Hari kelima sidang Gilang menghadirkan saksi yang membuat pengadilan itu penuh dua jam sebelum pintu dibuka: Danu Wijaya, dipanggil dari lapas untuk bersaksi dalam perkara orang yang dua puluh tahun menjadi matanya.
Wartawan memadati lorong sejak subuh. Para pengunjung reguler sidang — mahasiswa hukum, pensiunan yang gemar menonton perkara besar, ibu-ibu dengan catatan sendiri — berebut kursi seperti penonton final. Ada sesuatu yang menarik orang banyak pada pemandangan dua penjahat yang saling menoleh: bukan keadilan, melainkan pertanyaan purba tentang apakah orang jahat punya kesetiaan.
Mereka tidak pernah bertemu lagi sejak ruang besuk itu — dan ketika Danu masuk lewat pintu tahanan dengan jasnya dan Gilang menoleh dari kursi terdakwa, seluruh ruangan merasakannya: dua lelaki yang bekerja sama dua puluh tahun tanpa pernah tercatat dalam satu dokumen, kini duduk dalam satu ruangan dengan nama masing-masing di berkas negara.
Danu disumpah. Ia bersaksi dengan tenang yang sudah menjadi ciri khasnya — dan tidak ada yang tahu, sampai kalimat-kalimatnya selesai, apakah ia datang untuk membantu atau untuk merusak.
'Saudara saksi mengenal terdakwa?' tanya jaksa.
'Dua puluh dua tahun.' Danu tidak menoleh ke Gilang. 'Dia teman kuliah saya. Teman paling pendiam yang pernah saya punya.'
'Apa peran terdakwa dalam... lingkaran Saudara?'
Danu diam sejenak — dan di jeda itu, seluruh ruangan menahan napasnya, karena semua orang tahu lelaki ini masih bisa memilih.
'Dia pembaca,' kata Danu akhirnya. 'Saya orang yang membuat keputusan; dia orang yang memastikan keputusan saya berdasarkan kenyataan. Kalau saya perlu tahu seseorang tinggal di mana, bekerja di mana, rapuh di mana — dia yang memberi tahu. Dia tidak pernah bertanya untuk apa. Itu prinsipnya. Dia menyebutnya profesionalisme.'
'Termasuk untuk Laras Pradipta dan Sekar Ayu Santika?'
'Termasuk untuk mereka berdua.'
Empat kata itu mengisi ruangan seperti air mengisi ruang bawah tanah. Di kursi terdakwa, Gilang tidak bergerak — tapi tangannya, yang selalu rapi di atas lutut, perlahan saling menggenggam.
Laksmi berdiri untuk pemeriksaan silang, dan ia langsung ke titik yang menjadi satu-satunya harapannya: 'Saudara Danu, Saudara sudah divonis seumur hidup dan banding Saudara ditolak. Tidak ada yang bisa Saudara peroleh atau hilangkan di ruangan ini. Jadi katakan kepada majelis: kenapa Saudara bersaksi? Apa yang Saudara inginkan?'
Danu menatap pengacara itu lama. Lalu, untuk pertama kalinya sejak sidang dimulai, ia menoleh ke arah Gilang — dan menjawab pertanyaan itu sambil menatapnya.
'Saya tidak menginginkan apa-apa, Bu. Saya sudah selesai.' Ia berhenti. 'Saya di sini karena ada pertanyaan yang tersisa dari dua puluh tahun: apakah dia melakukan semua itu untuk saya, atau untuk arsipnya? Saya menjalani hukuman seumur hidup untuk perintah-perintah yang saya keluarkan — dan saya ingin tahu, sebelum saya menghabiskannya, apakah ada satu saat pun di mana orang itu melakukan sesuatu bukan untuk koleksinya.'
Ruangan itu hening sampai ke koridor.
Dan Gilang — yang sejak sidang dimulai tidak bicara satu kata pun di luar jawaban teknis — mengangkat tangannya sedikit, meminta izin kepada hakim dengan sopan seperti mahasiswa di seminar.
'Ijinkan saya menjawab saksi, Yang Mulia. Bukan sebagai terdakwa. Sebagai teman lama.'
Hakim, melanggar kebiasaan, mengangguk.
Gilang menatap Danu dari seberang ruangan. Dua puluh dua tahun menggantung di antara mereka.
'Kamu satu-satunya orang yang pernah memintaku bekerja, Dan,' kata Gilang pelan. 'Bukan menyuruh — meminta. Kamu satu-satunya yang pernah melihatku. Di kampus, di resepsi, di mana-mana, orang berjalan melewatiku seperti aku perabot. Kamu satu-satunya yang berhenti.' Suaranya tidak bergetar; itu yang membuatnya mengerikan. 'Jadi jawaban untuk pertanyaanmu: tidak ada. Tidak ada satu saat pun yang bukan untuk koleksiku. Karena koleksiku, Dan, adalah satu-satunya tempat di mana aku ada. Kamu memberiku perintah. Tapi kamu juga memberiku itu — tempat untuk ada. Dan untuk itu, aku memotret dua perempuan yang tidak pernah melakukan apa-apa kepadaku.'
Danu menatapnya lama, lalu mengangguk — anggukan kecil, anggukan meja rapat, anggukan dua lelaki yang akhirnya membaca dokumen yang sama.
'Kalau begitu,' kata Danu, 'kita berdua memang pantas berada di gedung-gedung ini.'
Ia digiring keluar setelah itu. Di ambang pintu, ia berhenti dan menoleh — bukan ke Gilang, melainkan ke barisan pengunjung, ke Reza.
'Keluargamu menang, Za,' katanya, cukup keras untuk didengar. 'Bukan karena kalian lebih pintar. Karena kalian punya alasan untuk bangun pagi. Kami berdua hanya punya alasan untuk begadang.'
Lalu pintu tertutup, dan dua puluh dua tahun itu tertutup bersamanya.
Di lorong, seusai sidang, Ratna dicegat wartawan dengan pertanyaan yang sudah disiapkan: apakah kesaksian Danu bisa dipercaya? Polisi itu menjawab sambil terus berjalan: 'Kesaksian orang yang tidak bisa mendapat apa-apa dari kesaksiannya adalah kesaksian paling mahal di gedung ini. Kalian boleh menulis itu.'
Di rumah malam itu, Reza menceritakan kembali momen-momen sidang itu kepada Nayaka — yang memilih tidak hadir hari itu, karena ada batas yang ia tetapkan untuk dirinya: ia tidak mau mendengar Danu lagi. 'Dia sudah selesai bagiku,' katanya, 'jauh sebelum dia selesai bagi negara.' Tapi tentang Gilang, ia bertanya satu hal, dan Reza menjawabnya dengan jujur: ya, lelaki itu mengaku; ya, dengan suara datar; dan ya, ada sesuatu di pengakuannya yang terdengar seperti kerinduan.
'Kerinduan kepada apa?' tanya Nayaka.
'Kepada pernah dilihat,' jawab Reza. 'Dua puluh dua tahun tidak dilihat siapa pun, dan satu-satunya mata yang pernah menoleh kepadanya adalah mata yang salah. Aku tidak memaafkannya, Nay. Tapi aku mengerti bagian kecil itu, dan mengerti tidak sama dengan memaafkan.'
'Itu,' kata Nayaka, 'adalah kalimat yang akan kupakai kalau suatu hari Bara bertanya apa bedanya mengerti dan memaafkan.' Ia menyandarkan kepala ke bahu suaminya. 'Besok saksi terakhir. Lalu tuntutan. Lalu vonis. Kita sudah di lorong terakhir, Za.'
'Dan di ujung lorong itu?'
'Di ujung lorong itu ada kebun,' kata Nayaka. 'Hanya itu. Kebun.'