Danu bergerak lebih cepat dari perkiraan mereka.
Tiga hari sebelum rapat dewan, halaman gosip bisnis meledak dengan berita yang ditulis dengan sangat rapi: *'Istri Kedua CEO Pradipta Ternyata Saudara Terdakwa Kasus Kalimaya — Pernikahan Bermotif Balas Dendam?'* Artikel itu tahu terlalu banyak: nama Sekar, hubungan keluarga Nayaka, bahkan garis waktu pernikahan mereka. Sumber anonim. Tentu saja.
Saham Grup Pradipta jatuh dalam sehari. Ponsel Reza tidak berhenti berdering. Dan di gerbang rumah, wartawan mulai berkumpul seperti burung yang mencium bangkai.
'Dia tidak menunggu rapat dewan,' kata Nayaka, menatap berita itu dari balik tirai. 'Dia menyerang duluan. Membuatku jadi cerita utama, supaya apa pun yang kita buka nanti terlihat seperti... dendam istri gila.'
'Itu memang rencananya.' Reza berdiri di tengah ruang keluarga dengan dua hari tanpa tidur di wajahnya. 'Dan sekarang dewan goyah. Dua anggota sudah menelepon, minta rapat ditunda. Kalau rapat tunda, dia menang — dia punya waktu menghapus jejak yang tersisa.'
Hendra Santika datang malam itu juga. Ayah Nayaka masuk ke ruang keluarga seperti badai masuk rumah, dan untuk pertama kalinya Nayaka melihat ayahnya benar-benar murka.
'Kamu memakai perjodohan ini untuk dendam pribadi?!' Hendra menggebrak meja. 'Kamu memakai ayahmu sendiri sebagai kendaraan?!'
'Ayah tidak pernah mau mendengar tentang Sekar.' Nayaka berdiri menghadap amarah itu tanpa mundur. 'Empat tahun Ayah menyebut nama kakakku sebagai aib keluarga. Ayah bahkan tidak datang ke pemakamannya. Jadi jangan sekarang berpura-pura bahwa Ayah yang dikhianati. Yang dikhianati itu Sekar — oleh perusahaan ini, oleh pelaku sebenarnya, dan oleh keluarganya sendiri yang memilih malu daripada mencari kebenaran.'
Hendra terdiam. Amarahnya tidak padam — tetapi tersendat.
'Satu minggu lagi, Ayah,' lanjut Nayaka, lebih pelan. 'Bukti sudah di tangan polisi sejak kemarin. Rapat dewan jalan terus. Setelah itu, Ayah boleh memaki-makiku sepuasnya. Tapi malam ini, yang kuminta cuma satu: jangan tarik danamu dari perusahaan ini. Kalau Ayah tarik sekarang, Danu menang.'
'Kamu memintaku menanam uang di rumah yang sedang kebakaran?'
'Aku meminta Ayah bertaruh pada satu-satunya anak Ayah yang berani membuka pintu yang semua orang takut buka.'
Hendra menatap putrinya lama sekali. Lalu, tanpa sepatah kata pun, lelaki tua itu berbalik dan pergi — tetapi dana Santika tidak bergerak satu rupiah pun. Itulah jawaban ayahnya.
Yang lebih berat justru datang dari dalam rumah. Bara mendengar berita itu dari teman sekolahnya — 'Katanya mama barumu penjahat' — dan pulang dengan mata sembab. Nayaka menemukannya duduk di tangga, memeluk dinosaurusnya.
'Bukan penjahat, Sayang.' Nayaka duduk di sampingnya. 'Mama sedang mencari orang jahat yang sudah menyakiti banyak orang. Termasuk... menyakiti Mama Laras.'
Bara menatapnya dengan mata besar yang basah. 'Orang jahat yang Mama bilang waktu itu?'
'Iya. Yang itu.'
'Terus kenapa orang-orang di TV marah-marah sama Mama?'
'Karena orang jahat itu pandai menyamar. Dia membuat semua orang mengira Mama yang jahat.' Nayaka menggenggam tangan kecil itu. 'Tapi sebentar lagi semua orang akan tahu. Mama janji.'
Bara diam sebentar, lalu menyandarkan kepalanya ke lengan Nayaka. 'Bara percaya Mama. Bara tidak percaya TV.'
Di belakang mereka, di ujung tangga, Reza berdiri menonton tanpa suara. Matanya bertemu mata Nayaka, dan di sana ada sesuatu yang tidak perlu diucapkan: pernikahan kontrak mereka sudah lama mati — yang hidup di rumah ini sekarang adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak ada klausulnya, sesuatu yang ditempa justru di hari-hari paling berbahaya.
Malam itu, ketika rumah akhirnya tidur, Reza berdiri di depan pintu kamar Nayaka untuk pertama kalinya.
'Rapat dewan lusa,' katanya. 'Apa pun yang terjadi di dalam ruangan itu, aku mau kamu tahu satu hal: aku tidak akan melepaskan tanganmu di depan kamera. Bukan karena kontrak. Kontrak kita sudah selesai, Nayaka — malam ini juga, kalau kamu mau, secara hukum bisa kuurus.'
'Dan kalau aku tidak mau mengurusnya?'
Reza menatapnya lama. 'Maka setelah badai ini selesai, aku akan melamarmu lagi. Dengan benar. Tanpa ayahmu, tanpa klausul, tanpa saksi bisnis. Cuma kamu, aku, dan Bara yang jadi pembawa cincinnya kalau dia tidak ngantuk.'
Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, Nayaka tertawa lepas — di tengah badai, di tengah kamera wartawan di gerbang, di tengah segalanya.
'Lusa,' katanya. 'Kita bakar rumahnya dulu. Baru kita bicara lamaran.'