*'Salinan dokumennya aman di tangan orang yang tidak akan kamu sangka.'*
Kalimat Laras itu menjadi peta harta karun mereka. Reza dan Nayaka menghabiskan tiga malam membedahnya: siapa orang yang tidak akan disangka oleh Danu? Bukan pengacara keluarga — Danu mengenal semuanya. Bukan notaris — semua notaris Grup Pradipta lewat meja direktur keuangan. Bukan keluarga Laras — hubungan mereka dingin.
Jawabannya datang dari Bara, tanpa sengaja, di meja sarapan.
'Mama Laras dulu suka ngasih amplop ke Bi Inah,' kata bocah itu sambil mengaduk sereal. 'Terus bilang: simpan di bawah Alkitab, Bi. Nanti kalau aku pergi, baru dibuka.'
Reza dan Nayaka saling menatap di atas meja.
Bi Inah. Pengasuh yang sudah dua puluh tahun di rumah itu. Orang yang begitu menjadi bagian dari rumah sampai tidak pernah dilihat sebagai orang — dan justru karena itu, tidak akan pernah disangka oleh siapa pun.
Bi Inah tidak menyangkal ketika ditanya. Perempuan tua itu masuk ke kamarnya, mengeluarkan Alkitab tua berjilid kulit dari rak, dan dari bawahnya mengangkat sebuah amplop cokelat tebal yang sudah menguning di pinggirnya.
'Almarhumah pesan: buka kalau dia pergi dengan cara yang tidak wajar.' Mata Bi Inah berkaca-kaca. 'Saya simpan tiga tahun karena saya takut, Nak Reza. Saya tidak tahu isinya, tapi saya tahu almarhumah tidak pernah bicara main-main.'
Di dalam amplop itu: salinan lengkap.
Jurnal pengeluaran proyek Kalimaya yang asli — dengan tanda terima transfer ke rekening-rekening cangkang. Skema pembagian yang ditulis tangan. Dan satu flash drive berisi rekaman pembicaraan telepon. Laras, ternyata, adalah perempuan yang jauh lebih berbahaya dari yang pernah disadari suaminya: ia mencintai Danu, tetapi ia tidak buta. Ia mengumpulkan semuanya sambil menunggu — dan kematiannya datang sebelum ia sempat bergerak.
Reza dan Nayaka menghabiskan malam itu di kamar kerja Laras, membaca dokumen demi dokumen di bawah lampu meja yang sudah tiga tahun tidak menyala.
'Rekening cangkang ini,' kata Nayaka, menunjuk deretan kode bank, 'lima kali menerima transfer dalam sebulan, semua dari vendor fiktif proyek Kalimaya. Dan semua vendor fiktif ini didaftarkan oleh satu nama.'
'Danu.' Reza menatap lembar itu seperti menatap kuburan persahabatannya sendiri. 'Sekar menemukan jejak ini. Dia analis yang menangani rekonsiliasi Kalimaya. Dia melaporkannya ke Danu — atasannya — karena dia pikir atasannya akan membersihkannya.'
'Dia lapor ke orang yang salah,' bisik Nayaka. 'Kakakku menyerahkan bukti ke tangan pelakunya sendiri. Dan seminggu kemudian dia yang dituduh.'
'Bukan seminggu.' Reza membalik lembar memo audit. 'Lihat tanggalnya. Audit "mendadak" itu diumumkan dua hari setelah tanggal laporan internal Sekar. Danu membalik laporan kakakmu menjadi tuduhan terhadap kakakmu. Cepat sekali. Rapi sekali. Dia sudah menyiapkan naskahnya jauh sebelum Sekar lapor — dia tahu gadis itu sedang mengendus.'
Nayaka menutup matanya. Empat tahun ia membayangkan kakaknya bodoh. Ternyata Sekar berani — berani dan sendirian, berhadapan dengan predator yang duduk tepat di atas kursinya.
'Rekaman telepon ini,' kata Reza pelan, memutar flash drive itu, 'suara Laras dan Danu. Dua hari sebelum Laras kecelakaan. Dengar bagian ini.'
Suara Danu di rekaman itu dingin, tidak seperti senyum ballroom-nya: *'Kamu tidak akan membuka itu ke siapa pun, Laras. Kamu tidak tahu apa yang bisa kulakukan.'* Dan suara Laras, bergetar tetapi keras kepala: *'Aku sudah tidak takut padamu, Danu. Itu masalah terbesarmu.'*
Kamar kerja itu sunyi sesudahnya.
'Ini cukup untuk kepolisian,' kata Nayaka akhirnya. 'Penggelapan, pemalsuan audit, penyuapan vendor. Untuk Laras... belum cukup untuk membuktikan kecelakaannya bukan kecelakaan. Tapi cukup untuk membuka penyelidikan ulang.'
Reza menatap foto pernikahannya di meja — yang sekarang sudah kembali berdiri menghadap ruangan. 'Besok aku hadapi dia di kantor. Bukan sebagai sahabat. Sebagai CEO.'
'Jangan.' Nayaka menahan lengannya. 'Kalau kamu hadapi dia sendirian, dia akan menghancurkan bukti, atau menghancurkanmu. Kita bawa ini ke tempat yang tidak bisa dia kendalikan: rapat dewan dan pemegang saham. Sekaligus. Di depan semua orang, dengan polisi sudah menerima salinannya sehari sebelumnya.'
Reza menatap istrinya — perempuan yang datang ke rumahnya untuk menghancurkannya, dan sekarang sedang menyusun strategi untuk menyelamatkan nama keluarganya.
'Kamu tahu risikonya,' kata Reza. 'Begitu kita buka ini, dia akan membuka balik siapa kamu. Motifmu. Pernikahan kita akan jadi santapan media.'
'Biarkan.' Nayaka tidak berkedip. 'Aku sudah selesai bersembunyi.'