Enam bulan kemudian, dua upacara berlangsung di dua tempat yang berbeda — dan keduanya menutup babak yang panjang.
Upacara pertama di pemakaman, di bawah rinai hujan yang justru terasa tepat. Nisan baru untuk Sekar Ayu Santika didirikan berdampingan dengan nisan lama, tetapi kali ini dengan nama yang sudah bersih: pengadilan resmi membersihkan segala tuduhan, dan perusahaan — lewat siaran pers yang ditandatangani Reza sendiri — menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada keluarga. Hendra Santika berdiri paling depan di depan nisan putri sulungnya, lelaki tua yang akhirnya datang, empat tahun terlambat tetapi datang.
'Maafkan Ayah, Kak,' bisik Nayaka, meletakkan melati di atas batu nisan. 'Kamu tidak pernah jadi aib. Kamu pahlawan yang terlalu cepat pergi.'
Di sebelahnya, Reza menggenggam tangannya. Di sebelah Reza, Bara memegang setangkai bunga yang ia petik sendiri dari halaman rumah, dan meletakkannya dengan khidmat seperti orang dewasa.
Upacara kedua, dua minggu kemudian, jauh lebih kecil — dan jauh lebih ramai dengan tawa.
Reza menepati janjinya. Di taman belakang rumah besar itu, tanpa wartawan, tanpa dewan, tanpa satu pun klausul, ia berlutut di depan Nayaka di hadapan tiga puluh tamu keluarga dan sahabat. Bara berdiri di sampingnya memakai jas mini, memegang bantal cincin dengan wajah seserius panglima perang.
'Aku sudah pernah menikahimu karena kontrak,' kata Reza, 'dan itu tetap keputusan terbaik yang pernah dibuatkan orang lain untukku. Tapi hari ini tidak ada yang membuat keputusan selain aku. Nayaka Santika — perempuan yang masuk ke rumahku untuk menghancurkanku, dan malah membangunnya kembali — maukah kamu menikahiku? Kali ini dengan alasan yang benar?'
'Alasan yang benar itu apa?'
'Aku mencintaimu. Dan Bara sudah mengatur tempat duduknya di pelaminan; akan kasihan kalau gagal.'
Dari belakang Reza, Bara mengangguk serius mengonfirmasi fakta penting itu. Tamu-tamu tertawa. Dan Nayaka — perempuan yang empat tahun hidup dengan dendam sebagai bahan bakar — menyadari bahwa di suatu titik antara lampu hujan, sereal untuk Bimo, dan surat-surat tinta biru, dendam itu sudah berganti nama tanpa izin.
'Iya,' katanya. 'Kali ini karena alasan yang benar.'
Pesta itu berlangsung sampai malam. Hendra Santika mabuk kebahagiaan dan memeluk menantunya sambil terisak. Bi Inah duduk di kursi kehormatan dan menolak berdiri untuk apa pun selain kue. Dan ketika semua tamu pulang, rumah besar itu — rumah yang dulu disebut Nayaka sebagai rumah berkabung permanen — tidak lagi sunyi.
Kamar kerja Laras tidak lagi dikunci. Ruangan itu diubah menjadi perpustakaan kecil keluarga; surat-surat tinta biru dan berkas-berkas lama diserahkan ke pengadilan sebagai barang bukti, dan yang tersisa hanya foto Laras yang berdiri tegak di rak — menghadap ruangan, tersenyum, di rumah yang akhirnya berani membuka jendelanya. Penyelidikan ulang kematiannya masih berjalan; Danu Wijaya menunggu vonis dari balik jeruji untuk penggelapan, pemalsuan, dan daftar dakwaan yang panjangnya membuat jaksa tersenyum.
Malam itu, Nayaka berdiri di teras, memandang taman tempat ia baru saja dinikahi untuk kedua kalinya oleh lelaki yang sama. Reza datang dari belakang, menyampirkan jaket ke bahunya.
'Yang kamu pikirkan?' tanyanya.
'Kakakku.' Nayaka tersenyum kecil. 'Aku masuk ke rumah ini untuk membalas kematiannya. Ternyata rumah ini juga korban dari orang yang sama. Lucu ya — aku datang membawa api, malah menemukan keluarga yang kedinginan.'
'Api juga menghangatkan, kalau diarahkan dengan benar.' Reza merangkulnya dari belakang. 'Dan kamu, Nayaka Pradipta, adalah api paling tepat arah yang pernah kukenal.'
Dari dalam rumah, terdengar suara Bara memanggil-manggil karena tidak bisa menemukan dinosaurusnya — padahal boneka itu ada di tangannya sendiri. Nayaka dan Reza tertawa, berbalik, dan masuk ke dalam rumah mereka.
Rumah yang hangat. Akhirnya.