Pemeriksaan saksi dalam sidang Gilang berlangsung empat hari, dan hari-hari itu menjadi semacam parade manusia yang selama dua puluh tahun tidak pernah dianggap penting.
Yanto bersaksi pertama, masih lewat video dari rumah aman — meski ancamannya sudah lama berakhir, kebiasaan hati-hati itu belum. Ia bersaksi bukan tentang Gilang, melainkan tentang pola: bahwa malam sebelum mobil Laras datang ke bengkelnya, ada seseorang yang menelepon menanyakan jadwal buka bengkel. 'Saya ingat karena dia tidak bertanya harga. Orang yang menelepon bengkel tanpa bertanya harga bukan pelanggan, Yang Mulia. Pelanggan selalu bertanya harga dulu.'
'Nomor telepon itu pernah dilacak?' tanya hakim.
'Sudah, Yang Mulia,' jawab jaksa. 'Kartu perdana, dibeli dengan identitas palsu, mati setelah satu panggilan. Pola yang sama dengan telepon ke sekolah anak saksi Yanto bertahun-tahun kemudian.' Ia menoleh ke majelis. 'Orang yang sama, kebiasaan yang sama, jarak empat tahun.'
Fahmi bersaksi dengan map kecilnya — amplop-amplop sisa yang ia simpan, daftar permintaan yang empat tahun mengalir lewat kotak karat. Ia tidak pernah melihat wajah Pak G. 'Tapi saya kenal cara dia menulis, Yang Mulia. Orang yang menulis permintaan dengan kalimat yang tidak bisa disalahpahami itu bukan orang biasa. Itu orang yang sudah seratus kali melihat surat disalahpahami.'
Ibu Lastri bersaksi tentang jadwal sampah. Staf sekolah tentang telepon yayasan palsu. Pemilik kos tentang 'hobi burung'. Dan seorang penjaga warung di Jalur Puncak — ditemukan Dafa setelah seminggu membawa foto dari warung ke warung — bersaksi tentang lelaki pendiam yang empat tahun lalu duduk sepanjang pagi di meja sudut dengan kamera di pangkuan, memesan kopi dua kali, dan pergi tiga menit sebelum terdengar sirene di tikungan bawah.
Pencarian penjaga warung itu sendiri sudah menjadi legenda kecil di tim: Dafa mendatangi tiga puluh sembilan warung di sepanjang jalur itu, membawa dua foto — foto Gilang muda dari album wisuda, dan foto buram dari kamera rumah burung. Tiga puluh delapan warung menggeleng. Warung ketiga puluh sembilan dijaga seorang lelaki tua yang memandang foto itu lama, lalu berkata: 'Orang ini tidak pernah membayar dengan uang pas. Selalu lebih. Orang yang selalu membayar lebih sedang berusaha tidak diingat. Makanya saya ingat.'
'Wajahnya?' tanya jaksa.
'Empat tahun lalu, Pak. Tapi caranya duduk — saya tidak lupa. Dia duduk seperti orang menunggu kereta yang dia tahu jadwalnya.'
Lalu tiba hari Arga Mahesa.
Ia datang dengan jas tahanan dan dengan sesuatu yang baru di wajahnya: bukan lagi penghitungan, melainkan semacam kelelahan yang jujur. Ketika jaksa bertanya apakah ia mengenal terdakwa, Arga menatap Gilang untuk pertama kalinya dari jarak dekat — mata bertemu mata, kaki bertemu tangan.
'Tidak pernah bertemu,' kata Arga. 'Tapi saya bekerja dengannya empat tahun. Setiap kali saya perlu tahu sesuatu yang tidak ada di dokumen, Pak Danu bilang: tanya tukang foto. Dan jawabannya selalu benar. Selalu.' Ia berhenti. 'Saya baru sadar sekarang, di ruangan ini, bahwa saya tidak pernah takut kepada Pak Danu sebesar saya takut kepada orang yang jawabannya selalu benar.'
Laksmi mendapat gilirannya, dan ia menyerang dengan cara yang sudah dipersiapkannya: 'Saudara Arga, Anda bekerja empat tahun dengan 'tukang foto' ini tanpa pernah bertemu. Jadi bagaimana Saudara tahu 'tukang foto' itu adalah klien saya, dan bukan orang lain?'
Arga menjawab tanpa ragu: 'Karena hanya ada satu orang di dunia ini yang jawabannya selalu benar, Bu Pengacara. Kalau klien Ibu bukan dia, maka ada dua orang seperti itu — dan kemungkinan itu lebih menakutkan daripada dakwaan ini.'
Tawa kecil meledak di ruangan sebelum hakim menegur. Laksmi duduk. Dan untuk pertama kalinya, di kursi terdakwa, Gilang Pramudya menunjukkan ekspresi di muka publik: bukan marah, bukan takut — sesuatu yang lebih aneh. Ia tampak, untuk sepersekian detik, *bangga*.
Terakhir, ahli tulisan tangan dan ahli kertas membacakan hasil pemeriksaan timeline *Minggu Terakhir*. Setiap huruf cocok. Setiap serat kertas cocok. Empat baris waktu itu dibacakan di ruang sidang — *19.40. 21.10. 22.00. 04.40* — dan empat angka itu jatuh ke dalam keheningan seperti empat batu ke dalam sumur.
Laksmi mencoba satu langkah terakhir di hadapan ahli: 'Apakah mungkin catatan ini dibuat sesudah kejadian, sebagai fantasi orang yang mengarang perannya sendiri?'
Ahli kertas menjawab dengan ketenangan laboratorium: 'Mungkin saja ditulis sesudahnya, Bu. Tapi tinta ini mengendap di kertas ini dalam periode yang sama dengan peristiwa yang dicatatnya. Fantasi tidak perlu ditulis dengan tinta yang menua tepat waktu. Fantasi bisa ditulis kapan saja.'
'Empat baris ini,' kata jaksa menutup hari itu, 'adalah tulisan tangan terdakwa, tentang jam-jam terakhir seorang perempuan, ditulis oleh orang yang mengaku tidak tahu apa-apa. Majelis dapat menimbang sendiri berapa banyak ketidaktahuan yang muat dalam tulisan sedetail ini.'
Di barisan pengunjung, Nayaka duduk dengan tangan Reza di genggamannya, dan berbisik tanpa menoleh: 'Empat tahun aku mencari orang yang menulis jam-jam itu. Sekarang dia duduk sepuluh meter dari kita, dan dia masih menghitung.'
'Biarkan dia menghitung,' bisik Reza. 'Hitungan terakhirnya akan dihitung hakim.'
Malam itu, di rumah, mereka tidak membicarakan sidang di depan Bara — pakta lama itu dijaga. Tapi setelah anak itu tidur, Nayaka berdiri di perpustakaan, di depan foto Laras, dan menceritakan hari itu kepada perempuan di bingkai itu seperti orang melapor kepada atasan yang sudah pensiun.
'Hari ini mereka membaca jam-jammu,' katanya pelan. 'Sembilan belas empat puluh, ketika kau menelepon dan menawarkan kebaikan yang tidak diterima. Dua puluh satu sepuluh, ketika kebaikan itu dibalas dengan perintah. Kau ada di keempatnya, Laras. Dan besok, orang yang memerintahkan akan duduk di kursi saksi.' Ia menyentuh tepi bingkai itu dengan satu jari, persis seperti yang pernah dilakukan Bara. 'Tidak ada yang seharusnya berakhir seperti ini. Tapi kalau harus berakhir, biarlah berakhir dengan semua orang mengatakan yang sebenarnya.'
Di ambang pintu, Reza mendengarkan tanpa masuk. Ia belajar dari Nayaka bahwa beberapa percakapan bukan untuk disela, melainkan untuk dijaga agar selesai.