Nayaka mendapatkan kesempatan menguji kecurigaannya di jamuan makan malam perusahaan — acara bulanan Grup Pradipta yang untuk pertama kalinya ia hadiri sebagai Nyonya Pradipta.
Danu Wijaya menyambut mereka di pintu ballroom. Lelaki itu rapi, hangat, tiga puluhan akhir, dengan jenis ketampanan yang membuat orang langsung percaya. Ia memeluk Reza lama, menepuk bahunya, lalu menatap Nayaka dengan senyum yang terukur sempurna.
'Akhirnya saya bertemu perempuan yang berhasil menaklukkan duda paling keras kepala di Jakarta,' katanya. 'Reza tidak pernah cerita apa pun tentang Anda. Pelit sekali.'
'Saya juga tidak banyak cerita tentang kolega-kolega Reza,' jawab Nayaka halus. 'Jadi kita impas, Pak Danu.'
Sepanjang malam, Nayaka mengamati. Danu sempurna — terlalu sempurna. Ia mengingat nama semua orang, mendoakan semua orang, tertawa di semua lelucon yang tepat. Tetapi Nayaka sudah menghabiskan empat tahun belajar membaca orang dari balik dendam, dan ia menangkap satu hal: setiap kali percakapan menyentuh masa lalu perusahaan, mata Danu bergerak mencari pintu.
Maka pada kesempatan bersulang, Nayaka melempar batu ke kolam itu. Pelan, sopan, tanpa bisa dipersalahkan siapa pun.
'Saya dengar Grup Pradipta pernah punya kasus internal yang ramai, ya — empat atau lima tahun lalu. Proyek... Kalimaya, kalau saya tidak salah dengar?'
Gelas di tangan Danu berhenti sepersekian detik di udara. Hanya itu — tetapi Nayaka melihatnya. Jeda itu, bagi orang yang tahu harus melihat ke mana, sekeras pengakuan.
'Berita lama,' kata Danu, masih tersenyum. 'Sudah selesai bertahun-tahun. Kenapa Nyonya tertarik?'
'Keluarga saya bisnis material. Kami diajari membaca kasus kegagalan audit — supaya tidak jadi korban.' Nayaka menyeruput air putihnya. 'Katanya pelakunya seorang analis perempuan. Santika juga marganya. Bukan kerabat dekat, untungnya. Tapi tetap saja, membuat nama keluarga terciprat.'
'Tersiprat.' Danu mengoreksi pelan, lalu sadar sendiri bahwa ia tidak perlu mengoreksi apa pun. Wajahnya menutup satu lapis. 'Kalau boleh tahu, Nyonya dengar dari mana soal proyek itu? Itu tidak pernah jadi konsumsi umum.'
'Astaga. Benar juga.' Nayaka menatapnya dengan polos yang dilatih empat tahun. 'Lalu kenapa Bapak tidak menanyakan itu sejak tadi, Pak Danu? Bapak langsung tahu proyek mana, pelakunya siapa, detailnya apa. Bagi berita lama yang sudah selesai... Bapak sangat hafal.'
Udara di antara mereka berubah suhu. Reza, yang sejak tadi menyimak tanpa bicara, meletakkan tangannya pelan di pinggang Nayaka — isyarat publik yang sempurna sekaligus peringatan halus. Nayaka menurut. Batunya sudah dilempar; riaknya sedang bekerja.
Malam itu, di mobil, Reza akhirnya bertanya. 'Kamu sengaja menusuknya.'
'Aku sengaja mengujinya,' jawab Nayaka. 'Dan dia gagal, Reza. Orang tidak bersalah tidak menghafal detail kasus empat tahun seperti itu. Orang bersalah menghafalnya karena mereka mengulangnya di kepala setiap malam.'
Reza menyetir dalam diam panjang. 'Danu sahabatku lima belas tahun.'
'Laras istrimu tujuh tahun,' balas Nayaka lembut. 'Dan dia menulis surat-surat itu untuk Danu, Reza. Aku membacanya. Semuanya.'
Mobil itu melambat. Di lampu merah, Reza menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras, dan Nayaka melihat sebuah dunia sedang retak di balik mata lelaki itu — persahabatan lima belas tahun, pernikahan tujuh tahun, semuanya ditata ulang oleh satu kalimat.
'Katakan semuanya,' kata Reza akhirnya, suaranya serak. 'Di rumah. Malam ini. Jangan ada satu pun yang kamu simpan.'
Dan Nayaka menyadari, dengan perasaan yang aneh, bahwa malam ini malam yang seharusnya menakutkan baginya — malam ketika ia harus membuka siapa dirinya, siapa Sekar, dan mengapa ia menikahi lelaki ini.
Tetapi yang ia rasakan justru lega.
Dendam yang dibawa sendirian selama empat tahun, untuk pertama kalinya, akan punya teman. Dan temannya adalah lelaki yang semula ingin ia hancurkan — yang ternyata sama-sama kehilangan, sama-sama ditipu, dan sama-sama berhak menuntut jawaban.
Di belakang mereka, dua mobil ke belakang, sebuah sedan hitam mengikuti dengan lampu diredupkan. Danu Wijaya tidak pulang ke rumahnya malam itu. Ia mengawasi. Karena ia juga sudah membaca riak di kolam — dan ia tahu siapa yang melempar batunya.