Sidang perdana Gilang Pramudya digelar tiga bulan setelah penangkapannya, di gedung pengadilan yang sama, di ruang sidang yang sama — dan bagi banyak orang yang hadir, rasanya seperti menonton babak ketiga dari sebuah lakon yang tokoh-tokohnya sudah mereka kenal terlalu dalam.
Media menyambutnya dengan lapar yang sudah tidak sama seperti di sidang Danu. Kamera tetap berkerumun, tapi nada pemberitaan sudah berubah: bukan lagi skandal, melainkan keingintahuan yang nyaris antropologis — orang macam apa yang mengarsipkan keluarga orang lain selama dua puluh tahun? Majalah-majalah menurunkan liputan panjang tentang 'orang tak terlihat'. Dua mahasiswa psikologi mengajukan izin penelitian dan ditolak. Di internet, namanya menjadi bahan perdebatan yang melelahkan, dan karena itu tepat: kehidupan yang dihabiskan menonton akhirnya ditonton.
Danu sudah divonis. Arga sudah diadili dan menerima lima belas tahunnya dengan kepala tertunduk, ringan karena kerja samanya. Sekarang tersisa satu nama, satu kursi terdakwa, dan satu pertanyaan hukum yang menggantung di atas semuanya: bisakah negara menghukum mata?
Dakwaan dibacakan empat puluh menit. Turut serta pembunuhan berencana, dua korban. Pemalsuan identitas. Pelanggaran privasi berlanjut. Jaksa menyebut Gilang 'mata dari seluruh rangkaian' — frasa yang langsung menjadi judul berita di mana-mana.
Lalu Laksmi berdiri untuk eksepsi, dan ruangan itu mendapat pemandangan langka: seorang pengacara terbaik membela perkara yang ia sendiri tahu hampir mustahil, dengan keanggunan yang tidak berkurang sedikit pun.
'Yang Mulia,' katanya, 'dakwaan ini pada dasarnya meminta majelis menghukum sebuah arsip. Kertas tidak berdiri di tikungan. Foto tidak memutus rem. Klien saya adalah orang sakit yang mengoleksi kehidupan orang lain — itu pantas diobati, bukan dipidanakan pembunuhan. Tidak ada satu pun alat bukti yang menempatkannya sebagai pelaku. Ada, atau tidak ada?'
Ia melanjutkan selama dua puluh menit, rapi dan tajam: tentang batas antara mengetahui dan melakukan, tentang kriminalisasi kebiasaan buruk, tentang negara yang tidak boleh menghukum pikiran. Setiap poinnya logis. Setiap poinnya benar secara abstrak. Dan setiap poinnya jatuh di ruangan yang sudah membaca timeline empat baris itu.
Jaksa menjawab singkat: 'Ada. Dan kami akan membuktikannya di pemeriksaan pokok perkara. Kami tidak menuntut pikiran terdakwa, Yang Mulia. Kami menuntut dua puluh dua tahun perbuatannya.'
Eksepsi ditolak seminggu kemudian. Sidang dilanjutkan ke pemeriksaan saksi.
Kabar itu sampai juga ke kantor yayasan, tempat dua belas mahasiswa mengikutinya lewat berita di sela kuliah daring mereka. Nadia memasang satu aturan baru di papan kantor, ditulisnya dengan spidol dan tanpa konsultasi: *'Sidang adalah urusan orang lain. Angka adalah urusan kita.'* Tapi sore itu, ketika kantor sudah sepi, ia mengetuk pintu ruang kerja Nayaka dan berdiri di ambangnya dengan keberanian yang masih mentah seperti dulu.
'Bu. Boleh tanya satu hal yang bukan pekerjaan?'
'Boleh.'
'Orang yang diadili itu... dia orang yang dulu mengawasi almarhumah kakak Ibu?' Nadia menelan ludah. 'Saya cuma mau tahu: Ibu tidak takut? Kalau saya jadi Ibu, saya mungkin sudah pindah kota.'
Nayaka memandang perempuan muda itu lama. 'Nadia, takut itu bukan penyakit yang harus disembuhkan. Takut itu tanda baca. Dia memberi tahu kita bagian mana dari kalimat yang penting.' Ia menutup laptopnya. 'Aku takut setiap hari selama empat tahun. Tapi aku tidak pernah lari ke mana pun, karena yang dikejar bukan aku — yang dikejar adalah kebenaran yang sedang kutemani. Kamu tidak bisa lari dari sesuatu yang sedang kamu gendong.'
Nadia mengangguk pelan, dan keluar membawa satu kalimat yang kelak akan ia tulis di buku catatannya sendiri: *jangan lari dari sesuatu yang sedang kamu gendong.*
Di rumah, keluarga Pradipta menghadapi pertanyaan yang sudah tidak bisa ditunda: apakah Bara perlu tahu?
Hendra punya pendapatnya sendiri, dan ia menyampaikannya saat makan malam Jumat — dengan caranya yang tidak berbasa-basi. 'Anak itu sudah masuk berkas negara sebelum umurnya sembilan,' katanya. 'Dia melihat apa yang tidak dilihat orang dewasa. Kalian bisa menyembunyikan sidang ini darinya, tapi kalian tidak bisa menyembunyikan dari anak yang sudah tahu cara mencatat keanehan.'
'Bukan menyembunyikan, Pak,' jawab Nayaka. 'Memilihkan ukuran.'
'Ukuran,' ulang Hendra, lalu mengangguk pelan. 'Baik. Itu kata yang lebih benar dari yang Bapak pakai.'
Mereka membicarakannya di teras kemudian, malam itu, dengan cara mereka yang biasa — jujur di dalam, sederhana di luar.
'Dia sudah tahu orang jahatnya tertangkap,' kata Reza. 'Dia yang menemukan satu petunjuknya. Anak delapan tahun yang namanya masuk berkas kepolisian sebagai pelapor tidak bisa kita perlakukan seperti tidak tahu apa-apa.'
'Tapi dia tidak perlu tahu dinding kamar itu,' kata Nayaka tegas. 'Tidak perlu tahu ada dua ratus foto. Dia tahu versi yang benar, bukan versi yang lengkap. Kelengkapan itu hak orang dewasa; kebenaran itu hak semua umur.'
Maka yang diberitahukan kepada Bara adalah ini: orang yang suka memotret sudah diadili, polisi menang, dan buku Catatan Keamanannya boleh pensiun kalau dia mau.
'Diadili itu maksudnya gimana?' tanya Bara.
'Ada orang pintar yang memeriksa semua bukti, lalu memutuskan hukumannya,' jawab Nayaka. 'Seperti guru, tapi untuk orang dewasa.'
'Kalau dia bilang tidak bersalah?'
'Buktinya yang bicara. Bukan dia.'
Bara mengangguk, mencernanya dengan cara anak-anak mencerna: disimpan dulu, ditanyakan lagi dua minggu kemudian di waktu yang tidak terduga. Lalu ia mempertimbangkan tawaran tentang bukunya dengan serius. 'Boleh pensiun sebentar saja,' katanya akhirnya. 'Kalau ada yang aneh lagi, aku buka lagi.'
'Sepakat,' kata Reza, dan mereka bersalaman seperti dua pejabat.
Tapi malam itu, setelah semua orang tidur, Bara menulis satu halaman terakhir di buku dinosaurusnya — bukan catatan keamanan, melainkan sesuatu yang lain, yang akan ditemukan Nayaka berminggu-minggu kemudian dan disimpannya di laci bersama amplop surat Laras:
*'Penjahat sudah ketangkap semua. Tapi aku tetap mau catat, bukan karena takut. Karena sekarang aku tahu: orang yang tidak dicatat bisa jadi jahat. Jadi aku mau jadi anak yang dicatat — dengan cara yang baik. Besok aku mau mulai dengan nilai matematikaku.'*