Mereka duduk berhadapan di meja makan pukul sebelas malam, dengan surat-surat Laras di antara mereka seperti jenazah yang akhirnya diangkat ke permukaan.
Reza membaca semuanya. Satu per satu. Tidak ada yang mengganggunya — Nayaka hanya duduk diam, membiarkan suaminya menghadapi hantu-hantunya sendiri. Lelaki itu membaca surat pertama dengan wajah datar, surat kelima dengan rahang mengeras, dan surat terakhir dengan tangan yang akhirnya berhenti pura-pura stabil.
'Dia menulis ini seminggu sebelum kecelakaannya,' kata Reza akhirnya, suaranya hancur di ujung. 'Salinan dokumen. Di tangan orang yang tidak akan disangka. Aku menguburkan perempuan ini tanpa tahu satu kata pun dari semua ini.'
'Reza—'
'Dan kamu.' Ia mengangkat wajah, dan matanya merah — bukan menangis, lebih berbahaya dari menangis. 'Sekar Ayu Santika. Kamu satu marga. Kamu bukan kebetulan menemukan map biru itu, Nayaka. Kamu mencarinya. Sejak awal. Sejak pernikahan ini.'
Detik yang Nayaka tunggu empat tahun akhirnya tiba — dan tidak ada jalan memutar lagi.
'Sekar kakakku,' katanya. 'Kakak kandungku, beda ibu. Empat tahun lalu perusahaanmu menggantung namanya di tiang fitnah, dan dua bulan kemudian dia mati di jurang. Aku yang menanamkan ide syarat pernikahan ke kepala ayahku. Aku menikahimu untuk masuk ke rumah ini, menemukan bukti bahwa kamu yang menghancurkannya, dan menghancurkanmu balik dari dalam. Itu kebenarannya. Semuanya.'
Hening. Reza berdiri, kursinya terdorong ke belakang. 'Jadi semua ini—' tangannya menyapu udara di antara mereka, '—makan malam, Bara, lampu hujan— semua itu bagian dari rencana?'
'Tidak ada lampu hujan dalam rencanaku, Reza.' Suara Nayaka pecah untuk pertama kalinya. 'Tidak ada anak tujuh tahun yang takut petir dalam rencanaku. Rencanaku hanya sampai di pintu rumah ini. Sisanya... sisanya terjadi sendiri, dan aku tidak minta maaf untuk itu.'
'Kamu memakai pernikahanku sebagai alat.'
'Kamu menandatangani kematian kakakku sebagai formalitas!' Nayaka ikut berdiri. Dua orang itu berhadapan di atas meja makan, dan rumah besar itu menahan napasnya. 'Kita sama-sama bersalah dengan cara masing-masing, Reza. Pertanyaannya sekarang cuma satu: kau mau terus menyerangku, atau kau mau menyerang orang yang benar-benar membunuh dua perempuan di hidupmu?'
Kalimat itu menggantung lama. Sangat lama.
Lalu Reza duduk kembali. Perlahan. Tangannya menarik surat-surat Laras mendekat, dan ketika ia bicara, suaranya sudah lain — suara CEO yang selesai berkabung dan mulai menghitung.
'Dia bermain dengan kita berdua. Denganku lewat persahabatan. Dengan Laras lewat cinta. Dengan kakakmu lewat kursi yang membuatnya bisa membuang siapa saja.' Reza menatap Nayaka. 'Lima belas tahun aku menyebutnya saudara. Kalau aku menghancurkannya sendirian, dia akan melihatku datang. Tapi dia tidak pernah melihatmu datang, Nayaka. Tidak pernah.'
'Maka kita bersekutu?'
'Kita bersekutu.' Reza mengulurkan tangannya ke seberang meja — bukan sebagai suami kepada istri, tetapi sebagai dua orang yang sama-sama dikhianati. 'Tapi dengan aturanmu sendiri yang kutiru: tidak ada rahasia lagi di antara kita. Semua dibuka. Semua.'
Nayaka menatap tangan itu. Empat tahun ia membayangkan menghancurkan lelaki ini. Sekarang ia menjabat tangannya untuk menghancurkan orang lain — bersama-sama.
'Sepakat,' katanya. 'Semua dibuka.'
Mereka tidak tahu bahwa di luar rumah, di sedan hitam yang parkir jauh di seberang jalan, Danu Wijaya sedang menatap lampu ruang makan yang menyala sampai larut itu dengan rahang yang mengeras.
Ia sudah memutuskan sesuatu malam itu juga. Kalau rumah itu mulai bicara, maka rumah itu harus dibakar terlebih dahulu.