Vonis untuk Gilang Pramudya dijatuhkan pada hari Selasa, di ruang sidang yang penuh seperti biasa, oleh hakim yang wajahnya sudah menjadi bagian dari berita bertahun-tahun.
Majelis menyatakan terdakwa terbukti turut serta melakukan pembunuhan berencana terhadap dua korban. Tapi pada hukumannya, majelis berpaling dari tuntutan jaksa — dan alasan mereka dibacakan dengan hati-hati, kalimat demi kalimat, seperti orang menuruni tangga yang licin:
'Terdakwa memang mengetahui dan memfasilitasi. Namun majelis menimbang: terdakwa tidak berada pada posisi memberi perintah, tidak memperoleh keuntungan materi dari kematian kedua korban, dan telah memberikan pengakuan penuh di hadapan persidangan — pengakuan yang, apa pun motifnya, telah menutup perkara ini sampai ke akarnya.'
Di bagian pertimbangan berikutnya, hakim melakukan sesuatu yang jarang: ia berbicara langsung kepada terdakwa, tanpa membaca teks. 'Saudara meminta negara menyimpan arsip Saudara. Negara akan melakukannya — sebagai barang bukti, bukan sebagai warisan. Dan Saudara akan menghabiskan dua puluh tahun ke depan dengan mengetahui bahwa satu-satunya hal yang Saudara banggakan kini berada di gudang yang tidak bisa Saudara lirik. Majelis menilai itu hukuman yang paling tepat untuk orang seperti Saudara: bukan dipisahkan dari masyarakat, melainkan dipisahkan dari tontonannya.'
Hakim mengetuk palu. 'Menjatuhkan pidana penjara selama dua puluh tahun.'
Bukan seumur hidup. Dua puluh tahun — yang bagi lelaki berusia empat puluh sembilan tahun berarti keluar sebagai kakek tua, atau tidak keluar sama sekali. Ada yang menyebutnya terlalu ringan. Ada yang menyebutnya tepat. Ratna, ketika ditanya wartawan, menjawab dengan jawaban yang tidak mereka harapkan: 'Negara sudah menghitung. Sekarang giliran dia menghitung dua puluh tahun itu di dalam. Jangan tanya saya lagi apakah cukup. Tidak ada vonis yang cukup untuk dua nyawa — ada vonis, dan ada kehidupan yang harus terus berjalan, dan keduanya tidak saling menggantikan.'
Danu, di selnya, mendengar vonis itu lewat radio kecil yang menjadi satu-satunya jendelanya. Ia tidak bereaksi. Dua puluh dua tahun persahabatan diukur dengan dua puluh tahun penjara, dan ia merasa angka itu anehnya tepat — seperti akhir sebuah laporan yang angkanya duduk diam.
Arga, di blok lain, mendengarnya dan menulis satu baris di buku kecilnya yang baru — yang diizinkan sipir, kali ini dengan kertas resmi: *'Semua sudah tercatat. Semoga aku tidak perlu mencatat apa-apa lagi yang seperti ini.'*
Dan di rumah keluarga Pradipta, vonis itu sampai lewat telepon Ratna, dan diterima dengan cara keluarga itu menerima segalanya sekarang: di meja makan, bersama-sama, dengan Bara yang sedang mengerjakan pembukuan uang jajannya.
'Dua puluh tahun,' kata Nayaka. 'Orang yang memotret kakakku akan menghabiskan dua puluh tahun menghitung hari.'
'Dan kita?' tanya Reza.
'Kita berhenti menghitung.' Nayaka menatap suaminya, lalu anaknya, lalu kebun kecil di luar jendela yang tomatnya mulai merah. 'Mulai hari ini tidak ada lagi angka di rumah ini kecuali pembukuan uang jajan dan tanggal panen. Urusan pengadilan sudah selesai. Ketiganya sudah berada di tempat yang disediakan negara untuk orang-orang seperti mereka — dan kita berada di tempat yang disediakan kehidupan untuk orang-orang seperti kita.'
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, papan kecil di ruang kerja itu dibongkar. Bukan disimpan — dibongkar. Kertas-kertasnya diturunkan, dipilah, dan yang masih berguna untuk berkas negara diserahkan ke Aditya; sisanya, dibakar kecil-kecilan di belakang rumah, di samping kebun, sambil ditonton barisan wortel dan tomat.
Aditya datang untuk mengambil map terakhir itu dan menyaksikan api kecilnya. Pengacara tua itu berdiri agak lama di samping kebun, memandangi barisan tanaman yang tumbuh di atas bekas kolam renang, dan berkata kepada Reza dengan nada yang tidak biasa — nada orang yang mengizinkan dirinya sentimental selama satu menit penuh: 'Ayahmu pernah bilang rumah ini terlalu besar untuk ditinggali. Ternyata dia salah. Rumah ini cuma butuh waktu untuk tahu mau diisi apa.'
Bara ikut menonton, berdiri di antara ayah dan mamanya. 'Itu apa yang dibakar?'
'Kertas-kertas sedih,' kata Nayaka. 'Supaya tidak usah dibaca lagi.'
'Terus bukuku? Buku Catatan Keamanan?'
Nayaka mengusap kepala anak itu. 'Bukumu tidak dibakar. Bukumu disimpan. Itu bukan kertas sedih — itu kertas berani.'
Api kecil itu habis pelan-pelan, dan keluarga itu masuk ke rumah, dan malam berlalu seperti malam-malam seharusnya berlalu: ada makan malam, ada cerita sekolah, ada Bi Inah yang mengomel soal tomat, ada hujan rintik yang tidak lagi ditakuti siapa pun.
Di kamar tidurnya, Bara menulis satu baris terakhir sebelum tidur — di buku yang sudah tidak bernama Catatan Keamanan lagi, karena ia sendiri yang mengganti sampulnya:
*'CATATAN KELUARGA. Hari ini semua selesai. Besok kami menanam lagi.'*
Dan di kamar utama, sebelum lampu dipadamkan, Reza dan Nayaka melakukan hal yang sudah lama tidak mereka lakukan: tidak membicarakan apa-apa. Bukan karena tidak ada yang tersisa untuk dikatakan, melainkan karena untuk pertama kalinya, tidak ada yang mendesak. Besok tidak membawa sidang. Besok membawa Kamis, dan Kamis membawa kebun, dan kebun membawa tomat yang oleh Bi Inah akan dinilai dengan standar yang lebih kejam dari standar majelis hakim mana pun.
Di dua lapas yang berbeda, dua lelaki membaca di bawah lampu yang tidak pernah padam sempurna. Yang satu membaca buku. Yang satu tidak membaca apa-apa — karena di selnya, untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun, Gilang Pramudya tidak punya apa pun untuk ditonton, dan malam itu ia belajar hal yang paling sederhana dan paling berat: bagaimana rasanya menjadi orang yang ditinggal oleh hidupnya sendiri.
Malam bergerak di atas kota, di atas kebun kecil bekas kolam renang, di atas dua nisan yang berdiri tidak jauh satu sama lain, di atas arsip negara yang disegel rapi. Tidak ada lagi yang mengawasi. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, keluarga itu tidur di dalam rumah yang tidak ditonton siapa-siapa — dan tidur itu nyenyak seperti hadiah yang akhirnya dibuka.