Kunci kamar kerja Laras datang dari orang yang tidak Nayaka duga: Bi Inah.
Pengasuh tua itu menyerahkannya pada suatu pagi, tanpa diminta, setelah melihat Nayaka mengajari Bara mengeja nama-nama pahlawan di halaman belakang.
'Ibu ini istri Bapak. Bukan tamu.' Bi Inah meletakkan kunci kecil berkarat di meja teh. 'Kamar itu tidak baik kalau terus jadi kuburan. Almarhumah juga tidak suka hal berdebu.' Ia berhenti, menimbang kata. 'Tapi kalau Ibu menemukan hal-hal aneh di sana... jangan kaget. Almarhumah itu orang baik. Cuma... tidak semua yang baik itu bahagia.'
Kamar kerja Laras berbau kertas tua dan parfum yang sudah menguap bertahun-tahun. Semuanya dibiarkan persis seperti saat pemiliknya pergi: kacamata baca di meja, kalender yang berhenti di bulan Maret tiga tahun lalu, foto pernikahan yang menghadap dinding. Nayaka membuka tirai, dan cahaya sore masuk untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Ia tidak tahu apa yang ia cari — sesuatu tentang Sekar, tentang proyek Kalimaya. Tetapi yang ia temukan justru kotak sepatu di dasar lemari, di bawah tumpukan syal.
Di dalamnya: surat-surat. Puluhan. Ditulis tangan dengan tinta biru, tidak bersampul, tidak berstempel — surat-surat yang diselundupkan, bukan dikirim. Semuanya ditujukan kepada satu inisial:
*'D.'*
Nayaka membaca yang paling atas, dan bulu kuduknya meremang.
*'D — Reza pulang lagi jam sebelas. Anakku sudah tidur. Aku menulis ini di kamar kerja, satu-satunya tempat di rumah ini yang masih terasa milikku. Kamu bilang bersabar. Sudah dua tahun aku bersabar, D. Kapan kamu berhenti jadi orang yang paling dipercaya suamiku dan mulai jadi orang yang kupilih?'*
Surat berikutnya lebih pendek, lebih gelap:
*'Aku menemukan angka-angka itu, D. Aku tahu apa yang kamu lakukan dengan dana Kalimaya. Aku tidak akan melapor — belum — karena melapor berarti meledakkan semuanya, termasuk kita. Tapi jangan kira aku tidak tahu. Jangan kira aku buta.'*
Dan surat terakhir, bertanggal seminggu sebelum kematian Laras:
*'Semuanya sudah kusiapkan. Salinan dokumennya aman di tangan orang yang tidak akan kamu sangka. Kalau terjadi apa-apa padaku, kebenaran tidak ikut terkubur. Kamu tahu aku serius. Temui aku. Kita bicara untuk terakhir kalinya.'*
Nayaka menurunkan surat itu dengan tangan dingin.
Laras tahu. Laras menemukan kejahatan Danu — kejahatan yang sama yang kemudian ditimpakan kepada Sekar. Laras berselingkuh dengan sahabat suaminya, menemukan rahasianya, menyiapkan salinan dokumen... lalu tewas dalam kecelakaan mobil, seminggu setelah menulis surat ancaman.
Dua perempuan. Dua kematian. Satu nama: Danu Wijaya.
Sekar bukan korban pertama. Sekar mungkin bukan bahkan korban yang direncanakan — ia hanya analis keuangan yang menemukan jejak yang sama dengan Laras, dan Danu menyingkirkannya dengan fitnah, persis seperti ia menyingkirkan Laras dengan... Nayaka tidak berani menyelesaikan kalimat itu di kepalanya. Kecelakaan di malam hujan. Kecelakaan di jurang Puncak. Dua 'kecelakaan'.
Pintu kamar kerja terbuka. Nayaka membekap mulutnya sendiri — tetapi yang berdiri di sana bukan Reza.
'Mama?' Bara memegang boneka dinosaurusnya, menatap ruangan terlarang itu dengan mata besar. 'Ini kamar Mama Laras?'
Nayaka menarik napas, menyeka wajahnya — ia tidak sadar sudah menangis — dan berlutut menyamakan tinggi dengan bocah itu. 'Iya, Sayang. Ini kamarnya.'
Bara masuk pelan-pelan, menyentuh meja, menyentuh kalender mati itu. 'Ayah tidak pernah boleh aku masuk. Ayah bilang nanti, kalau Bara sudah besar.' Bocah itu mengambil foto pernikahan yang menghadap dinding, membaliknya, menatap wajah ibu yang tidak pernah ia kenal. 'Mama Laras cantik.'
'Cantik sekali,' bisik Nayaka.
'Mama Laras pergi karena Bara nakal?'
Pertanyaan itu menghantam Nayaka seperti tangan besi. Ia memeluk Bara erat-erat. 'Tidak, Sayang. Tidak pernah. Mama Laras pergi karena... karena ada orang jahat. Bukan karena Bara. Bara anak paling baik sedunia.'
Di atas bahu bocah itu, mata Nayaka menatap kotak surat-surat.
Orang jahat. Ia sudah mengatakannya kepada seorang anak berusia tujuh tahun. Sekarang tidak ada jalan mundur: orang jahat itu harus membayar — untuk Sekar, untuk Laras, dan untuk bocah yang tumbuh mengira kematian ibunya adalah salahnya.