Tuntutan untuk Gilang Pramudya dibacakan seminggu kemudian: penjara seumur hidup, sama dengan Danu, dengan pertimbangan bahwa mata yang memandu dua pembunuhan tidak lebih ringan dari tangan yang melaksanakannya.
Jaksa membacakannya selama satu setengah jam, dan di bagian akhir ia menambahkan satu paragraf yang tidak ada di drafnya sampai malam sebelumnya — paragraf yang ditulisnya setelah membaca ulang surat-surat Sekar: 'Penuntut umum tidak dapat menghukum sifat seseorang. Tetapi penuntut umum wajib mencatat bahwa ada kejahatan yang dimulai bukan dari kebencian, melainkan dari kekosongan — dan kekosongan, ketika diberi kamera dan dua puluh tahun waktu, ternyata sanggup membunuh sebanyak kebencian.'
Pledoi Gilang — ia membacakannya sendiri, karena tentu saja ia membacakannya sendiri — menjadi pledoi kedua yang paling dibicarakan dalam perkara itu, dengan alasan yang sama sekali berbeda dari pledoi Danu.
Kalau Danu membela nama, Gilang membela arsipnya.
'Saya tidak akan meminta keringanan,' katanya, berdiri dengan map tipis yang ternyata kosong — dibawanya hanya untuk kebiasaan. 'Keringanan adalah untuk orang yang menyesal atau orang yang tidak bersalah, dan saya bukan keduanya. Saya melakukan apa yang didakwakan. Saya menonton dua perempuan itu di minggu-minggu terakhir mereka, dan saya tahu untuk apa, dan saya tetap menonton.'
Hakim mencondongkan badan. Bahkan Laksmi menatap kliennya dengan alis yang naik sepersekian senti — satu-satunya gerakan yang oleh para wartawan dicatat sebagai kejutan.
'Saya hanya ingin meminta majelis mencatat satu hal — bukan untuk meringankan, melainkan untuk melengkapi berkas. Karena berkas adalah satu-satunya tempat yang saya hormati.' Gilang membuka map kosongnya, menatapnya, lalu menutupnya lagi. 'Selama dua puluh dua tahun saya mengarsipkan kehidupan orang lain karena saya tidak punya kehidupan sendiri. Orang-orang di foto saya berulang tahun, menikah, punya anak, panen wortel — dan saya di belakang kamera, menyimpan semuanya, seolah dengan menyimpan saya ikut mengalami. Itu tidak benar, Yang Mulia. Menyimpan bukan mengalami. Saya mengetahuinya terlambat, di sel, di mana satu-satunya yang tidak bisa saya arsipkan adalah waktu saya sendiri.'
Ia berhenti. Ruangan itu diam dengan cara yang tidak biasa — bukan hening tegang, melainkan hening yang canggung, hening orang-orang yang mendengar kebenaran dari mulut yang salah.
'Kalau majelis menjatuhkan seumur hidup, saya terima. Kalau dua puluh tahun, saya terima. Satu-satunya yang saya minta — dan saya minta ini bukan kepada majelis, melainkan kepada negara, kepada siapa pun yang menyimpan arsip saya: jangan buang. Simpan. Bukan karena isinya berharga. Tapi karena di dalamnya ada dua perempuan yang lebih baik dari saya dan lebih baik dari semua orang di ruangan ini, dan mereka pantas tetap ada di suatu tempat.' Ia menutup. 'Itu saja, Yang Mulia. Pembelaan saya selesai.'
Laksmi, dalam karier tiga puluh tahunnya, tidak pernah mendengar pledoi yang isinya pengakuan penuh. Di lorong, wartawan menyerbu, dan ia hanya berkata satu kalimat: 'Hari ini klien saya lebih jujur dari kebanyakan saksi. Catat itu.'
Tapi jujur bukan ringan. Di mobilnya, pulang dari sidang itu, Laksmi membaca ulang pledoi kliennya yang ia salin diam-diam — bukan untuk berkas, melainkan untuk dirinya sendiri, karena beberapa dokumen memang tidak boleh hilang dari ingatan seorang pengacara. Ia menulis di pinggirnya dengan pensil: *Dia tidak meminta ampun. Dia meminta dibaca. Dua-duanya bukan hakku untuk memberi.*
Di ruang tunggu kejaksaan, jaksa penuntut muda yang menyiapkan tuntutan berdiri lama di depan jendela. Seniornya menepuk bahunya. 'Kau kecewa dia mengaku?'
'Bukan kecewa, Pak. Heran. Saya menyiapkan tuntutan untuk membungkam orang. Ternyata dia membungkam dirinya sendiri — lebih rapi dari yang bisa saya lakukan.'
'Itulah pelajarannya, Nak,' kata jaksa senior itu. 'Kita tidak mengalahkan semua penjahat dengan argumen. Sebagian mengalahkan dirinya sendiri dengan kebiasaannya. Tugas kita cuma satu: memastikan kebiasaan itu tercatat.'
Di rumah, menunggu vonis, kehidupan berjalan dengan kesederhanaan yang sudah susah payah dibangun: tomat pertama memerah, dua belas mahasiswa melewati minggu keempat kuliah, dan Bara mendapatkan nilai matematika 92 — yang olehnya dicatat di buku dinosaurus sebagai 'bukti bahwa anak yang dicatat dengan cara yang baik berkembang'.
Pembukuan uang jajan Bara sendiri sudah menjadi institusi rumah tangga. Setiap Minggu malam, ia duduk di meja makan dengan buku dan pensil, mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan kesungguhan bendahara negara. Kolom pengeluarannya berisi hal-hal seperti 'permen untuk Bimo (bukan hutang, hadiah)' dan 'cadangan darurat'. Kolom cadangan darurat itu tidak pernah dipakai, dan ketika Bi Inah bertanya untuk apa, Bara menjawab: 'Untuk kejutan.' Bi Inah menerjemahkannya ke dalam bahasa dapur: anak itu menyimpan uang untuk hari-hari yang belum terjadi, persis seperti kedua orang tuanya menanam untuk musim yang belum datang.
Tapi ada satu malam di mana kesederhanaan itu retak sedikit — retakan yang bagus. Reza menemukan Nayaka di perpustakaan, di depan foto Laras, memegang sesuatu yang sudah lama tidak disentuhnya: surat-surat Laras, yang asli.
'Aku membaca ulang,' kata Nayaka. 'Dan aku baru sadar satu hal. Selama empat tahun aku membaca map ini untuk dendam. Aku tidak pernah membacanya untuk Laras. Aku tidak pernah bertanya: apa yang dia inginkan terjadi setelah semuanya selesai?'
'Dan menurutmu apa?'
Nayaka menatap foto itu. 'Dia memberi Danu waktu sampai pagi. Dia menawarinya berdiri di sampingnya di ruang sidang. Dia bukan orang yang mau orang lain hancur, Za. Dia orang yang mau kebenaran selesai.' Ia meletakkan surat itu kembali dengan gerakan yang sudah tidak gemetar lagi. 'Kebenaran sudah selesai. Hampir. Tinggal satu palu. Dan setelah itu... aku mau kita berhenti membaca berkas dan mulai membaca hal-hal lain. Bara sudah minta diajari membaca laporan keuangan mainannya.'
'Laporan keuangan mainan?'
'Uang jajannya. Dia membuat pembukuan, lengkap dengan kolom saldo.' Nayaka tersenyum — senyum yang lepas, yang sudah empat tahun tidak lepas. 'Anak itu, Za. Dua ibu yang suka mencatat, dan dia menangkapnya dari udara.'