganya yang berani menggali, sementara semua orang di ruangan ini menerima versi resmi tanpa bertanya.'
Ia mengangguk ke Reza. Layar besar menyala.
Lembar pertama: jurnal asli proyek Kalimaya, berdampingan dengan versi audit — angka demi angka dipalsukan. Lembar kedua: rekening cangkang, vendor fiktif, dan satu nama pendaftar yang muncul berulang. Lembar ketiga: laporan internal Sekar yang bertanggal dua hari *sebelum* audit diumumkan — bukti bahwa gadis itu adalah pelapor, bukan pelaku.
'Audit itu bukan menemukan kejahatan,' kata Reza, suaranya mengisi ruangan. 'Audit itu dibuat untuk menutupinya. Sekar melapor kepada atasannya, dan atasannya — yang menerima laporan itu — adalah orang yang ia laporkan.'
Danu berdiri. 'Ini fitnah keji! Dokumen bisa dibuat siapa saja—'
'Maka kita tidak pakai dokumen saja.' Reza menekan satu tombol.
Rekaman itu memenuhi ruang rapat. Suara Danu — dingin, telanjang, tanpa senyum ballroom: *'Kamu tidak akan membuka itu ke siapa pun, Laras. Kamu tidak tahu apa yang bisa kulakukan.'* Lalu suara Laras: *'Aku sudah tidak takut padamu, Danu. Itu masalah terbesarmu.'*
'Direkam dua hari sebelum istri saya tewas dalam kecelakaan yang tidak pernah diselidiki,' kata Reza. Ruangan itu hening seperti kuburan. 'Polisi menerima salinan semua ini kemarin pagi — termasuk untuk membuka kembali berkas kematian Laras Pradipta. Pak Danu, Anda boleh membantah semuanya. Di kantor polisi.'
Danu menatap sekeliling ruangan, mencari satu wajah kawan, dan tidak menemukan satu pun. Lima belas tahun persahabatan, dan ia runtuh dalam sebelas menit. Saat dua petugas polisi masuk dari pintu samping — dipanggil resmi, bukan dramatis — lelaki itu tidak melawan. Ia hanya menatap Reza dengan senyum yang akhirnya jujur: senyum pahit orang yang sudah lama tahu hari ini akan datang.
'Kau memilih mereka daripada lima belas tahun, Za.'
'Tidak,' jawab Reza. 'Aku memilih kebenaran yang kau kubur lima belas tahun itu.'
Setelah petugas membawa Danu keluar, wartawan di lobi sudah menunggu — kali ini bukan untuk memburuk. Reza turun menghadap kamera, dan ia melakukan hal yang tidak disarankan pengacaranya: ia berbicara.
'Tiga tahun lalu saya membiarkan seorang karyawan dihancurkan karena saya malas membaca. Tiga tahun lalu istri saya meninggal membawa rahasia yang saya tidak pernah cukup peka untuk ketahui. Perusahaan ini berdiri hari ini karena satu perempuan berani masuk ke dalamnya dan membuka apa yang kami semua tutup-tutupi.' Ia berhenti. 'Dia istri saya. Saya berdiri di sampingnya — bukan di depannya, bukan di belakangnya. Di sampingnya.'
Di layar televisi ruang tengah rumah besar itu, Nayaka menonton konferensi pers itu bersama Bara di pangkuannya.
'Ayah hebat ya, Ma,' kata bocah itu.
Nayaka mencium puncak kepalanya. 'Iya. Akhirnya.'